Hong Kong Kembali Jadi Pasar IPO Terbesar Dunia, Kalahkan Nasdaq dan NYSE di Awal 2026

Hongkong_ Metropole zwischen Tradition und Moderne

Pasar initial public offering (IPO) Hong Kong membuka 2026 dengan performa terkuat dalam 5 tahun terakhir. Sepanjang kuartal pertama, bursa Hong Kong (HKEx) mencatatkan dana yang terhimpun sebesar HK$109,9 miliar dari 40 listing baru, naik 489% dari sisi dana dan 167% dari sisi jumlah listing dibanding periode yang sama tahun lalu menurut laporan KPMG China yang dirilis 9 April 2026.

Dengan angka itu, Hong Kong kembali menduduki peringkat pertama bursa IPO terbesar dunia berdasarkan total dana yang dihimpun, mengalahkan Nasdaq di posisi kedua (US$5,65 miliar dari 18 listing) dan NYSE di posisi ketiga (US$4,95 miliar dari 9 listing), berdasarkan data LSEG yang dikutip South China Morning Post.

AI dan A+H Listing Menjadi PendorongUtama

Dua segmen mendominasi kinerja IPO Hong Kong di Q1. Pertama, listing A+H. Skema di mana perusahaan yang sudah tercatat di bursa daratan China (saham A) sekaligus melakukan IPO di Hong Kong (saham H).

Dari 40 listing baru, 15 di antaranya adalah A+H listing, menyumbang 60% dari total dana yang terhimpun. Sebagai perbandingan, di Q1 2025 hanya ada satu A+H listing.

Kedua, perusahaan teknologi spesialis yang listing di bawah aturan Chapter 18C, jalur listing khusus yang dibuka HKEx untuk perusahaan teknologi pra-profit, mencatatkan enam IPO senilai total HK$19,5 miliar, atau sekitar 18% dari keseluruhan dana Q1.

Biren Technology, produsen chip GPU asal Shanghai, menjadi listing pertama 2026 sekaligus yang paling mencolok. Sahamnya naik 76% pada hari perdagangan pertama, 2 Januari 2026, setelah IPO nya oversubscribed hingga 2.348 kali di tranche ritel. Menjadikannya tercatat sebagai IPO paling banyak diminati investor ritel Hong Kong dalam setahun terakhir. Biren menghimpun HK$5,58 miliar, menjadi transaksi terbesar yang pernah selesai di bawah Chapter 18C.

Sejumlah nama besar lainnya menyusul di bulan-bulan berikutnya, termasuk MiniMax, startup AI asal Shanghai yang didukung Alibaba dan Tencent yang menghimpun HK$4,8 miliar.

Di balik lonjakan angka ini ada pergeseran alokasi modal global yang signifikan. CEO HKEx Bonnie Chan Yiting, berbicara di HSBC Global Investment Summit pada 15 April 2026, menyebut investor internasional tengah aktif membangun kembali eksposur mereka ke China setelah bertahun-tahun underinvestasi. “The world has realised that they are underinvested in China,” kata Chan. Ia mencatat bahwa pada 2025, minat cornerstone investor dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia lainnya tercatat sangat kuat.

Tren ini sejalan dengan data pipeline. Per akhir Maret 2026, lebih dari 400 perusahaan memiliki aplikasi listing aktif di HKEx, angka tertinggi dalam beberapa tahun. KPMG memperkirakan Hong Kong akan menghimpun HK$350 miliar sepanjang 2026, sementara PwC memberi estimasi serupa di kisaran HK$320–350 miliar.

Namun persaingan tidak akan mudah. Analis dari UBS memperingatkan bahwa dominasi Hong Kong di sepanjang tahun masih perlu diuji terutama jika mega IPO Amerika seperti SpaceX dan OpenAI akhirnya terealisasi, yang berpotensi menyedot capital flows global dalam jumlah besar ke bursa AS.

Reformasi Bursa Ikut Mendorong Daya Tarik

Kenaikan ini tidak terlepas dari serangkaian reformasi yang dilakukan HKEx dalam dua tahun terakhir. Pada Agustus 2025, HKEx mewajibkan minimal 40% saham IPO dialokasikan ke tranche bookbuilding institusional, langkah yang menekan dominasi investor ritel dan mendorong penetapan harga lebih rasional. Hasilnya, performa saham pasca listing cenderung lebih stabil.

Maret 2026, HKEx juga menerbitkan consultation paper yang mengusulkan penyempurnaan persyaratan listing untuk perusahaan dengan struktur weighted voting rights (WVR) dan penyederhanaan proses dual-primary listing bagi emiten yang sudah tercatat di bursa luar negeri.

Langkah ini ditujukan untuk menarik lebih banyak perusahaan teknologi global dan saham China yang saat ini tercatat di Nasdaq maupun NYSE yang menghadapi risiko delisting akibat tekanan regulasi AS terhadap emiten China.

 

Sumber: KPMG China, SCMP, LSEG Data and Analytics, Reuters, Fortune — April 2026.

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.