Konsumsi Indonesia di kuartal pertama 2026 terlihat positif di permukaan. Bank Indonesia mencatat rasio konsumsi terhadap pendapatan masyarakat naik ke 72,2% pada Maret 2026, naik dari 71,6% di Februari.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Q1 dari berbagai lembaga berkisar antara 5,2% hingga 5,5%, angka yang cukup solid di tengah ketidakpastian global. Tapi ada hal yang perlu dicermati lebih dekat sebelum menyebut ini sebagai perbaikan struktural bahwa kenaikan konsumsi kali ini hampir seluruhnya didorong oleh siklus musiman, bukan peningkatan daya beli riil.
Kuartal pertama 2026 memang penuh momentum konsumsi. Nataru di awal Januari, Imlek di Februari, lalu Ramadan dan Lebaran yang jatuh di akhir Maret. Secara historis, 2 momen terakhir Ramadan dan Lebaran menyumbang sekitar 30–40% dari total belanja ritel tahunan. Ditambah penyaluran THR pemerintah menggelontorkan Rp 55 triliun untuk ASN, sementara sektor swasta diperkirakan menyalurkan sekitar Rp 124 triliun.
Total dana yang berputar dari skema ini diproyeksikan mencapai Rp 179 triliun lebih. Tidak mengherankan kalau konsumsi terlihat melonjak.
Yang perlu diperhatikan dari data Survei Konsumen BI adalah pergerakan tabungan. Di saat rasio konsumsi naik, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan justru turun. Artinya, kenaikan belanja tidak berasal dari kenaikan penghasilan melainkan dari pergeseran prioritas alokasi pendapatan yang ada. Masyarakat memilih belanja lebih banyak di periode Lebaran, sementara tabungan tergerus.
Pola ini sebenarnya wajar dan berulang setiap tahun. Tapi konsekuensinya nampak di likuiditas di sektor perbankan bisa terpengaruh, dan daya beli pasca lebaran cenderung melemah. Para analis memproyeksikan pola konsumsi ini akan kembali normal pada kuartal kedua, seiring berakhirnya siklus belanja hari raya.
Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) memang naik ke 129,2 pada Maret dari 125 di Februari tapi kenaikan ini paling terasa di kelompok menengah ke atas. Untuk kelompok bawah, tekanan masih belum mereda.
Harga komoditas pangan yang naik sepanjang 2025, ditambah ketidakpastian dari konflik geopolitik Timur Tengah yang mendorong harga energi tetap tinggi, membuat ruang belanja kelompok ini tetap sempit.
Di luar konsumsi rumah tangga, ada dua faktor lain yang menopang proyeksi pertumbuhan Q1 yaitu akselerasi belanja pemerintah dan pemulihan sektor manufaktur.
Realisasi belanja pemerintah hingga Maret 2026 mencapai Rp 815 triliun, naik 31,4% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 600 triliun. Kemenkeu menyebut percepatan ini sebagai salah satu motor utama pertumbuhan Q1. Dari sisi penerimaan, pajak tumbuh 14,3% secara tahunan, mencapai Rp 462,7 triliun hingga Maret, sinyal bahwa aktivitas ekonomi masih cukup aktif.
Sektor manufaktur juga menunjukkan tren ekspansi, melanjutkan pemulihan yang dimulai sejak akhir 2025. Sementara sektor pertanian yang biasanya tumbuh lambat di bawah 2% pada 2025 berhasil melampaui 5%, dan momentumnya diprediksi berlanjut ke awal 2026.
Gabungan dari semua faktor ini membuat BI memproyeksikan pertumbuhan Q1 2026 di atas 5,2%, sementara pemerintah dan Kemenkeu lebih optimis di kisaran 5,5%. Data resmi dari BPS baru akan keluar sekitar akhir April atau awal Mei.
Angka 5,5% untuk Q1 memang terdengar baik. Tapi yang lebih relevan adalah apa yang terjadi setelah momentum Lebaran berakhir?
Konsumsi yang naik karena THR dan belanja hari raya tidak otomatis berlanjut ke kuartal berikutnya. Justru sebaliknya, pengeluaran besar di Maret kerap diikuti penyesuaian belanja di April dan Mei. Tekanan dari luar juga belum surut. Konflik Iran terus membayangi harga minyak dan biaya energi, tarif dagang Amerika Serikat masih menjadi variabel ketidakpastian bagi ekspor Indonesia, dan rupiah yang sempat melemah ke kisaran Rp 17.000 per dolar berdampak pada harga barang impor.
Untuk menilai apakah daya beli masyarakat Indonesia benar-benar membaik secara struktural, angka Q2 akan jauh lebih informatif dari Q1. Di situlah efek musiman sudah mereda, dan gambaran konsumsi riil akan lebih jelas terlihat.
Posted in Bisnis