Di hari yang sama saat BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61% di Q1 2026, rupiah justru mencatat pelemahan tajam menyentuh Rp17.445 per dolar AS pada intraday 5 Mei 2026 sebelum ditutup di Rp17.424.Demikian ini mencerminkan realita yang sudah lama diingatkan para ekonom bahwa fundamental ekonomi domestik yang kuat tidak selalu langsung tercermin dalam nilai tukar ketika tekanan global sedang dominan.
Malam harinya, Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka. Usai rapat, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan tujuh strategi yang telah direstui Prabowo untuk memperkuat rupiah.
“Kami melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan,” kata Perry dalam jumpa pers.
Perry menegaskan posisi rupiah saat ini undervalue lebih rendah dari nilai fundamentalnya. “Pertumbuhan sangat tinggi 5,61%, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” kata Perry.
1. Intervensi pasar valas, BI memperkuat intervensi di pasar valuta asing domestik maupun internasional. Perry menegaskan cadangan devisa “lebih dari cukup” untuk stabilisasi.
2. Perkuat inflow via SRBI, BI mendorong aliran modal asing masuk melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk mengimbangi outflow dari SBN dan pasar saham. Secara year to date, aliran modal portofolio asing masih positif.
3. Pembelian SBN dari pasar sekunder, BI bersinergi dengan Kementerian Keuangan membeli SBN di pasar sekunder. BI sudah membeli Rp123,1 triliun SBN secara year to date. Kemenkeu juga disiapkan untuk melakukan buyback SBN.
4. Jaga likuiditas perbankan, BI bersama Kemenkeu memastikan likuiditas di perbankan dan pasar uang tetap longgar. Pertumbuhan uang primer terakhir tercatat 14,1%, indikasi likuiditas mencukupi.
5. Pembatasan pembelian dolar tanpa underlying, Batas pembelian dolar AS tanpa aset dasar (underlying) di pasar domestik diturunkan dari US$100.000 menjadi US$50.000 per orang per bulan. BI menyiapkan penurunan lanjutan menjadi US$25.000 di atas angka itu wajib menyertakan dokumen underlying seperti invoice impor atau pembayaran jasa luar negeri.
6. Intervensi pasar offshore via NDF, BI mengizinkan bank domestik bertransaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore luar negeri untuk menambah pasokan valas global dan memperkuat stabilisasi rupiah.
7. Perketat pengawasan korporasi dan perbankan, BI mengirimkan pengawas langsung ke bank-bank korporasi dengan volume pembelian dolar tinggi. Dilakukan bersama Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi untuk memastikan stabilitas sistem keuangan terjaga.
Perry menjelaskan tiga faktor tekanan jangka pendek yang menekan rupiah. Pertama, harga minyak dunia yang tinggi akibat konflik Timur Tengah. Kedua, lonjakan yield US Treasury 10 tahun ke 4,47% yang mendorong penguatan dolar AS secara global dan memicu pelarian modal dari pasar negara berkembang. Ketiga, faktor musiman April–Juni: tingginya permintaan dolar untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan jemaah haji.
Kombinasi ketiganya menciptakan tekanan temporer yang tidak mencerminkan kondisi fundamental. BI meyakini rupiah akan kembali menguat seiring fundamental yang solid dan langkah-langkah stabilisasi yang diambil.
Pada Rabu (6/5/2026), rupiah sempat rebound menguat ke kisaran Rp17.372–Rp17.389 didorong sinyal deeskalasi konflik Timur Tengah setelah Trump mengumumkan “Project Freedom” dijeda sementara untuk memberi ruang negosiasi dengan Iran. Seluruh mata uang Asia menguat bersamaan, dengan won Korea memimpin penguatan 0,76%.
Namun penguatan itu tidak bertahan lama. Pada Kamis (7/5/2026) hari ini, berdasarkan data RTI Infokom, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.358–Rp17.411 dan ditutup menguat 0,22% ke Rp17.372 per dolar AS didorong sentimen positif setelah Trump kembali mengeluarkan pernyataan terkait potensi kesepakatan damai AS-Iran. JISDOR BI hari ini mencatat referensi kurs di Rp17.405.
Perry Warjiyo menegaskan rupiah masih undervalued dan akan kembali menguat seiring fundamental yaitu pertumbuhan 5,61%, inflasi 2,42%, dan cadangan devisa yang mencukupi. Tapi pasar butuh waktu untuk menyerap kebijakan baru sebelum sentimen benar-benar berbalik.
Sumber: onferensi pers BI di Istana Merdeka, 5 Mei 2026. Update rupiah: Bisnis.com, Tempo, Sindonews
Posted in Bisnis
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.