Triputra Group, konglomerasi bisnis milik Theodore Permadi Rachmat (TP Rachmat) yang merupakan mantan CEO Astra dan pendiri grup ini pada 1998, kini bergerak agresif ke pendidikan tinggi dan vokasi, sektor yang jauh dari akar bisnisnya.
Melalui anak usaha PT Triputra Edukasi Nusantara (TEN), grup yang selama ini dikenal di sektor agribisnis, manufaktur, energi, pertambangan, dan logistik ini kini mengelola empat perguruan tinggi sekaligus yaitu Universitas Pignatelli Triputra (Upitra) di Solo, satu kampus di Maumere, satu di Karawang, dan satu kampus hasil joint venture dengan Fitma Education di Filipina.
Tidak seperti keputusan impulsif. CEO TEN Yohanes Tan menyebut langkah ini sebagai kelanjutan dari lebih dari 20 tahun keterlibatan Triputra di bidang pendidikan melalui program beasiswa, kini ditingkatkan ke operasional kampus langsung. “Tujuan utama adalah menghasilkan lulusan yang memiliki pekerjaan sesuai kompetensi, bukan sekadar gelar sarjana,” kata Yohanes.
Yang membedakan pendekatan Triputra dari pengelola kampus swasta lainnya adalah integrasi industri ke dalam kurikulum secara langsung, dengan harapan bukan sekadar janji “link and match” di atas kertas.
CEO Triputra Group Tjandra Karya Hermanto menjelaskan bahwa para CEO dari berbagai unit bisnis Triputra mulai dari agro, logistik, kesehatan, hingga manufaktur otomotif akan memberikan kuliah langsung kepada mahasiswa. “Di Upitra ini kami masukkan DNA Triputra yaitu Integrity & Ethics, Excellence, Compassion, dan Humility. Dan kami berusaha untuk mendekatkan pendidikan dengan industri sehingga di kampus ini para CEO di Triputra Group memberikan kuliah kepada mahasiswa,” kata Tjandra.
Hasilnya sudah mulai terlihat di Upitra Solo, kampus yang diambil alih dari Yayasan Santo Yosef Maria Pignatelli Surakarta. Jumlah mahasiswa naik dari sekitar 200 orang saat pengambilalihan menjadi 600, dengan target 1.200 pada tahun depan. Mahasiswa Upitra juga sudah menjalani magang di berbagai perusahaan Triputra Group maupun industri lain di Solo dan sekitarnya.
TEN juga membuka unit bisnis pengiriman tenaga kerja ke luar negeri termasuk program kerja ke Jepang yang mencerminkan bahwa konsep “link and match” di sini tidak berhenti di pintu masuk perusahaan lokal.
Langkah Triputra ke pendidikan menarik karena konteksnya. Di tengah tekanan ekonomi global saat rupiah melemah, IHSG terkoreksi, investasi asing melambat sebagian besar konglomerat Indonesia memilih konsolidasi atau defensif. Triputra justru masuk ke sektor baru yang tidak punya korelasi langsung dengan sumber pendapatan utamanya.
Presiden Direktur Triputra Group Arini Saraswati Subianto menegaskan bahwa investasi terbesar Triputra adalah pada sumber daya manusia. “Kami percaya banget bahwa pendidikan menjadi alasan buat kami berinvestasi di Indonesia,” katanya dalam peresmian gedung baru Upitra.
Dari sisi bisnis, model ini punya logika yang masuk akal bahwa Triputra Group dengan 60.000+ karyawan di berbagai sektor memiliki kebutuhan SDM yang konsisten dan besar. Memiliki jalur pendidikan sendiri yang dikontrol kualitasnya dan disesuaikan dengan kebutuhan industri Triputra, adalah cara yang lebih terstruktur dari sekadar rekrutmen pasar.
Ekspansi ke Filipina melalui joint venture dengan Fitma Education juga membuka sinyal bahwa Triputra sedang membangun platform pendidikan yang tidak hanya terbatas di Indonesia, mengikuti pola ekspansi bisnis intinya yang sudah beroperasi di kawasan ASEAN.
Langkah Triputra ini terjadi di tengah momentum kebijakan pemerintah yang mendorong penguatan vokasi dan link and match antara dunia pendidikan dan industri. Dalam beberapa tahun terakhir, Kemendikti menggalakkan program magang bersertifikat dan mendorong perusahaan swasta untuk terlibat lebih dalam di ekosistem pendidikan tinggi, bukan hanya sebagai donatur beasiswa tapi sebagai mitra operasional aktif.
Jika model Triputra terbukti menghasilkan lulusan yang terserap industri dengan cepat, ini bisa menjadi blueprint yang menarik bagi konglomerat lain. Selama ini, investasi korporasi di pendidikan tinggi Indonesia masih didominasi oleh yayasan dan lembaga keagamaan. Masuknya konglomerat bisnis besar seperti Triputra dengan jaringan industri yang luas dan model pendanaan yang berbeda bisa mengubah lanskap pendidikan tinggi swasta secara perlahan tapi signifikan.
Posted in Bisnis
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.