Pertamina NRE Membangun Pabrik Biometanol dari Limbah Sawit, Target 35 Juta Ton pada 2035

picture by AI
picture by AI

Indonesia akan segera memiliki pabrik biometanol berbasis limbah cair kelapa sawit pertamanya. Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mengembangkan proyek ini di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara memanfaatkan Palm Oil Mill Effluent (POME), limbah cair yang dihasilkan dari proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit.

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menyebut produksi awal biometanol dari POME ditargetkan dimulai pada akhir 2026 atau awal 2027 dengan kapasitas awal 50 ton per tahun.
Harapannya akhir tahun ini atau awal tahun depan itu biometanol yang dari biogas atau POME yang ada di (KEK) Sei Mangkei itu sudah bisa dihasilkan. Itu sekitar 50 ton per tahun kurang lebih,” kata John dalam acara Energy Corner CNBC Indonesia, Jumat (24/4/2026).

Proyek ini masih berada pada tahap proof of concept, artinya kapasitas 50 ton per tahun adalah skala demonstrasi untuk membuktikan kelayakan teknologi dan ekonomi sebelum dikembangkan ke skala industri. Proyek dikembangkan bersama CRecTech Pte. Ltd. perusahaan teknologi bersih asal Singapura yang menggunakan teknologi katalitik CRecREF™ untuk mengonversi biogas berkualitas rendah menjadi biometanol bernilai tinggi langsung di lokasi produksi. Kedua pihak menandatangani MoU pada 2 April 2026. Target pasar biometanol mencakup sektor pembangkit dan transportasi maritim domestik, hingga ekspor ke Singapura.

Jika proof of concept berhasil, kapasitas produksi akan ditingkatkan secara bertahap dari 10.000 ton per tahun, lalu 30.000 ton, kemudian 35.000 ton, hingga target jangka panjang 35 juta ton per tahun pada 2035.

Biometanol yang dihasilkan dari POME memiliki kegunaan langsung di dua sektor. Pertama, sebagai bahan bakar alternatif di sektor maritim menggantikan solar dan heavy fuel oil (HFO) di kapal laut, sekaligus menekan emisi karbon sesuai regulasi lingkungan internasional yang semakin ketat di sektor pelayaran. Kedua, sebagai bahan bakar pembangkit listrik memperluas opsi bahan bakar rendah karbon untuk pembangkitan energi domestik.

John menilai biometanol memiliki peluang pasar yang besar. “Biometanol ini atau metanol ini sebenarnya market itu luas sekali. Memang dikuasai oleh konvensional metanol yang selama ini. Namun dengan tuntutannya harus ada green energy dan lain sebagainya, dekarbonisasi, kebutuhan untuk biometanol ini meningkat,” kata John.

Proyek Pertamina NRE ini bukan satu-satunya inisiatif yang memanfaatkan limbah sawit untuk energi. PTPN IV PalmCo juga mengoperasikan dua pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) berbasis POME di Riau, PLTBg Terantam dan PLTBg Tandun, dan berhasil menekan konsumsi solar lebih dari 2,6 juta liter dalam periode 2023–2025. PalmCo juga menargetkan groundbreaking delapan unit Compressed Biogas (CBG) baru pada 2026 dari total 17 proyek yang direncanakan, dengan potensi pendapatan sekitar Rp42,5 miliar per tahun.

Langkah-langkah ini relevan dalam konteks tekanan energi global saat ini. Di tengah volatilitas pasokan energi akibat konflik Timur Tengah, Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia dengan potensi POME yang sangat besar memiliki posisi unik untuk mengembangkan bahan bakar hijau dari sumber daya yang selama ini dianggap limbah.

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.