AirAsia X Bhd resmi menandatangani perjanjian pembelian 150 unit Airbus A220-300 di pabrik Airbus Canada di Mirabel, Quebec. Menjadikan deal ini sebagai order tunggal terbesar dalam program A220 sekaligus mendorong total order A220 melampaui 1.000 unit firm order untuk pertama kalinya.
Penandatanganan dilakukan langsung oleh co founder Capital A dan penasihat AirAsia Group Tony Fernandes, disaksikan CEO Commercial Aircraft Airbus Lars Wagner dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney yang menyebut ini sebagai “order terbesar untuk pesawat berdesain dan diproduksi Kanada dalam sejarah.”
Berdasarkan data Ishka yang menilai satu A220-300 di harga pasar US$45 juta per unit, total deal ini berpotensi bernilai sekitar US$6,8 miliar meski dalam praktiknya maskapai besar biasanya mendapat diskon signifikan untuk order dalam jumlah besar. Airbus sendiri sudah berhenti mempublikasikan harga resmi (list price) sejak 2021.
AirAsia menjadi pelanggan baru program A220, seluruh armada AirAsia sebelumnya dibangun di atas keluarga A320. Langkah ini menandai perubahan strategi armada yang signifikan: AirAsia kini akan mengoperasikan dua keluarga pesawat berbeda untuk melayani rute dengan karakteristik berbeda. Maskapai ini juga menjadi launch customer untuk konfigurasi kabin baru A220-300 berkapasitas 160 kursi yang dimungkinkan dengan penambahan pintu darurat overwing ekstra.
A220-300 menawarkan kombinasi yang sulit ditandingi di kelasnya, Jangkauan hingga 3.600 nautical miles (6.700 km), konsumsi bahan bakar terendah di kelasnya, dan kabin terlebar per penumpang untuk pesawat narrowbody ukuran ini. Untuk AirAsia yang berambisi membuka rute tipis yang tidak ekonomis dioperasikan dengan A320, kapasitas 160 kursi dan efisiensi bahan bakar A220 menjadi proposisi yang menarik.
Fernandes menyebut keputusan ini sebagai langkah “bold” yang selaras dengan strategi jaringan baru AirAsia. “Airbus dan tim AirAsia telah bekerja tanpa henti untuk mencapai kesepakatan bersejarah ini, yang sepenuhnya selaras dengan strategi jaringan baru maskapai,” kata Fernandes. Pengiriman pertama diproyeksikan pada kuartal I 2028.
Menariknya, ini adalah revisi sikap AirAsia terhadap pesawat ini. Beberapa tahun lalu, saat Bombardier masih memiliki program CSeries (pendahulu A220), AirAsia menolak pesawat tersebut. Kini, di bawah Airbus yang mengambil alih program pada 2018 dan menatanya kembali, AirAsia memilih menjadi salah satu pelanggan terbesarnya.
Deal ini relevan dari beberapa angle sekaligus. Untuk industri penerbangan Asia Tenggara, masuknya A220 ke armada AirAsia membuka potensi rute-rute baru yang selama ini tidak terlayani seperti rute pendek dan menengah dengan demand yang tidak cukup untuk A320 tapi cukup untuk pesawat yang lebih kecil. Ini bisa mempercepat konektivitas intra-ASEAN.
Untuk Airbus, deal ini adalah kemenangan besar di Asia sebagai kawasan yang selama ini didominasi pesanan A320neo family dan Boeing 737 MAX. Menempatkan A220 di tangan AirAsia berarti membuka pintu bagi operator low cost carrier lain di kawasan untuk mempertimbangkan pesawat yang sama.
Per akhir Maret 2026, 501 unit A220 sudah dikirimkan ke 25 operator di seluruh dunia. Dengan order AirAsia ini, program A220 kini memiliki momentum yang semakin solid untuk menjadi pesawat regional dominan di segmen 100–160 kursi secara global.
Sumber: Airbus Press Release (Mirabel, 6 Mei 2026), Bloomberg, Free Malaysia Today, AeroTime, Aviation A2Z
Posted in Lensa Asia
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.