Unilever Indonesia membantah menjual Buavita, tapi ini bukan pertama kali bantahan serupa muncul sebelum sebuah merek akhirnya benar-benar dilepas.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menegaskan bisnis jus Buavita masih sepenuhnya milik perseroan. Melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 13 April 2026, Corporate Secretary UNVR Mario Abdi Amrillah menyatakan belum ada perjanjian jual beli dengan pihak mana pun dan tidak ada kejadian material yang perlu disampaikan kepada publik.
Bantahan ini merespons laporan DealStreetAsia pada 9 April yang menyebut Unilever Indonesia tengah mempertimbangkan divestasi Buavita sebagai kelanjutan dari strategi merampingkan portofolio yang berfokus ke segmen dengan pertumbuhan dan margin lebih tinggi. Laporan itu juga menyebut UBS kemungkinan sudah ditunjuk sebagai penasihat dalam proses ini.
Sejak 2024, Unilever Indonesia telah melepas dua lini bisnis besar. Bisnis es krim dijual ke PT The Magnum Ice Cream Indonesia senilai Rp 7 triliun pada November 2024. Kemudian pada Januari 2026, merek teh SariWangi dijual ke PT Savoria Kreasi Rasa, entitas di bawah Grup Djarum, senilai Rp 1,5 triliun. Keduanya merupakan bagian dari strategi global Unilever yang melepas bisnis makanan dan minuman untuk berkonsentrasi di segmen health, beauty, dan personal care.
Bisnis es krim dijual ke PT The Magnum Ice Cream Indonesia senilai Rp 7 triliun
SariWangi dilepas ke Grup Djarum melalui PT Savoria Kreasi Rasa senilai Rp 1,5 triliun
Rumor divestasi Buavita beredar. Manajemen UNVR membantah, proses belum terkonfirmasi
Buavita sendiri bukan merek kecil. Produk jus ready-to-drink ini secara konsisten berada di posisi pertama kategorinya berdasarkan TOP Brand Award Indonesia. Estimasi valuasinya berkisar antara Rp 2,5 triliun hingga Rp 4 triliun, kelipatan yang wajar untuk merek market leader di kategorinya. Kontribusinya ke pendapatan dan laba bersih UNVR memang di bawah 5%, tapi nilai merek ini bagi calon pembeli bisa jauh lebih besar.
Sampai saat ini bisnis jus Buavita milik perusahaan. Tidak ada informasi material yang harus disampaikan kepada masyarakat.
— Mario Abdi Amrillah, Corporate Secretary PT Unilever Indonesia Tbk, 13 April 2026
Terlepas dari performa laba yang membaik dengan laba bersih kuartal pertama 2026 tumbuh 21% secara tahunan didorong hasil divestasi sebelumnya, saham UNVR masih tertekan. Per penutupan 13 April, harga berada di Rp 1.910 per lembar, melemah 26,54% secara year-to-date. Pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin bahwa strategi ramping ini akan cukup untuk membalik tren penurunan jangka panjang saham UNVR yang sudah berlangsung sejak 2018.
Pola yang sama terjadi sebelum pelepasan SariWangi: rumor beredar, manajemen membantah, transaksi akhirnya terjadi beberapa bulan kemudian. Apakah Buavita akan mengikuti jalur yang sama masih belum bisa dipastikan, tapi arah strategis Unilever secara global sudah cukup jelas.
Posted in Bisnis