Di tengah krisis pasokan energi global yang dipicu konflik Iran, Presiden Prabowo Subianto terbang ke Moskow untuk menemui Vladimir Putin secara langsung.
Kunjungan ini bukan perjalanan diplomatik biasa sebab ada agenda konkret yang dibawa yaitu mengamankan pasokan minyak jangka panjang dari Rusia, sekaligus membuka pasar ekspor baru bagi komoditas unggulan Indonesia.
Mendarat di Bandara Vnukovo-2, Moskow, pada 13 April pagi waktu setempat setelah penerbangan nonstop 12 jam menggunakan Garuda Indonesia. Ia didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Pertemuan empat mata dengan Putin berlangsung di Istana Kremlin pada siang harinya.
Dalam pertemuan itu, Putin menyambut hangat dan menyebut perdagangan bilateral kedua negara tumbuh 12,5% sepanjang 2025, meski ia mengakui ada “penyesuaian” di awal 2026 yang sempat memperlambat momentum. Komisi antarpemerintah kedua negara disebut masih bekerja aktif untuk menjaga stabilitas hubungan dagang.
Gangguan di Selat Hormuz akibat konflik Iran menjadi konteks utama dari kunjungan ini. Sebagian besar pasokan minyak yang masuk ke Indonesia selama ini melewati jalur tersebut dari AS, Uni Emirat Arab, maupun Australia. Ketika jalur itu terganggu, keandalan pasokan menjadi pertanyaan serius.
Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev dalam wawancara dengan Channel One Rusia mengonfirmasi bahwa Indonesia telah mengajukan permintaan pasokan minyak secara resmi. “Jika sebelumnya Indonesia lebih banyak membeli produk minyak dari negara lain, kini mereka mulai mempertimbangkan aspek keandalan pasokan seiring situasi yang berkembang di kawasan selat,” kata Tsivilev. Ia menambahkan bahwa kedua pihak tengah membahas kontrak jangka panjang dengan skema harga yang saling menguntungkan.
Dari sisi Indonesia, langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber energi. Prabowo sebelumnya menyatakan Indonesia menargetkan bebas impor BBM dalam 2 hingga 3 tahun ke depan tapi dalam jangka pendek ini mengamankan pasokan dari sumber yang lebih dapat diandalkan tetap menjadi prioritas.
Ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Rute distribusi minyak dari Rusia ke Indonesia sebagian besar masih melewati Selat Hormuz atau jalur yang terpengaruh konflik. Selain itu, sanksi Uni Eropa terhadap Rusia bisa mempersulit mekanisme pembayaran dan pengiriman, meski Indonesia bukan anggota UE dan tidak terikat sanksi tersebut secara langsung.
Indonesia tidak datang dengan tangan kosong. Pemerintah mendorong peningkatan ekspor crude palm oil (CPO) ke Rusia sebagai bagian dari kesepakatan timbal balik. Rusia menjadi pasar yang relevan untuk CPO mengingat konsumsi minyak nabatinya yang besar, sementara hubungan Rusia dengan pemasok tradisional dari Eropa Barat terganggu akibat sanksi.
Di luar minyak sawit, pertemuan ini juga menghasilkan pembahasan di beberapa sektor lain. Rusia menawarkan kerja sama pasokan bahan baku pupuk, benih pertanian, dan produk daging ke Indonesia termasuk produk daging bersertifikat halal yang sudah lama diincar pasar Indonesia.
Di bidang teknologi, kedua negara sepakat menjajaki kolaborasi pengembangan Small Modular Reactor (SMR) untuk kebutuhan energi nuklir skala kecil, serta kerja sama di bidang farmasi dan antariksa.
Untuk pariwisata, Prabowo mengusulkan penambahan slot penerbangan langsung Moskow–Denpasar di luar 3 penerbangan per minggu yang sudah berjalan. Rute nonstop 12 jam ini dinilai strategis untuk menarik wisatawan Rusia, segmen yang selama ini cukup besar kontribusinya ke Bali.
Kunjungan ke Moskow ini bukan tanpa kalkulasi geopolitik. Indonesia secara konsisten menjaga posisi luar negeri yang tidak memihak blok mana pun, tidak ikut dalam sanksi Barat terhadap Rusia tapi juga tidak mengambil posisi yang mendukung invasi Rusia ke Ukraina secara eksplisit. Posisi ini justru memberi ruang bagi Indonesia untuk bermanuver secara ekonomi di tengah polarisasi global.
Dalam konteks perang Iran, Indonesia punya kepentingan ganda yaitu menjaga pasokan energi domestik tetap stabil, sekaligus mempertahankan akses ke pasar ekspor yang beragam.
Hubungan yang lebih erat dengan Rusia yang merupakan salah satu produsen minyak dan pupuk terbesar dunia, memperkuat posisi tawar Indonesia di tengah ketidakpastian rantai pasok global yang masih berlanjut.
Putin dijadwalkan melakukan kunjungan balasan ke Indonesia pada 2026 atau 2027. Kunjungan April ini sendiri merupakan yang ketiga bagi Prabowo ke Rusia sebagai presiden setelah St. Petersburg Juni 2025 dan Moskow Desember 2025 dan menjadi pertemuan kelima antara keduanya dalam satu tahun terakhir jika dihitung sejak pertemuan pertama di Moskow pada Juli 2024 saat Prabowo masih presiden terpilih. Intensitas pertemuan ini mencerminkan seberapa serius kedua negara memandang kemitraan yang sedang dibangun.
Posted in Bisnis