Kevin Warsh Resmi Menggantikan Powell, Fed Berganti Kepala di Tengah Inflasi yang Membandel

ChatGPT Image 18 Mei 2026, 10.24.08

Senat Amerika Serikat mengkonfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve ke-17 pada Rabu (13/5/2026) dengan voting 54-45, paling sengit dalam pengangkatan ketua Fed selama ini. Hanya satu senator Demokrat yang menyeberang, John Fetterman dari Pennsylvania. Jabatan Warsh resmi dimulai saat masa Jerome Powell berakhir pada 15 Mei 2026.

Trump akhirnya mendapat ketua Fed pilihannya setelah lebih dari setahun menekan Powell dengan kritik publik yang tak ada habisnya. Tapi kemenangan itu mungkin tidak menghasilkan apa yang Trump paling inginkan yaitu pemotongan suku bunga.

Warsh Masuk di Momen yang Tidak Mudah

Warsh mengambil alih di saat inflasi masih di atas target 2% Fed selama lebih dari lima tahun, dan tekanan harga semakin kuat dari tarif dan lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah. Data yang keluar tepat di hari konfirmasi Warsh memperjelas tantangannya, harga grosir melonjak 6% di April didorong terutama oleh harga energi. CPI April naik 3,8% yoy, level tertinggi sejak pertengahan 2023 naik dari 3,3% di Maret.

Sebelum konflik Iran, Warsh sempat berargumen bahwa kemajuan AI akan mendorong produktivitas, menekan inflasi, dan memberi ruang bagi Fed untuk memangkas suku bunga. Tapi konteks itu sudah berubah. Selama hearing konfirmasi April, Warsh menyebut ekonomi AS masih menanggung efek riak dari lonjakan inflasi pasca-pandemi dan Fed perlu kerangka inflasi yang berbeda.

Suku Bunga: Pasar Tidak Optimis

Suku bunga saat ini tetap di 4,25–4,50%. Investor per 14 Mei memprediksi suku bunga akan tetap stagnan sepanjang sisa 2026, dengan kurang dari 3% yang memperkirakan ada pemotongan di salah satu rapat FOMC yang tersisa tahun ini. Bahkan peluang kenaikan suku bunga di Oktober sudah naik ke 20% dan 30% untuk Desember.

Di rapat FOMC terakhir April, tiga anggota mengisyaratkan langkah berikutnya bisa sama mudahnya berupa kenaikan suku bunga maupun pemotongan. Warsh memang punya visi memangkas suku bunga tapi ia butuh meyakinkan mayoritas komite yang terbagi dan skeptis terhadap pelonggaran kebijakan di tengah inflasi yang masih membandel.

Randall Kroszner, mantan governor Fed yang pernah bertugas bersama Warsh dari 2006 hingga 2009, merangkumnya dengan tepat: “The chair has the power to persuade. And they’re in a very strong position to be able to persuade. But they still need to persuade.”

Satu dinamika yang tidak biasa bahwa Powell tetap di dewan Fed sebagai governor biasa, masa jabatannya sebagai governor tidak berakhir sampai 2028. Ia tetap punya suara di FOMC. Ini situasi yang belum pernah terjadi dalam 75 tahun terakhir. Powell memutuskan tinggal karena penyelidikan kriminal Departemen Kehakiman atas renovasi kantor Fed yang ia lihat sebagai tekanan politik dari pemerintahan Trump.

Apa yang Berubah di Bawah Warsh

Warsh dikenal ingin merombak cara Fed berkomunikasi dengan lebih sedikit pernyataan publik, lebih sedikit forward guidance, dan fokus yang lebih sempit pada mandat inti Fed. Ia juga mendukung cara mengukur inflasi yang berbeda menggunakan “trimmed averages” yang membuang data outlier, yang menurutnya menunjukkan tekanan inflasi yang lebih moderat dari data headline.

Tapi perubahan gaya komunikasi lebih mudah dilakukan daripada perubahan arah suku bunga. Selama inflasi tetap di atas target dan harga energi belum turun, Warsh akan menghadapi tekanan antara Trump yang menginginkan suku bunga lebih rendah, dan komite Fed yang khawatir terhadap inflasi yang masih membandel.

Bagi Indonesia dan pasar berkembang lainnya, posisi Fed yang tahan suku bunga tinggi berarti dolar AS tetap kuat dan tekanan terhadap mata uang kawasan, termasuk rupiah, tidak akan mereda dalam waktu dekat.

Posted in ,

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.