Pada 2 April 2026, OpenAI mengumumkan akuisisi TBPN (Technology Business Programming Network) sebuah talk show harian yang tayang live di YouTube dan X selama 3 jam setiap hari kerja.
Ini adalah akuisisi media pertama OpenAI, dan langsung mengundang reaksi yang beragam mulai dari analis yang bingung, investor yang skeptis, hingga komunitas Silicon Valley yang antusias.
TBPN bukan media besar. Didirikan pada 2024 oleh dua mantan founder teknologi, John Coogan dan Jordi Hays, channel YouTube nya baru memiliki kurang dari 60.000 subscriber. Tapi tamu-tamunya adalah nama terbesar di industri seperti Mark Zuckerberg, Satya Nadella, Marc Benioff dan Sam Altman sendiri, yang menyebut TBPN sebagai acara tech favoritnya.
Lalu mengapa OpenAI membelinya?
Angka subscriber TBPN memang kecil. Tapi di dunia media, tidak semua audiens setara dan audiens TBPN adalah salah satu yang paling valuable di industri teknologi global. Yaitu investor, founder, dan pekerja tech yang mengikuti perkembangan AI secara aktif dan dekat.
Ini bukan audiens yang mudah dijangkau lewat iklan digital atau press release. Mereka adalah orang-orang yang membentuk opini tentang perusahaan seperti OpenAI dan keputusan mereka tentang mana platform AI yang mereka dukung, investasikan, atau bangun produk di atasnya sangat berpengaruh.
Fidji Simo, CEO of Applications OpenAI, menyebut dalam memo internal bahwa perusahaan memiliki “tanggung jawab untuk membantu menciptakan ruang bagi percakapan dan konstruktif tentang perubahan yang AI ciptakan.” TBPN, kata Simo, adalah tempat di mana percakapan itu sudah terjadi setiap hari.
Reaksi analis terpecah. Andrew Frank dari Gartner melihat bahwa perusahaan yang bergerak secepat OpenAI, memiliki platform komunikasi yang sudah punya kredibilitas akan jauh lebih efisien daripada membangun dari nol.
“Jika kamu adalah perusahaan seperti OpenAI, di mana semua orang menunduk ke depan menunggu berita, kamu butuh outlet yang sudah mapan untuk berkomunikasi dengan dunia yang lebih luas.”
Tapi Paul Nary, profesor M&A dari Wharton, tidak sepenuhnya yakin. Dan Daniel Newman dari Futurum Group menyebutnya “chasing vibes a little bit,” bergerak mengikuti momentum tanpa strategi yang benar-benar jelas.
Yang memperumit gambaran ini adalah siapa yang akan mengawasi TBPN di dalam OpenAI, Chris Lehane, kepala urusan global OpenAI. Lehane adalah sosok yang sangat tidak biasa di dunia teknologi.
Ia adalah arsitek komunikasi politik veteran yang pernah menciptakan frasa “vast right wing conspiracy” untuk membela Gedung Putih era Clinton. Kehadiran Lehane di atas TBPN segera menimbulkan pertanyaan tentang seberapa “independen” editorial sebuah talk show yang kini berada di bawah divisi strategi perusahaan yang sedang ia perjuangkan narasi publiknya?
OpenAI bergerak cepat untuk meredakan kekhawatiran itu. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menegaskan TBPN akan terus menjalankan programnya sendiri, memilih tamunya sendiri, dan membuat keputusan editorial sendiri.
“Itu adalah fondasi dari kredibilitas mereka, dan itu adalah sesuatu yang kami lindungi secara eksplisit sebagai bagian dari perjanjian ini,” tulis Simo.
Altman sendiri menambahkan dengan nada yang mengundang senyum: “Saya tidak berharap mereka akan lebih lunak kepada kami, dan saya yakin saya akan melakukan bagian saya untuk memungkinkan itu dengan keputusan bodoh sesekali.”
Tapi janji editorial independence dari pemilik baru selalu mudah diucapkan di awal. Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah TBPN akan tetap kritis terhadap OpenAI ketika ada kontroversi yang melibatkan perusahaan tersebut secara langsung dan seberapa lama kredibilitas yang dibangun Coogan dan Hays akan bertahan di bawah kepemilikan baru.
TBPN bukan satu-satunya akuisisi tidak biasa OpenAI belakangan ini. Sebelumnya, perusahaan sudah membeli studio perangkat keras Jony Ive senilai USD 6,4 miliar, startup health-tech Torch, dan merekrut developer viral asal Austria, Peter Steinberger.
Pola yang terlihat adalah eksperimentasi agresif di berbagai area dari hardware hingga media, di luar kompetensi inti AI yang menjadi fondasi perusahaan.
Bagi perusahaan yang baru saja menutup putaran pendanaan USD 122 miliar dan sedang mempersiapkan IPO, eksperimentasi ini masih bisa dibenarkan secara finansial. Tapi semakin banyak langkah yang sulit dijelaskan dengan narasi tunggal yang koheren, semakin besar pertanyaan investor tentang fokus dan disiplin alokasi modal.
Posted in Bisnis