Ekspor Maret Turun 3,10%, Tapi Surplus Dagang Tetap Mengalir 71 Bulan Berturut-turut

ChatGPT Image May 6, 2026, 07_04_40 PM

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada Maret 2026 mencapai US$22,53 miliar, turun 3,10% secara tahunan dibanding Maret 2025. Penurunan terjadi di dua sisi sekaligus ekspor migas turun 11,84% menjadi US$1,28 miliar, dan ekspor nonmigas terkoreksi 2,52% menjadi US$21,25 miliar. Di sisi impor, nilai impor Maret tercatat US$19,21 miliar, naik 1,51% yoy.

Meski ekspor turun, neraca perdagangan tetap surplus US$3,32 miliar melanjutkan tren surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Ini disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (4/5/2026). “Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak bulan Mei tahun 2020 yang lalu,” kata Ateng.

Surplus nonmigas mencapai US$5,21 miliar, ditopang lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Di sisi lain, neraca migas masih defisit US$1,89 miliar, didorong impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas.

Komoditas Bermasalah: CPO, Kakao, Kopi Anjlok

Penurunan ekspor Maret secara tahunan terutama disebabkan oleh tiga komoditas nonmigas. Lemak dan minyak hewan/nabati (CPO dan turunannya) turun 27,02% dengan andil negatif 3,52% terhadap total ekspor. Kakao dan olahannya anjlok 50,89% dengan andil -0,75%. Kopi, teh, dan rempah-rempah merosot 54,69% dengan andil -0,68%.

Penurunan CPO mencerminkan kombinasi pelemahan harga global dan berkurangnya permintaan dari beberapa pasar utama sementara kakao dan kopi terdampak kompetisi dari produsen Afrika yang kini mendapat akses zero tariff ke China sejak 1 Mei 2026.

Q1 2026: Tumbuh Tipis, Motor Industri Pengolahan

Secara kumulatif Januari–Maret 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$66,85 miliar naik tipis 0,34% dibanding periode yang sama tahun lalu. Ekspor nonmigas tumbuh 0,98% menjadi US$63,60 miliar, sementara ekspor migas turun 10,58% menjadi US$3,25 miliar.

Motor utama pertumbuhan ekspor nonmigas adalah sektor industri pengolahan dengan andil 3,15% terhadap kenaikan. Komoditas pendorongnya: nikel, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik lainnya, serta semikonduktor dan komponen elektronik.

Di sisi impor, total impor Q1 2026 mencapai US$61,30 miliar, naik 10,05% yoy. Kenaikan impor yang signifikan ini didorong oleh bahan baku dan penolong (US$43,17 miliar, +6,89%) serta barang modal (+4,98%). Satu yang menarik: impor barang konsumsi justru turun 10,81% mencerminkan pelemahan daya beli domestik atau substitusi produk lokal.

Peta Mitra Dagang: China Dominan, AS Surplus Terbesar

Dari sisi negara tujuan, China tetap menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai US$16,50 miliar, naik 17,49% dibanding Q1 tahun lalu. Ekspor ke India dan ASEAN juga meningkat. Sebaliknya, ekspor ke Amerika Serikat dan Uni Eropa mengalami penurunan.

Dari sisi surplus bilateral, AS menjadi sumber surplus terbesar bagi Indonesia dengan US$4,43 miliar, diikuti India (US$3,29 miliar) dan Filipina (US$2,61 miliar). Sementara defisit terdalam tercatat dengan China (US$5,18 miliar), Australia (US$2,5 miliar), dan Singapura (US$1,9 miliar).

Tiga komoditas unggulan Indonesia yaitu besi dan baja, CPO beserta turunannya, serta batu bara menyumbang 28,53% dari total ekspor nonmigas Q1 2026. Kinerja ketiganya bervariasi: besi dan baja naik 0,56%, CPO dan turunannya tumbuh 3,56%, sementara batu bara turun 11,51%.

Ada dua cara membaca data ini. Dari sisi pesimisme melihat  ekspor Maret turun, komoditas unggulan seperti CPO, kakao, dan kopi tertekan, dan impor tumbuh jauh lebih cepat dari ekspor di Q1 yang bisa menjadi tanda tekanan pada neraca pembayaran ke depan.

Dari sisi optimisme surplus 71 bulan berturut-turut adalah fondasi yang solid, industri pengolahan terus menunjukkan pertumbuhan, dan ekspor nikel serta semikonduktor yang meripakan produk bernilai tambah tinggi mulai mengambil porsi lebih besar. Ini konsisten dengan arah hilirisasi yang didorong pemerintah.

Yang perlu diawasi ke depan jika perang di Timur Tengah terus menekan permintaan global dan mengganggu jalur pengiriman, ekspor Indonesia pada Q2 2026 bisa mengalami tekanan lebih lanjut, terutama untuk komoditas yang bergantung pada rute Selat Hormuz untuk pengiriman atau pasokan bahan bakunya. Data impor plastik yang turun 14,96% secara bulanan di Maret sudah memberi sinyal bahwa efek konflik mulai terasa di tingkat industri dalam negeri. Data PDB Q1 2026 yang dirilis BPS hari ini, 5 Mei, akan menjadi konfirmasi penting apakah momentum pertumbuhan ekonomi domestik cukup kuat untuk menyerap tekanan-tekanan itu.

 

Sumber: BPS (konferensi pers 4 Mei 2026),

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.