Year of Asia, ASICS Masuk Pasar Badminton dan Sepak Bola Asia Tenggara

picture by AI
picture by AI

ASICS Corporation, produsen alas kaki olahraga asal Kobe, Jepang, memperluas jejaknya di Asia Tenggara dengan meluncurkan dua lini produk baru yang disesuaikan dengan olahraga paling populer di kawasan. Sepatu badminton untuk pasar Malaysia dan Singapura, serta sepatu sepak bola untuk Indonesia. Langkah ini diumumkan Rabu (23/4/2026) dan menjadi bagian dari strategi ASICS yang mendeklarasikan 2026 sebagai “Year of Asia”.

Pilihan kategori ini bukan keputusan acak. Badminton adalah olahraga nasional Malaysia dan salah satu yang paling populer di Singapura. Sepak bola adalah olahraga terbesar Indonesia dengan basis penggemar puluhan juta. Dengan masuk ke dua kategori ini, ASICS secara langsung menyasar olahraga yang paling banyak dimainkan secara aktif di masing-masing pasar, bukan hanya ditonton.

Asia Tenggara Jadi Pasar Paling Menguntungkan

Pengumuman ini datang di tengah momentum bisnis ASICS di kawasan yang terus menguat. Laporan keuangan resmi ASICS untuk tahun fiskal 2025 menunjukkan penjualan di segmen Southeast and South Asia naik 33,4% menjadi ¥49,8 miliar (sekitar US$330 juta), dengan laba segmen tumbuh 47,6% menjadi ¥10,95 miliar. Ini merupakan pertumbuhan yang jauh melampaui rata-rata global ASICS.

Nikkei Asia menyebut Southeast Asia sebagai pasar luar negeri paling menguntungkan ASICS per April 2026 melampaui Eropa dalam hal margin keuntungan segmen, meski Eropa masih lebih besar dalam nilai penjualan absolut. Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam disebut sebagai pasar-pasar yang tumbuh lebih dari 30% secara tahunan.

Sebagai konteks yang lebih luas,  sepanjang 2025 ASICS membukukan tahun terbaik dalam sejarahnya. Total penjualan naik 19,5% menjadi ¥810,9 miliar, sementara laba operasional melonjak 42,4% menjadi ¥142,5 miliar dengan margin operasional 17,6%, tertinggi dalam sejarah perusahaan. Untuk 2026, ASICS menargetkan penjualan ¥950 miliar dan laba operasional ¥171 miliar.

Strategi “Year of Asia”

Dalam rencana bisnisnya untuk 2026, manajemen ASICS secara eksplisit menyebut kawasan Asia terutama Asia Tenggara, sebagai prioritas utama. Target yang ditetapkan adalah mencapai penjualan US$100 juta di masing-masing negara Asia Tenggara dalam jangka pendek, seiring pasar lari yang terus berkembang di kawasan.

ASICS juga memanfaatkan momentum Aichi-Nagoya 2026 Events, rangkaian acara olahraga internasional besar di Jepang tahun ini untuk memperkuat citra brand di Asia. Ini adalah bagian dari pendekatan ASICS yang memadukan performa teknis produk dengan kedekatan kultural terhadap pasar.

Di Asia Tenggara, ASICS bersaing tidak hanya dengan Nike dan Adidas yang sudah lama dominan, tapi juga dengan brand China seperti Anta dan Li-Ning yang semakin agresif masuk ke kawasan dengan harga kompetitif.

Masuknya ASICS ke segmen badminton dan sepak bola adalah upaya membuka kategori baru di luar sepatu lari, domain di mana ASICS sudah memiliki posisi kuat tapi penetrasinya terbatas pada segmen premium.

Indonesia: Pasar dengan Potensi Terbesar

Dari semua negara Asia Tenggara, Indonesia memiliki ukuran pasar terbesar sekaligus potensi yang paling signifikan untuk ASICS. Dengan populasi 280 juta jiwa dan penetrasi sepak bola yang sangat dalam di semua kelas sosial, Indonesia adalah pasar yang belum sepenuhnya digarap oleh brand alas kaki premium Jepang.

Data ecommerce dari TMO Group menunjukkan bahwa Indonesia menjadi pendorong utama penjualan sepatu olahraga di Asia Tenggara dengan sepatu lari sebagai subkategori terbesar, diikuti sepatu sepak bola dan futsal.

Konsumen Indonesia di segmen premium cenderung mengutamakan keaslian produk dan kualitas material di atas diskon, karakteristik yang menguntungkan brand seperti ASICS yang memposisikan diri di segmen performance.

Untuk ASICS, sepatu sepak bola di Indonesia bukan hanya produk baru ini adalah pintu masuk ke kategori yang bisa membuka penetrasi brand yang jauh lebih luas dari sekadar komunitas pelari.

Persaingan yang Semakin Ketat

Meski begitu ASICS bukan satu-satunya yang mengincar kawasan ini. Anta Sports dari China sudah lebih dulu mengencangkan cengkeramannya di Asia Tenggara melalui ambassador bintang NBA dan ekspansi toko fisik di Thailand, Filipina, dan Malaysia. Li Ning mengikuti strategi serupa dengan harga yang lebih kompetitif.

Di segmen badminton khususnya, ASICS akan berhadapan dengan Yonex yang merupakan brand Jepang yang sudah lama mendominasi segmen ini secara global dan memiliki loyalitas brand yang sangat kuat di komunitas badminton Asia Tenggara. Masuk ke kategori yang sudah memiliki pemimpin pasar yang kuat membutuhkan strategi diferensiasi yang lebih dari sekadar nama brand.

Tapi ASICS memiliki satu keunggulan krusial yaitu reputasi teknologi alas kaki performa yang sudah teruji. Jika sepatu badminton dan sepatu sepak bola ASICS bisa membuktikan performa teknisnya di lapangan (dan diterima oleh komunitas olahraga setempat) kawasan ini bisa menjadi kontributor laba terbesar ASICS di luar Jepang dalam beberapa tahun ke depan.

Sumber: Nikkei Asia, ASICS Corp. Annual Report FY2025, SGB Media, World Footwear, SGI Europe, TMO Group — Februari–April 2026.

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.