Grup Djarum Membangun Peternakan Sapi Perah Terbesar Indonesia di Brebes

ChatGPT Image May 6, 2026, 03_17_36 PM

PT Global Dairi Bersama (GDB), anak usaha Savoria Group di bawah Grup Djarum mengumumkan rencana membangun peternakan sapi perah terintegrasi terbesar di Indonesia di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Proyek ini dirancang di atas lahan seluas 710 hektare dengan kapasitas 30.000 ekor sapi dan target produksi susu hingga 180.000 ton per tahun, setara sekitar 18% dari total kebutuhan nasional saat ini.

Pengumuman disampaikan CEO Savoria Group Ihsan Mulia Putri dalam audiensi bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Semarang pada 16 April 2026, disaksikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda. Persiapan lahan dijadwalkan mulai Juni 2026, konstruksi ditargetkan selesai akhir 2027, dan produksi komersial pertama direncanakan pada Desember 2027.

Skala yang Belum Pernah Ada

Proyek ini bukan sekadar perluasan usaha biasa. Fasilitas di Brebes dirancang empat kali lebih besar dari peternakan GDA yang sudah beroperasi di Subang, Jawa Barat yang kini menampung sekitar 6.000 ekor sapi dan sudah menghasilkan susu segar merek MilkLife sejak 2020.

Ihsan menyebut konsep yang diusung adalah close loop system, limbah ternak diolah menjadi biogas untuk energi dan pupuk organik sementara 2.000 hektare lahan hijauan pakan akan disiapkan di Brebes dan kabupaten penyangga untuk memenuhi kebutuhan pakan 30.000 ekor.

Di luar itu, program penggemukan sapi pejantan sebanyak 7.000 ekor per tahun juga masuk dalam rencana kawasan. “Ini bukan sekadar peternakan, tapi ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir,” kata Ihsan dalam audiensi tersebut.

Dirjen PKH Agung Suganda menyebut proyek ini akan menjadi yang terbesar di Indonesia melampaui fasilitas mana pun yang ada saat ini. Bila terealisasi, produksi dari Brebes saja sudah cukup untuk menggandakan output susu Jawa Tengah dan mendorong provinsi itu naik ke peringkat kedua produsen susu nasional.

Mengapa Ini Penting bagi Indonesia

Indonesia saat ini mengimpor sekitar 80% kebutuhan susunya. Produksi dalam negeri hanya berkisar 1 juta ton per tahun, sementara kebutuhan nasional sudah menyentuh 4,7 juta ton. Program Makan Bergizi Gratis yang menjangkau puluhan juta penerima membuat gap ini makin lebar. Kebutuhan susu nasional diproyeksikan melonjak ke kisaran 8,7 juta ton dalam beberapa tahun ke depan.

Pemerintah sudah merespons dengan rencana impor sapi perah besar-besaran dari Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, Brasil, dan Meksiko. Tapi impor sapi hanya menjawab sebagian masalah karena yang dibutuhkan adalah fasilitas produksi berskala besar yang bisa menampung dan mengolah susu dalam volume tinggi secara konsisten. Maka Mega farm Brebes masuk tepat di celah itu.

Kementan memberikan dukungan penuh, termasuk fasilitasi pembiayaan, penyediaan bibit sapi impor, infrastruktur, dan jaminan penyerapan hasil produksi. Gubernur Ahmad Luthfi bahkan mendorong agar proses bisa dimulai lebih cepat dengan groundbreaking pada Mei 2026.

Savoria dan Logika Integrasi Hulu-Hilir

Savoria Group berdiri sejak 2016 sebagai konglomerasi FMCG di bawah Djarum Group. Dalam lima tahun terakhir, penjualannya tumbuh sepuluh kali lipat dengan portofolio merek yang mencakup 5DAYS, Kopi Tubruk Gadjah, Caffino, Fox’s, HydroPlus, dan MilkLife, serta akuisisi SariWangi dari Unilever Indonesia pada awal 2026.

Di segmen susu, Savoria sudah menjalankan strategi from farm to glass melalui PT Global Dairi Alami di Subang mulai dari peternakan, pengolahan, hingga distribusi ke lebih dari 150 titik di seluruh Indonesia dan ekspor ke sekitar 40 negara. Brebes adalah lompatan skala berikutnya dari model yang sudah terbukti berjalan di Subang.

Dampak ekonomi lokal yang dijanjikan juga signifikan. 5.000 petani dilibatkan untuk penyediaan pakan, 8.000 peternak lokal dirangkul dalam program kemitraan, dan ribuan lapangan kerja langsung terbuka di kawasan. Bagi Brebes yang selama ini lebih dikenal sebagai sentra bawang merah, ini adalah perubahan struktur ekonomi yang besar.

Timeline yang Agresif

Jarak dari pengumuman ke produksi komersial pertama sekitar 20 bulan, angka yang sangat ketat untuk proyek seukuran ini. Persiapan lahan mulai Juni 2026, berarti konstruksi kandang, pabrik pengolahan, instalasi biogas, dan infrastruktur pendukung harus selesai dalam waktu kurang dari satu setengah tahun.

Tantangan terbesarnya bukan pada konstruksi, melainkan pada pengadaan sapi. Untuk mengisi 30.000 ekor dibutuhkan impor dalam gelombang besar dan cepat dari beberapa negara sekaligus dengan risiko kesehatan hewan seperti PMK dan LSD yang harus dikelola sejak karantina.

Kementan sudah menyiapkan dukungan bibit sapi dari Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Brasil, tapi sinkronisasi logistik impor skala ini belum pernah diuji di Indonesia.

Yang belum diumumkan secara publik adalah nilai investasi proyek ini dalam angka. Untuk skala 710 hektare dengan fasilitas pengolahan terintegrasi dan kapasitas 30.000 ekor, estimasi umum di industri peternakan sapi perah skala besar berada di kisaran triliunan rupiah. Ketiadaan angka ini mengisyaratkan bahwa struktur pendanaan tentang apakah dari ekuitas internal Djarum, pinjaman perbankan, atau konsorsium, masih dalam finalisasi.

Sumber: ANTARA, Kompas, Bisnis.com, Ditjen PKH Kementan, Humas Pemprov Jateng, SWA — 16–17 April 2026.

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.