UAE Memutuskan Keluar dari OPEC Setelah 60 Tahun

picture by AI
picture by AI

Uni Emirat Arab (UAE) mengumumkan pengunduran diri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan aliansi OPEC+ pada Selasa (28/4/2026), efektif 1 Mei 2026. UAE adalah produsen minyak terbesar ketiga di OPEC setelah Arab Saudi dan Irak, dan telah menjadi anggota organisasi ini sejak 1967, hampir 60 tahun.

Dalam pernyataan resmi melalui kantor berita negara, UAE menyebut: “Sementara volatilitas jangka pendek, termasuk gangguan di Teluk Arab dan Selat Hormuz, terus mempengaruhi dinamika pasokan, tren yang mendasarinya menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan dalam permintaan energi global jangka menengah hingga panjang.” UAE menegaskan akan tetap meningkatkan produksi “secara bertahap dan terukur, selaras dengan permintaan dan kondisi pasar.”

Pasar merespons langsung. Harga minyak mentah AS melampaui US$100 per barel untuk pertama kali sejak 10 April 2026 setelah negosiasi Iran-AS kembali terhenti dan pengumuman keluarnya UAE menambah ketidakpastian pasokan global.

Gesekan Bertahun-tahun dengan Arab Saudi

Keluarnya UAE bukan keputusan mendadak. Ini adalah puncak dari gesekan yang menumpuk selama bertahun-tahun. Di dalam OPEC, UAE dan Arab Saudi berulang kali berselisih soal kuota produksi: UAE terus mendorong peningkatan batas produksi, sementara Arab Saudi sebagai kekuatan dominan OPEC menolak. Perselisihan ini beberapa kali memperpanjang dan menunda pertemuan OPEC.

Di luar meja minyak, hubungan kedua negara juga memburuk. Keduanya mendukung pihak yang berlawanan di Yaman, dan bersaing secara ekonomi khususnya dalam memperebutkan investasi asing dan posisi sebagai pusat keuangan regional. Ketika Arab Saudi meluncurkan Vision 2030 dan mulai menarik investasi besar-besaran, kompetisi dengan UAE yang selama ini adalah hub investasi dan pariwisata regional semakin intensif.

Dalam konteks perang Iran, hubungan Saudi-UAE semakin memanas. UAE mengembangkan hubungan lebih erat dengan AS dan Israel melalui Abraham Accords, menjadikannya saluran unik ke Washington, posisi yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan Saudi.

Implikasi untuk OPEC dan Pasar Minyak

Keluarnya UAE melemahkan OPEC secara struktural. UAE adalah satu dari sedikit anggota OPEC yang memiliki spare capacity yang signifikan, kemampuan memproduksi minyak melebihi level saat ini dalam waktu singkat.

Spare capacity inilah yang selama ini memberi OPEC kemampuan merespons guncangan pasokan global. Tanpa UAE, fleksibilitas OPEC berkurang.

Analis energi Rystad, Jorge Leon, menyebut kepergian UAE sebagai pergeseran signifikan. “Implikasi jangka panjangnya adalah OPEC yang secara struktural lebih lemah,” kata Leon. Meski demikian, ia menambahkan bahwa efek jangka pendek kemungkinan masih terbatas selama Selat Hormuz tetap terganggu karena peningkatan produksi UAE pun belum bisa mengalir ke pasar global.

Goldman Sachs merespons dengan menaikkan proyeksi harga minyak mentah AS untuk akhir 2026 dari US$75 ke US$83 per barel, dan menaikkan proyeksi Brent sebesar US$10 ke US$90 per barel. Goldman juga mundurkan proyeksi normalisasi ekspor minyak Teluk Persia ke akhir Juni 2026, dengan risiko yang condong ke guncangan pasokan yang lebih persisten.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak menambah tekanan pada subsidi BBM dan neraca perdagangan energi, saat APBN sudah menanggung beban dari berbagai insentif yang diluncurkan pemerintah untuk meredam dampak konflik Timur Tengah ke masyarakat.

OPEC Setelah UAE

Pertanyaan yang muncul setelah keluarnya UAE adalah seberapa relevan OPEC ke depan. Organisasi ini saat ini memiliki 12 anggota — Algeria, Republik Kongo, Guinea Ekuatorial, Gabon, Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, Arab Saudi, Venezuela, dan UAE yang akan resmi keluar 1 Mei. Bersama OPEC+, aliansi lebih luas yang mencakup Rusia, Kazakhstan, Malaysia, dan beberapa negara lain, OPEC mengendalikan sekitar 41% pasokan minyak global.

UAE bukanlah negara pertama yang meninggalkan OPEC. Qatar keluar pada 2019, Indonesia dua kali bergabung dan keluar, dan Ecuador juga pernah keluar. Tapi UAE berbeda dari keduanya, posisinya sebagai produsen terbesar ketiga dengan spare capacity yang besar membuat keluarnya lebih berdampak secara operasional.

Yang membedakan saat ini adalah kepergian UAE terjadi di tengah krisis energi global paling serius dalam satu dekade. Selat Hormuz tersumbat, harga minyak sudah di atas US$100, dan negosiasi gencatan senjata Iran-AS terhenti. Dalam kondisi normal, keluarnya satu anggota mungkin bisa dikelola dengan relatif mulus. Dalam kondisi ini, keluarnya UAE menambah satu lapisan ketidakpastian pada pasar energi global yang sudah rapuh dan mempertegas bahwa blok solidaritas produsen minyak yang selama ini menjadi fondasi OPEC kini sedang retak dari dalam.

 

Sumber: NPR, Washington Post, Al Jazeera, NBC News, Reuters

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.