Donald Trump meninggalkan Beijing pada Jumat (15/5/2026) setelah 36 jam bertemu Xi Jinping. Kepada wartawan ia berkata “a lot of different problems were settled.” Tapi ketika rincian dari masalah-masalah yang diselesaikan itu dicari, hampir tidak ada yang bisa dipegang.
Reaksi pasar berbicara lebih keras. Dow futures turun lebih dari 300 poin (0,6%). S&P 500 futures turun 1%, Nasdaq 1,4%. Brent oil naik 3% ke atas US$108 per barel karena tidak ada kemajuan di Hormuz. Harga kedelai anjlok setelah “komitmen China membeli produk pertanian AS” yang disebutkan Trump ternyata tanpa detail.
Satu-satunya kesepakatan bisnis besar yang diumumkan adalah order 200 pesawat Boeing. Diumumkan Trump di Fox News Hannity pada Kamis malam waktu Beijing. Saham Boeing langsung turun 4,73% ke $229,21 saat pasar tutup Kamis. Sebab angka tersebut cukup jauh dari harapan.
Sebelum summit, sumber Reuters menyebut negosiasi berlangsung untuk 500 pesawat Boeing 737 MAX ditambah kemungkinan widebody di atas itu. Yang terwujud hanya 200. Analis BNP Paribas Matt Akers mencatat “Investor menginterpretasikan ini sebagai kurang dari yang diharapkan.” Bahkan di 2017, saat hubungan AS-China lebih hangat, China setuju dengan pembelian 300 pesawat dan komitmen itu tidak pernah sepenuhnya dipenuhi.
Sebagai tambahan konteks, Boeing CEO Kelly Ortberg memang hadir di rombongan Trump, bersama GE Aerospace CEO Larry Culp. Boeing Q1 2026 mencatat revenue $22,2 miliar (+14% yoy) dan sudah mengirimkan 143 pesawat komersial di kuartal pertama tapi backlog masih 6.719 unit. Order 200 dari China memang disambut, tapi tidak cukup untuk menggerakkan sentimen.
Ini yang paling rumit. Kamis 14 Mei, Reuters melaporkan AS sudah menyetujui sekitar 10 perusahaan China termasuk Alibaba, Tencent, ByteDance, JD.com, dan Lenovo untuk membeli chip Nvidia H200. Kerangka yang diresmikan Januari 2026 mensyaratkan setiap chip melewati wilayah AS untuk inspeksi dan Nvidia menyetor 25% dari setiap penjualan ke pemerintah AS.
Tapi tidak satu chip pun yang dikirim. Beijing memblokir pembelian itu. Trump sendiri yang mengkonfirmasi dari Air Force One dalam perjalanan pulang: China “chose not to” approve the purchases karena “they want to develop their own.” Commerce Secretary Howard Lutnick menyatakan Beijing memblokir impor untuk mendorong investasi ke produsen chip domestik seperti Huawei.
Nvidia CEO Jensen Huang masuk rombongan di menit terakhir (boarding Air Force One saat refueling di Alaska) yang sempat membesarkan harapan. Hasilnya tidak ada pergerakan.
Xi menetapkan batas percakapan sejak hari pertama. Salah menangani Taiwan bisa membawa hubungan kedua negara ke “bahaya besar.” Trump membalas dengan menyebut penjualan senjata senilai US$14 miliar ke Taiwan sebagai “a very good negotiating chip” posisi yang membuat Taipei sangat waspada.
Soal Hormuz, kedua pemimpin sepakat bahwa selat itu harus tetap terbuka. Tapi tidak ada komitmen konkret dari Beijing untuk menekan Iran. Soal Iran, Yue Su, principal economist China di Economist Intelligence Unit, menyatakan diskusi Trump-Xi memang menunjukkan keduanya punya common ground — tapi batasnya jelas. “The Iranian regime is operating in survival mode and will prioritize its own interests and agenda above all else,” katanya kepada CNBC.
Kedua sisi sepakat untuk bertemu lagi, Trump mengundang Xi ke AS pada 24 September. AS dan China juga sepakat membangun “constructive China-U.S. relationship of strategic stability” sebagai kerangka tiga tahun ke depan. Gencatan dagang yang rapuh dari Oktober 2025 diperpanjang dan diperkuat.
Itu pencapaian yang tidak kecil di tengah konflik yang masih berlangsung. Tapi bagi pasar yang sudah menunggu terobosan besar, hasilnya tidak cukup. Bagi Indonesia dan Asia Tenggara, Hormuz yang belum selesai berarti harga energi tetap tinggi dan tekanan ke rupiah, IHSG, serta APBN tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Sumber: CNBC, Reuters, Benzinga, TechTimes, Tom’s Hardware, US News — 14–15 Mei 2026.
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.