Perang AS-Israel versus Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 telah memukul pasar logam industri, namun dampaknya tidak seragam. Aluminium dan tembaga, dua logam paling kritis dalam rantai produksi global, bergerak ke arah yang berlawanan. Aluminium tengah mengalami krisis pasokan, sementara tembaga menghadapi risiko surplus akibat melemahnya permintaan industri.
Pada akhirnya ini adalah soal bagaimana satu konflik bisa menciptakan dua krisis berbeda secara bersamaan di dalam pasar komoditas yang sama.
Aluminium adalah logam yang paling langsung terdampak dari konflik ini. Kawasan Teluk Persia menyumbang sekitar 9% kapasitas produksi aluminium global, tapi bertanggung jawab atas 18% ekspor aluminium internasional di luar China, angka yang jauh lebih besar dari porsi produksinya. Ketika jalur Selat Hormuz tertutup dan infrastruktur peleburan di kawasan itu terdampak, konsekuensinya langsung terasa di pasar global.
Harga aluminium di London Metal Exchange (LME) melonjak ke kisaran US$3.540–US$3.670 per ton sepanjang April 2026, tertinggi dalam empat tahun setelah sebelumnya diprediksi bisa menembus US$4.000 per ton oleh sejumlah analis. Harga sempat menyentuh US$3.670/ton pada 16 April sebelum sedikit terkoreksi ke sekitar US$3.600/ton. Lebih dari 5 juta ton aluminium yang biasa dikirim melalui Selat Hormuz setiap tahun ke sekitar 70 negara di Asia, Eropa, dan Amerika Utara, kini terhambat.
Ada dua tekanan yang bekerja sekaligus pada aluminium. Pertama, gangguan pasokan langsung akibat infrastruktur peleburan yang terdampak dan jalur pengiriman yang terhenti. Kedua, biaya energi yang melonjak, peleburan aluminium sangat intensif energi, dan naiknya harga gas alam dan listrik secara global mendorong biaya produksi naik secara bersamaan, baik untuk fasilitas di kawasan konflik maupun di tempat lain yang mencoba mengisi celah pasokan.
Argus Media memperingatkan bahwa aluminium berpotensi mengalami supply shock berkepanjangan, terutama jika gangguan berlanjut ke paruh kedua 2026.
Tembaga bercerita berbeda. Tidak seperti aluminium, Timur Tengah bukan pusat produksi tembaga yang signifikan sehingga gangguan pasokan langsung lebih terbatas. Tapi konflik ini menciptakan risiko tembaga lewat jalur yang lebih tidak langsung: melemahnya permintaan global.
Analis Bloomberg Intelligence memperingatkan bahwa jika harga minyak melampaui US$150 per barel akibat eskalasi konflik, pertumbuhan ekonomi global akan terganggu secara signifikan. Tembaga adalah logam yang paling sensitif terhadap siklus ekonomi permintaannya sangat terkait dengan konstruksi, manufaktur, dan infrastruktur. Jika pertumbuhan melambat, permintaan tembaga ikut turun.
Dalam skenario ini, pasar tembaga bisa berbalik dari defisit menjadi surplus 100.000–200.000 ton. Harga tembaga yang sebelumnya melampaui US$12.000 per ton berpotensi turun di bawah US$10.000 seiring bertambahnya inventori dan melemahnya konsumsi. Produsen berbiaya tinggi seperti First Quantum Minerals dan Antofagasta akan paling terdampak dengan estimasi penurunan laba hingga 55% dan 32%.
Ada satu faktor yang memperumit gambaran tembaga yaitu kekurangan asam sulfat, bahan kimia kritis untuk pemrosesan tembaga melalui metode leaching. Di Republik Demokratik Kongo, hingga 60% produksi tembaga bergantung pada impor sulfur dari kawasan Teluk. Gangguan di sini bisa membatasi output tembaga secara fisik, menciptakan situasi paradoks di mana pasokan berkurang tapi permintaan yang lebih lemah tetap bisa mendorong pasar ke surplus.
Business Times Singapura mencatat bahwa Asia adalah kawasan paling rentan terhadap volatilitas harga kedua logam ini. Alasannya berlapis yaitu Asia adalah konsumen terbesar aluminium dan tembaga global, sekaligus kawasan yang paling bergantung pada rantai pasok dari Timur Tengah. China, India, Jepang, dan Korea Selatan bersama-sama menyerap 75% ekspor minyak dan 59% ekspor LNG dari kawasan tersebut dan ketergantungan serupa ada pada logam industri.
Untuk Indonesia, dampaknya terasa dari dua arah. Di sektor manufaktur, harga aluminium yang tinggi menambah beban biaya produksi untuk industri otomotif, elektronik, dan kemasan. Di sisi investasi, volatilitas harga komoditas menciptakan ketidakpastian bagi perusahaan pertambangan yang beroperasi di dalam negeri.
Selama Selat Hormuz belum dibuka kembali dan ketidakpastian geopolitik belum mereda, pasar logam industri akan terus bergerak tidak menentu dengan aluminium di bawah tekanan pasokan dan tembaga di bawah tekanan permintaan.
Yang menarik dari dinamika ini adalah betapa cepatnya satu peristiwa geopolitik bisa membalikkan asumsi pasar yang sudah mapan. Di awal 2026, konsensus analis menunjukkan pasar logam menuju keseimbangan yang relatif stabil. Dalam hitungan minggu setelah konflik pecah, seluruh gambaran itu berubah.
ING strategist Warren Patterson dan Ewa Manthey menyebut sinyal di pasar logam dasar masih sangat campur aduk, kenaikan tembaga dan aluminium setelah Trump memperpanjang gencatan senjata Iran secara indefinite tidak berarti risiko struktural sudah hilang. Selat Hormuz tetap tertutup, dan Tehran memberi sinyal tidak akan membuka kembali jalur itu selama blokade AS berlanjut.
Sumber: Argus Media, Oxford Economics, Bloomberg Intelligence, LME, TradingPedia, Yahoo Finance — Maret–April 2026.
Posted in Bisnis
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.