Tekstil Kembali Dilirik Negara, Danantara Siapkan Dana US$6 Miliar

ChatGPT Image 14 Apr 2026, 06.45.26

3 bulan setelah Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan kebangkitan BUMN di sektor tekstil, rencana itu masih bergerak di tempat yang sama yaitu tahap kajian.

Namun sinyal dari pemerintah semakin jelas bahwa negara akan masuk kembali ke industri yang pernah menjadi tulang punggung ekspor Indonesia, dengan Danantara sebagai kendaraan utamanya.

Rencana ini bermula dari rapat di Hambalang, Bogor, pada 11 Januari 2026. Prabowo memerintahkan pembentukan BUMN baru khusus tekstil. Bukan menghidupkan kembali entitas lama, melainkan mendirikan perusahaan pelat merah baru di bawah BPI Danantara. 

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kemudian mengumumkan dana yang disiapkan yaitu USD 6 miliar atau sekitar Rp 101 triliun, diarahkan untuk pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, dan peningkatan kapasitas ekspor.

Sritex di Tengah Rencana Besar

Konteks dari rencana ini tidak bisa dilepaskan dari kolapsnya PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara itu dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang dan terpaksa mem-PHK lebih dari 10.000 karyawan. Asetnya berupa tanah, bangunan, mesin, dan peralatan kini disewakan oleh tim kurator dengan nilai Rp 326,86 miliar per tahun.

Akuisisi aset Sritex menjadi salah satu opsi yang paling banyak dibicarakan. COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria, dalam pernyataannya di Kompleks Istana Kepresidenan pada 7 April 2026, menyebut opsi itu masih dalam proses perhitungan. 

“Kan kita tahu, dari dulu tekstil ini salah satu kekuatan Indonesia, kan? Kalau memang swastanya tidak begitu kuat, ya mungkin kalau perlu ya kita harus masuk. Tapi kan kita lagi pelajari, kan belum mulai juga.” Kutipan asli Dony dari sumber

Mensesneg Prasetyo Hadi sebelumnya lebih tegas bahwa pemerintah sudah menugaskan satu BUMN untuk fokus menangani persoalan tekstil dan garmen, termasuk penyelamatan kegiatan ekonomi Sritex. “Bagaimanapun Sritex harus kita selamatkan dalam artian kegiatan ekonominya tetap harus berjalan,” ujarnya.

Industri yang Butuh Lebih dari Sekadar Modal

Industri tekstil Indonesia memang menyimpan potensi besar, sekitar 4 juta tenaga kerja langsung dan nilai ekspor saat ini USD 4 miliar. Pemerintah menargetkan angka itu naik sepuluh kali lipat menjadi USD 40 miliar dalam satu dekade. Tapi tantangannya bukan hanya soal permodalan.

Dony menyebut dua keunggulan kompetitif Indonesia yaitu biaya tenaga kerja yang relatif rendah dan pasar domestik yang besar. Masalahnya, keunggulan itu belum cukup karena kebocoran impor tekstil masih masif. “Regulasi impor harus diperketat dulu, sehingga perusahaan dalam negeri punya ruang untuk bersaing,” katanya.

CEO Danantara Rosan Roeslani menambahkan bahwa kelemahan value chain industri tekstil nasional ada di segmen tengah yaitu produksi benang, kain, dyeing, printing, dan finishing. Inilah yang ingin diperkuat lewat investasi baru, bukan hanya menambal lubang yang ditinggalkan Sritex tapi membangun fondasi yang lebih utuh dari hulu ke hilir.

Danantara sendiri mengakui profitabilitas sektor ini tidak tinggi. Tapi lapangan kerja yang tercipta menjadi justifikasi utama. “Kita terbuka untuk investasi dengan return lebih rendah dari parameter kami, apabila penciptaan lapangan pekerjaan jauh lebih besar,” kata Rosan.

Kapan BUMN tekstil ini resmi terbentuk, belum ada kepastian. Dony menyebut masih banyak prioritas lain yang harus diselesaikan lebih dulu. Danantara saat ini mengawasi lebih dari 1.100 perusahaan BUMN yang perlu dirapikan satu per satu. Tekstil ada dalam daftar, namun antrenya panjang.

Posted in

Berita Terkait