Hengyi Petrochemical (SZ: 000703), salah satu produsen petrokimia swasta terbesar China, membukukan laba bersih RMB 1,995 miliar (sekitar US$274 juta) sepanjang kuartal pertama 2026. Naik 3.773,77% dibanding RMB 51 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan tercatat RMB 29,948 miliar, tumbuh 10,23% secara tahunan. Tapi yang lebih mencolok bukan pertumbuhan topline-nya, melainkan ekspansi margin yang sangat tajam, gross margin naik dari 4,55% ke 12,88%, kenaikan 8,33 poin persentase hanya dalam setahun. Net margin menyentuh 9,41%, padahal di Q1 2025 angkanya hampir nol.
Pemicunya adalah perang Iran dan penutupan efektif Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 memukul pasokan minyak mentah dari Timur Tengah, mendorong harga produk petrokimia naik tajam di seluruh Asia. Bagi Hengyi yang mengoperasikan kilang terintegrasi di Brunei (jauh dari jalur konflik) lonjakan harga ini langsung menerjemahkan diri ke margin.
Kilang Hengyi di Pulau Muara Besar, Brunei adalah fasilitas refinery petrochemical terintegrasi dengan kapasitas 8 juta ton per tahun investasi terbesar dalam sejarah Brunei, dengan komposisi kepemilikan 70% Zhejiang Hengyi Group dan 30% Damai Holdings (afiliasi pemerintah Brunei).
Posisi geografisnya di Asia Tenggara, jauh dari ketidakpastian Selat Hormuz, membuat operasional berjalan tanpa gangguan saat kompetitor lain merasakan tekanan rantai pasok.
Ketika harga bahan baku minyak mentah naik, Hengyi memang menanggung biaya input yang lebih tinggi, tercermin dari lonjakan nilai persediaan sebesar 40,52% dalam satu kuartal. Tapi kenaikan harga jual produk petrokimia seperti PX, PTA, dan serat poliester jauh melampaui kenaikan biaya input tersebut, sehingga selisih marginnya justru melebar.
Konteks angka ini penting untuk dipahami. Sepanjang 2024, laba bersih Hengyi turun 46,28%. Di Q1 2025, laba bersih ambruk 87,55% menjadi hanya RMB 51 juta akibat kelebihan kapasitas industri petrokimia China dan tekanan harga jual yang persisten. Situasi di Q1 2026 adalah pembalikan arah yang ekstrem, dan sebagian besar dipicu oleh faktor geopolitik yang tidak ada hubungannya dengan perbaikan fundamental industri.
Sinopec data dari Sina Finance menunjukkan Hengyi saat ini menempati posisi pertama dalam daftar perusahaan dengan pertumbuhan laba bersih tertinggi di antara emiten China yang sudah melaporkan hasil Q1 2026 melampaui Tianjin Pulin di posisi kedua dengan pertumbuhan 2.187%.
Di tengah hasil kuartal yang memuaskan, Hengyi juga melanjutkan ekspansi jangka panjang. Pada Januari 2026, perusahaan mengumumkan peluncuran penuh proyek Phase 2 di Brunei dengan paket investasi senilai US$13,6 miliar termasuk pendanaan dari Brunei Islamic Bank dan insentif pajak dari pemerintah Brunei.
Jika selesai pada akhir 2028, kapasitas kilang di Brunei akan meningkat dua kali lipat ke 20 juta ton per tahun, atau sekitar 400.000 barel per hari.
Perlu dicatat, meski angka Q1 2026 terlihat spektakuler, sebagian besar kenaikan laba berasal dari kondisi pasar yang tidak normal akibat konflik geopolitik, bukan dari efisiensi operasional atau pertumbuhan permintaan struktural. Apakah margin ini bertahan akan sangat bergantung pada durasi dan dampak perang Iran terhadap alur pasokan minyak global.
Posted in Lensa Asia