Beijing Blokir Akuisisi Manus oleh Meta dan Tutup Celah “Singapore Washing”

ChatGPT Image May 6, 2026, 05_55_51 PM

Dalam pernyataan satu baris yang dikeluarkan Senin (27/4/2026), National Development and Reform Commission (NDRC) China secara resmi memblokir akuisisi Meta Platforms atas Manus yang merupakan startup AI agentic berbasis Singapura yang didirikan oleh warga China  dan memerintahkan kedua pihak untuk membatalkan transaksi yang sudah hampir selesai itu.

“Keputusan diambil sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku,” tulis NDRC dalam notisnya, tanpa elaborasi lebih lanjut. Meta tidak memberikan komentar segera setelah pengumuman. Saham Meta turun sekitar 0,2% dalam perdagangan pre-market.

Keputusan ini datang di tengah situasi yang sangat rumit ketika deal senilai US$2 miliar ini sudah dalam tahap penyelesaian. Karyawan Manus sudah bergabung ke Meta dan berkantor di Singapura. Uang sudah berpindah tangan. Investor lama termasuk Tencent, ZhenFund, dan Hongshan sudah menerima hasil penjualan mereka. Kini Beijing memerintahkan seluruh transaksi itu untuk di-unwind. Mekanisme teknisnya belum jelas.

Kronologi: Dari Fenomena ke Perseteruan Geopolitik

Manus adalah salah satu startup AI yang paling dibicarakan di dunia pada 2025. Platform AI agentic ini yang menerima instruksi berbentuk tujuan lalu mengeksekusi alur kerja multi langkah secara mandiri, viral secara global tak lama setelah diluncurkan. Dalam hitungan bulan, Manus melampaui US$100 juta annual recurring revenue, dengan run rate termasuk usage revenue diklaim mencapai US$125 juta.

Juli 2025: Manus memindahkan seluruh staf berbasis China ke Singapura, memutus puluhan posisi di China dalam prosesnya. Langkah ini adalah bagian dari strategi yang kemudian dikenal sebagai “Singapore washing” memindahkan domisili hukum dan operasional ke Singapura untuk mengakses modal Barat sambil mempertahankan akar di China.

Desember 2025: Meta mengumumkan akuisisi Manus. Beijing langsung bereaksi membuka investigasi multi lembaga yang dipimpin NDRC dan melibatkan Kementerian Perdagangan. Inti pertanyaan regulatornya: apakah transaksi ini merupakan transfer kemampuan teknologi canggih, data, dan personel yang berimplikasi keamanan nasional?

Maret 2026: Co-founder Manus Xiao Hong dan Ji Yichao dilaporkan Financial Times dilarang meninggalkan China selama proses investigasi berlangsung.

27 April 2026: NDRC secara resmi memblokir deal dan memerintahkan pembatalan.

Akhir dari “Singapore Washing”

Yang membuat keputusan ini penting melampaui satu transaksi adalah pesan yang dikirimkan Beijing: pindah domisili ke Singapura atau yurisdiksi lain tidak cukup untuk lolos dari pengawasan China atas startup AI yang didirikan oleh warga China.

Selama beberapa tahun terakhir, model “Singapore washing” telah menjadi strategi populer di ekosistem startup teknologi China. Perusahaan memindahkan entitas hukum ke Singapura, merekrut talenta lokal, dan memposisikan diri sebagai perusahaan internasional sambil mempertahankan tim inti, infrastruktur, dan akar operasional di China. Dengan struktur ini, mereka berharap bisa mengakses modal AS dan jalur exit ke perusahaan Barat tanpa hambatan regulasi dari Beijing.

Manus adalah kasus paling nyata dari strategi ini dan kini menjadi bukti bahwa strategi itu tidak lagi berhasil. NDRC secara eksplisit menyebut bahwa regulasi yang ditetapkan bertujuan mencegah modal AS masuk ke sektor teknologi yang dianggap sensitif secara strategis. Dalam dokumen terpisah, Bloomberg melaporkan bahwa Beijing juga bergerak melarang “red chip” structures perusahaan China yang diinkorporasi di luar negeri dari listing di Bursa Hong Kong.

Bersamaan, StepFun yang merupakan startup AI yang sedang mempertimbangkan IPO senilai US$500 juta di Hong Kong sedang dalam proses membongkar entitas luar negerinya untuk memenuhi persyaratan regulasi baru.

Komplikasi untuk Meta dan Implikasi Lebih Luas

Bagi Meta, ini bukan hanya kehilangan US$2 miliar. Manus seharusnya menjadi lompatan besar Meta dalam persaingan AI agentic segmen yang semakin panas dengan hadirnya produk serupa dari OpenAI, Google DeepMind, dan Anthropic. Tanpa Manus, Meta harus melanjutkan pengembangan AI agentic dari internal, dalam persaingan yang semakin ketat.

Keputusan Beijing ini juga mengirimkan sinyal dingin ke seluruh ekosistem startup AI China yang selama ini berharap bisa menjalankan strategi internasional serupa. Investor ventura dan pendiri startup kini harus memperhitungkan risiko regulasi lintas yurisdiksi secara jauh lebih serius bahkan ketika aset secara legal sudah berada di luar China.

Lebih jauh, timing keputusan ini dijatuhkan hanya beberapa minggu sebelum jadwal pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, menjadikannya sinyal geopolitik yang sulit diabaikan.

Satu hal yang pasti bahwa ekosistem AI global kini beroperasi di bawah dua rezim regulasi yang semakin tidak kompatibel. Washington melarang investor AS mendanai startup AI China secara langsung. Beijing melarang startup AI China dijual ke perusahaan Barat  bahkan jika sudah pindah domisili ke Singapura.

Di antara dua hambatan ini, ruang gerak bagi startup AI yang ingin bermain di dua ekosistem sekaligus menyempit drastis. Manus, dengan segala pencapaiannya, menjadi korban paling nyata dari kontradiksi itu.

 

Sumber: Bloomberg, CNBC, Nikkei Asia, Business Standard, TechNode, The Information, Financial Times 27 April 2026.

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.