Emiten perhotelan kecil dari Majalengka ini mendadak jadi sorotan bursa, bukan karena bisnisnya berkembang, tapi karena pemilik barunya memutuskan meninggalkan hotel sama sekali dan masuk ke tambang.
PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) resmi menutup lembaran perhotelannya. Dalam public expose insidentil pada 14 April 2026, Direktur Utama FITT Joni Rizal menyatakan perusahaan tidak akan melanjutkan kegiatan usaha lama yang dinilai memiliki skala terbatas dan belum memberikan sinergi yang memadai. Arah baru yang dipilih: sektor pertambangan.
Keputusan ini datang setelah terjadinya pergantian pemegang saham pengendali. Akhir 2025, PT Jinlong Resources Investment mengakuisisi FITT dan menjadi pengendali baru, momen yang kemudian dijadikan titik tolak restrukturisasi menyeluruh. Manajemen baru menilai model bisnis hotel bintang tiga di Majalengka tidak lagi relevan sebagai platform pertumbuhan.
Dalam jangka menengah tiga hingga lima tahun ke depan, FITT akan membangun portofolio di tiga lini yang saling terintegrasi: sumber daya pertambangan, jasa pertambangan, dan perdagangan produk tambang. Ketiga lini ini dirancang saling menopang untuk mengurangi ketergantungan pada satu segmen saja.
Yang menarik, manajemen belum mengungkapkan komoditas tambang spesifik yang akan disasar. Joni menegaskan FITT dan pemegang saham pengendali masih dalam tahap evaluasi dan penjajakan terhadap calon perusahaan target akuisisi. Setiap keputusan akan disampaikan terlebih dahulu melalui keterbukaan informasi ke publik.
FITT berdiri sebagai pengelola Fitra Hotel, hotel bintang tiga 113 kamar di Majalengka, Jawa Barat
PT Jinlong Resources Investment mengakuisisi dan menjadi pemegang saham pengendali baru FITT
FITT umumkan transformasi ke sektor pertambangan, bisnis perhotelan ditinggalkan sepenuhnya
Bersamaan dengan pengumuman ini, Bursa Efek Indonesia mencabut suspensi saham FITT yang sebelumnya dihentikan sementara sebagai bagian dari mekanisme pengawasan pasar. Pasar merespons positif dengan saham FITT yang langsung melonjak 24,73% pada hari yang sama.
Latar belakang transformasi ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi keuangan FITT yang memang tertekan. Sepanjang Januari–September 2025, perusahaan membukukan rugi bersih Rp 5,66 miliar, meski lebih kecil dari rugi periode sama 2024 sebesar Rp 6,95 miliar. Pendapatan pun terkoreksi dari Rp 9,89 miliar menjadi Rp 6,36 miliar. Skala bisnis yang kecil membuat ruang untuk tumbuh sangat terbatas.
FITT juga membatalkan sejumlah rencana sebelumnya: RUPSLB untuk divestasi dua anak usaha perhotelan (PT Bumi Majalengka Permai dan PT Fitra Amanah Wisata) dan rencana akuisisi perusahaan pelayaran PT Poseidon Shipping Indonesia tidak dilanjutkan. Fokus kini sepenuhnya diarahkan ke tambang.
Pivot dari perhotelan ke pertambangan adalah langkah yang tidak biasa tapi bukan pertama kali terjadi di pasar modal Indonesia. Biasanya diikuti oleh pergantian pengendali dengan latar belakang industri yang berbeda. Seberapa konkret rencana ini akan terlihat dari akuisisi target tambang yang diumumkan dalam beberapa bulan ke depan.
Posted in Bisnis