Kepemimpinan China dalam Industri Robot Humanoid

ChatGPT Image May 6, 2026, 03_59_17 PM

China telah melampaui Amerika Serikat dalam pengiriman robot humanoid. Berdasarkan data riset firma teknologi Omdia, perusahaan-perusahaan China mendominasi enam posisi teratas dalam peringkat pengiriman robot humanoid global sepanjang 2025, sementara hanya Figure AI dan Tesla yang masuk dari pihak AS, keduanya di luar enam besar.

Tiga pemimpin pasar semuanya berasal dari China. AgiBot (Shanghai) mengirimkan sekitar 5.100 unit sepanjang 2025 menguasai 39% pangsa pasar global. Disusul Unitree Robotics (Hangzhou) dengan sekitar 4.200–5.500 unit, dan UBTech (Shenzhen) dengan sekitar 1.000 unit. Total pengiriman global robot humanoid pada 2025 diperkirakan mencapai 13.000–14.500 unit melonjak lebih dari lima kali lipat dibanding 2024.

Di sisi AS, Tesla hanya mengirimkan 150 unit Optimus sepanjang 2025. Figure AI dan Agility Robotics masing-masing berada di kisaran yang serupa. Penjualan komersial Tesla Optimus baru diperkirakan dimulai 2027.

Harga Murah, Produksi Cepat

Keunggulan China bukan sekadar soal jumlah tapi juga kecepatan iterasi dan harga. Unitree menjual model termurahnya, R1, seharga US$5.900, jauh di bawah rival AS yang belum ada yang memasarkan secara massal dengan harga setara. Model robot anjing Unitree bahkan dijual seharga US$1.600.

Ini cerminan dari ekosistem manufaktur yang matang. Yangtze River Delta, kawasan yang menampung Unitree dan AgiBot sudah menjadi klaster paling terintegrasi secara vertikal untuk komponen robotika humanoid di dunia. Pengalaman China dalam memproduksi kendaraan listrik dan drone dalam skala besar kini diterjemahkan langsung ke lini produksi robot.

AgiBot bahkan mencapai unit ke-10.000 pada akhir Maret 2026, setelah kapasitas produksinya naik dari 1.000 unit di 2025 ke 5.000, lalu berlipat ganda ke 10.000 dalam waktu tiga bulan. TrendForce memproyeksikan output robot humanoid China akan naik 94% pada 2026, dengan Unitree dan AgiBot bersama menguasai hampir 80% dari total pengiriman.

Valuasi Berbeda, Perspektif Berbeda

Di sinilah divergensi antara dua ekosistem menjadi menarik. Meski China jauh unggul dalam volume pengiriman, investor AS masih berani menaruh uang jauh lebih besar ke startup robotik Amerika.

Figure AI yang pada 2025 baru mengirimkan ratusan unit menyandang valuasi US$39 miliar. Apptronik mencapai valuasi US$5 miliar pada Februari 2026. Sementara Unitree, yang sudah mengirimkan ribuan unit dan baru saja mengajukan IPO di STAR Market China, terakhir diketahui bernilai sekitar US$3 miliar.

Perbedaan ini mencerminkan cara investor memandang kedua ekosistem secara berbeda. Startup AS dipandang sebagai platform AI generasi berikutnya yang potensinya melampaui hardware seperti OS yang bisa berjalan di berbagai perangkat. Startup China dilihat lebih sebagai pemain hardware industri yang kuat secara operasional tapi dengan moat yang lebih terbatas.

“Jika China akhirnya mendominasi skala manufaktur dan deployment di dunia nyata, dana ventura AS bisa kehilangan sebagian besar peluang itu,” kata Rui Ma, pendiri Tech Buzz China, kepada CNBC, April 2026.

Persaingan yang Baru Dimulai

Pada 2026, fokus industri mulai bergeser. TrendForce mencatat bahwa paruh kedua 2026 akan menjadi ujian apakah robot humanoid bisa memberikan nilai nyata di lapangan bukan sekadar demo yang memukau. Startup China sudah berada di jalur itu lebih awal, dengan deployment di pabrik dan pusat perbelanjaan.

Tapi AS belum menyerah. Jika Tesla Optimus Gen 3 berhasil mencapai produksi massal sesuai jadwal di paruh kedua 2026, dampaknya terhadap rantai pasok global dan pasar modal bisa besar, menciptakan model manufaktur robot yang mirip dengan industri otomotif.

Sementara itu, ada ironi yang menarik di balik persaingan ini. Para insinyur Amerika masih datang ke Shenzhen untuk membeli komponen robot humanoid lalu menggabungkannya dengan software buatan AS.

Relevansi untuk Asia Tenggara

Bagi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, robot humanoid murah dari China membuka kemungkinan adopsi lebih awal di sektor manufaktur dan logistik yang selama ini mengandalkan tenaga kerja murah sebagai keunggulan kompetitif. Di sisi lain, jika robot humanoid mulai menggantikan pekerjaan repetitif di pabrik-pabrik Asia, model bisnis yang selama ini mengandalkan upah rendah perlu dievaluasi ulang.

Pemerintah China sendiri sudah menjadikan robot humanoid sebagai prioritas nasional sejak “Made in China 2025” dan sekarang hasilnya mulai terlihat dalam bentuk angka pengiriman yang konkret.

Pertanyaan bagi negara-negara Asia Tenggara adalah apakah mereka akan menjadi pasar konsumen teknologi ini, atau ikut membangun ekosistem produksinya sendiri? Indonesia, dengan basis manufaktur yang kuat dan tenaga kerja yang besar, punya kepentingan langsung untuk mengikuti perkembangan ini dari dekat bukan hanya sebagai penonton.

Gelombang robot humanoid yang datang dari China bisa menjadi peluang adopsi teknologi, tapi juga ancaman nyata bagi model manufaktur berbasis tenaga kerja murah yang selama ini menjadi andalan kawasan.

Sumber: Omdia, CNBC, Bloomberg, TrendForce, TechCrunch, Visual Capitalist — Januari–April 2026.

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.