Investasi Properti Asia Pasifik Mencapai Level Tertinggi dalam Tiga Tahun

May 6, 2026, 03_02_51 PM

Volume transaksi properti di kawasan Asia Pasifik menutup 2025 lalu dengan catatan terbaik sejak 2022. Berdasarkan laporan Asia Pacific Investment Quarterly Q4 2025 yang dirilis Savills, transaksi kuartal keempat naik 8,7% secara tahunan, pemulihan yang cukup untuk menutup perlambatan di pertengahan tahun yang sempat ditekan ketegangan tarif Amerika Serikat.

Neil Brookes, Executive Managing Director dan Head of Asia Pacific Capital Markets Savills, menyebut pemulihan ini didorong oleh investor yang semakin selektif namun lebih berani bertransaksi ketika biaya modal mulai stabil dan harga aset sudah menyesuaikan diri. “Pemulihan yang kami lihat dipimpin oleh investor dengan fokus jelas pada kualitas, daya tahan pendapatan, dan disiplin harga,” ujar Brookes.

Pasar yang Bergerak Tidak Seragam

Kinerja tiap pasar di kawasan ini menunjukkan pola yang berbeda — dan perbedaan itu mencerminkan kondisi struktural masing-masing, bukan hanya momentum jangka pendek.

Australia mencatat lompatan paling dramatis: total investasi sektor perkantoran, industri, dan ritel di Q4 2025 mencapai sekitar AU$13,1 miliar, naik 30% dari kuartal sebelumnya dan 66% dibanding Q4 2024. Lonjakan ini sebagian besar ditopang oleh transaksi besar di Sydney. Chris Naughtin dari Savills Australia menyebutnya sebagai realisasi dari pemulihan yang sudah lama ditunggu, dengan investor mulai meningkatkan akuisisi menjelang proyeksi kenaikan nilai aset di 2026.

Korea Selatan mencatat rekor baru untuk investasi perkantoran: KRW 21,1 triliun (sekitar US$14,1 miliar) sepanjang 2025, rekor tertinggi sepanjang sejarah untuk segmen tersebut. Sektor logistik juga kuat, ditopang akuisisi besar yang dipimpin investor asing seperti Brookfield di Cheongna Logistics Center.

Singapura menutup tahun dengan Q4 senilai S$10,97 miliar, naik 44,4% dibanding Q4 2024. Sektor industri hampir dua kali lipat secara kuartalan ke S$2,13 miliar, didorong oleh REIT yang mengambil posisi oportunistik untuk memperkuat portofolio. Alan Cheong dari Savills Singapura memproyeksikan volume investasi 2026 akan sejajar dengan 2025, dengan catatan bahwa risiko geopolitik menjadi variabel yang perlu dipantau.

Malaysia mencatat 37 transaksi besar senilai RM 5,57 miliar di Q4 2025, dengan TRX, kawasan mixed use premium di Kuala Lumpur, menjadi magnet utama bagi investor institusional.

India menarik US$6,7 miliar arus masuk private equity sektor properti sepanjang 2025, mencerminkan minat internasional yang tetap tinggi terhadap pasar terbesar Asia Selatan itu.

Apa yang Mendorong Pemulihan

Di balik ini semua, ada beberapa faktor struktural yang berperan. Biaya modal yang mulai menstabilkan diri setelah siklus kenaikan suku bunga membuat kalkulasi investasi properti kembali masuk akal bagi banyak institusi.

Sektor perkantoran yang sempat dipertanyakan pasca pandemi mulai pulih di kota-kota dengan pasokan terbatas dan permintaan penyewa yang solid seperti Tokyo, Seoul, dan Singapura.

Sektor industri dan logistik juga membaik setelah investor mendapat gambaran lebih jelas soal dampak jangka panjang kebijakan tarif AS. Di China, strategi investasi bergeser dari mengandalkan kompresi yield ke optimalisasi aset yang sudah ada, mencari aset penghasil pendapatan di segmen perumahan sewa dan ritel tertentu.

Savills memperkirakan volume investasi 2026 di kawasan ini akan bertahan di kisaran level 2025, dengan catatan bahwa eskalasi risiko geopolitik yang signifikan bisa mengubah gambaran tersebut.

 

Sumber: Savills Asia Pacific Investment Quarterly Q4 2025, Real Estate Asia, The Real Deal — April 2026. Artikel ini bukan rekomendasi investasi.

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.