China mulai mengimplementasikan kebijakan zero tariff untuk 100% lini tarif dari 53 negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengan Beijing, efektif 1 Mei 2026. Kebijakan ini berlaku selama dua tahun hingga 30 April 2028, dan menjadikan China sebagai ekonomi besar pertama di dunia yang secara unilateral membuka pasarnya ke seluruh benua Afrika tanpa syarat politik.
Satu negara yang dikecualikan adalah Eswatini, satu-satunya negara Afrika yang masih mengakui Taiwan.
Pengumuman resmi dibuat Presiden Xi Jinping pada 14 Februari 2026 di African Union Summit ke-39. “Pintu pasar konsumen terbesar kedua di dunia kini terbuka bebas tarif tanpa kondisi politik yang menyertainya,” tulis Xinhua dalam laporannya, 1 Mei 2026.
Kebijakan hari ini bukan dari nol. China sudah lebih dulu memberikan zero tariff kepada 33 negara Afrika paling miskin (LDC) sejak Desember 2024 dan kebijakan itu disambut positif oleh pasar. Kopi Ethiopia dan anggur Afrika Selatan adalah dua produk yang paling cepat mengisi rak pasar China setelah kebijakan LDC berlaku.
Kini, kebijakan itu diperluas ke 20 negara tambahan termasuk Nigeria, Afrika Selatan, Mesir, Algeria, dan Kenya sehingga total 53 negara kini mendapat akses bebas tarif ke pasar China.
Impor pertama yang masuk 24 ton apel Afrika Selatan yang tiba di Pelabuhan Waigaoqiao, Shenzhen — menghemat bea masuk 10% yang sebelumnya berlaku. “Ini manfaat nyata,” kata Luo Shengcong, General Manager Shenzhen Kin Shing Yip International Agent Co., menyebut penghematan tarif sekitar 20.000 yuan (~US$2.929) dari satu pengiriman itu.
Yang membedakan kebijakan ini dari program serupa milik Barat adalah absennya syarat politik. Program AGOA (African Growth and Opportunity Act) milik Amerika Serikat mensyaratkan evaluasi tahunan berbasis tata kelola pemerintahan dan hak asasi manusia dan negara yang dinilai tidak memenuhi syarat bisa dicabut aksesnya. Skema EBA (Everything But Arms) milik Uni Eropa juga memiliki mekanisme serupa yang pernah digunakan untuk menangguhkan akses beberapa negara.
China tidak memasang syarat semacam itu. Kebijakan ini unilateral, tanpa tuntutan keterbukaan timbal balik dari Afrika, dan tidak mengaitkan akses pasar dengan kebijakan dalam negeri negara penerima.
Tang Xiaoyang, Dekan Departemen Hubungan Internasional Universitas Tsinghua, menyebut pendekatan ini mencerminkan “rasa hormat China terhadap negara-negara Afrika dan rasa tanggung jawab dalam mendorong pembangunan bersama.”
Ketua Komisi Uni Afrika Mahmoud Ali Youssouf menyambut kebijakan ini dalam wawancara dengan Xinhua April 2026 “Ini adalah dukungan yang tepat waktu dan saudara di tengah ketidakpastian global.”
Para analis mencatat bahwa manfaat kebijakan ini tidak merata di semua negara Afrika. Negara dengan basis manufaktur dan pertanian yang kuat seperti Afrika Selatan, Maroko, Ethiopia, dan Nigeria lebih siap mengkapitalisasi akses ini.
Negara-negara dengan ekonomi yang masih sangat bergantung pada ekspor komoditas mentah mungkin hanya akan mengekspor bahan baku yang sama dengan harga lebih kompetitif, tanpa transformasi struktural yang signifikan.
Akademisi dari Tsinghua melihat sisi positif jangka panjang bahwa kebijakan ini bisa menarik lebih banyak perusahaan multinasional untuk mendirikan fasilitas perakitan atau pemrosesan di Afrika, memanfaatkan biaya produksi yang lebih rendah sekaligus akses ke pasar China. Jika tren ini terbukti, dampaknya bisa melampaui sekadar peningkatan volume ekspor dan mulai membangun basis manufaktur Afrika.
Bagi China, kebijakan ini mengunci akses jangka panjang ke bahan baku kritis Afrika sambil memperluas pasar untuk produk konsumen China dengan memperdalam integrasi ekonomi yang sudah dibangun selama dua dekade melalui Belt and Road Initiative.
Kebijakan China ke Afrika ini relevan dicermati dari perspektif Indonesia dan ASEAN. Pertama, sebagai sinyal arah geopolitik ekonomi China: Beijing membangun jaringan perdagangan tanpa syarat sebagai counter-narrative terhadap sistem perdagangan berbasis aturan Barat.
Kedua, sebagai preseden: jika zero tariff ke Afrika terbukti meningkatkan perdagangan China secara signifikan, ada kemungkinan Beijing akan menggunakan pendekatan serupa untuk memperluas pengaruh ekonominya di kawasan lain termasuk Asia Tenggara.
Ketiga, dari sisi persaingan komoditas: beberapa komoditas Afrika yang kini masuk China bebas tarif seperti minyak sawit, kopi, dan kakao, bersaing langsung dengan ekspor Indonesia di pasar yang sama.
Posted in Lensa Asia
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.