Laba turun, tapi Astra tetap usulkan dividen besar dan neraca masih sangat kuat. RUPST 23 April akan jadi momen penting untuk membaca arah strategis konglomerat terbesar Indonesia ini.
PT Astra International Tbk (ASII) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 23 April 2026. Salah satu agenda utama: pembahasan usulan dividen final sebesar Rp 292 per saham untuk tahun buku 2025. Ditambah dividen interim Rp 98 per saham yang sudah dibagikan Oktober 2025, total dividen yang diusulkan mencapai Rp 390 per saham — dengan rasio pembayaran 48% dari laba bersih.
Angka ini memang lebih rendah dari total dividen 2024 yang mencapai Rp 406 per saham, sejalan dengan penurunan laba bersih grup sebesar 3% menjadi Rp 32,8 triliun sepanjang 2025. Tapi dalam konteks kondisi bisnis yang memang menantang (harga batu bara yang terkoreksi signifikan dan pasar mobil baru yang lesu) kemampuan Astra mempertahankan dividen besar tetap mencerminkan kekuatan neraca yang tidak bisa diabaikan.
Tekanan laba Astra di 2025 bersumber dari dua lini utama. Divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi yang dikelola lewat United Tractors, membukukan penurunan laba bersih 24% menjadi Rp 9,1 triliun akibat normalisasi harga batu bara. Divisi otomotif juga tertekan, pasar mobil nasional turun 7% meski Astra berhasil mempertahankan dominasi pasar 51%.
Jasa keuangan tumbuh 9% jadi Rp 9,0 triliun didorong kenaikan nilai pembiayaan baru 5% menjadi Rp 112,3 triliun
Agribisnis (CPO) naik 28% jadi Rp 1,2 triliun, harga CPO meningkat 11% dan volume penjualan naik 13%
Infrastruktur & tol naik 24% jadi Rp 1,3 triliun, tarif tol lebih tinggi dan volume lalu lintas meningkat
Pertambangan emas ikut membantu seiring lonjakan harga emas rata-rata 40%, Astra menyelesaikan 100% akuisisi PT Arafura Surya Alam di Sulawesi Utara pada Februari 2026
Hasilnya, penurunan laba grup relatif terkendali di 3% meski dua segmen terbesar sama-sama tertekan. Diversifikasi portofolio yang selama ini menjadi strategi utama Astra terbukti menjadi bantalan yang efektif.
Laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya.
— Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur PT Astra International Tbk
Meski laba turun, posisi keuangan Astra secara keseluruhan tetap solid. Total aset meningkat 7,6% menjadi Rp 507,4 triliun. Kas dan setara kas menggemuk menjadi Rp 52,6 triliun, memberikan ruang likuiditas yang sangat besar untuk ekspansi atau aksi korporasi ke depan. Total ekuitas juga tumbuh menjadi Rp 290,8 triliun.
Yang dinantikan pasar bukan hanya soal dividen. Astra menyebut sedang menjalankan tinjauan strategis komprehensif terhadap seluruh portofolio bisnisnya dan hasilnya dijanjikan akan diumumkan pada akhir semester pertama 2026. Ini yang berpotensi menjadi katalis lebih besar dari sekadar pengumuman dividen di RUPST April.
Saham ASII sudah turun sekitar 8% sejak awal 2026 seiring tekanan pasar yang lebih luas. Dengan total dividen Rp 390 per saham dan harga saham di kisaran Rp 5.600–6.200, dividend yield final cukup menarik. Tapi pasar kemungkinan lebih fokus pada hasil tinjauan strategis yang dijanjikan pertengahan 2026 sebagai indikasi arah jangka panjang grup.
Posted in Bisnis