Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. mengumumkan penghentian sementara sekitar 50% lini produksi anak usahanya di Indonesia, PT Huafei Nickel Cobalt, mulai 1 Mei 2026. Pengumuman disampaikan melalui Bursa Saham Shanghai pada Selasa (29/4/2026), dan dikonfirmasi manajemen pada Kamis (1/5/2026).
“Setelah melalui kajian internal, Perusahaan memutuskan bahwa mulai 1 Mei 2026 akan dilakukan penghentian sementara sebagian lini produksi Huafei Nickel-Cobalt untuk pemeliharaan,” tulis manajemen Huayou dalam pengumuman resmi tersebut. Durasi penghentian tidak disebutkan.
Huafei beroperasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) generasi keempat untuk memproses bijih nikel laterit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan antara untuk baterai kendaraan listrik. Kapasitas produksi Huafei mencapai 120.000 ton MHP per tahun.
Pada 2025, Huafei membukukan pendapatan 14,5 miliar yuan (~US$2,12 miliar) berkontribusi 17,89% terhadap total pendapatan Huayou Group, dengan laba bersih yang diatribusikan ke induk sebesar 569 juta yuan atau 9,32% dari laba bersih Huayou.
Manajemen menyebut dua faktor yang bekerja bersamaan. Pertama, lonjakan harga sulfur yang merupakan bahan baku utama untuk produksi asam sulfat yang digunakan dalam proses HPAL. Harga spot sulfur yang dikirimkan ke Indonesia sudah melampaui US$800 per metrik ton didorong oleh gangguan produksi dan distribusi akibat konflik di Timur Tengah. Kawasan Teluk Persia menyumbang sekitar seperempat pasokan sulfur global dan sekitar 75% kebutuhan sulfur Indonesia. Dengan harga setinggi ini, biaya operasional Huafei meningkat drastis dan mengurangi kelayakan ekonomi untuk beroperasi penuh.
Kedua, kebutuhan pemeliharaan fasilitas Huafei telah beroperasi dalam kapasitas tinggi sejak awal tanpa mendapat perawatan menyeluruh. Pada HPAL plant, operasi berkepanjangan dengan throughput tinggi mempercepat keausan pada vessel autoklaf, heat exchanger, lining tahan asam, dan sistem pompa. Penghentian parsial ini memberi kesempatan perbaikan sebelum kerusakan lebih besar terjadi.
Huayou bukan satu-satunya yang terdampak. Reuters sudah melaporkan pada 14 April 2026 bahwa beberapa produsen HPAL lain di Indonesia termasuk yang dioperasikan Lygend Resources dan Tsingshan Group sudah memangkas produksi setidaknya 10% sejak Maret akibat lonjakan harga sulfur. Penghentian 50% di Huafei menjadi ekspresi paling konkret dari krisis sulfur ini di level satu fasilitas.
Sebagai respons, Huayou menyatakan akan mempercepat peningkatan proses untuk mengurangi konsumsi asam sulfat, memperluas jalur pasokan sulfur dari sumber non-Teluk, dan mempercepat pengembangan sumber daya tambang nikel, kobalt, dan litium yang dimiliki melalui investasi dan kepemilikan saham.
Penghentian ini berdampak signifikan terhadap kinerja Huayou, fasilitas yang berkontribusi hampir seperlima dari total pendapatan grup kini beroperasi setengah kapasitas. Untuk industri nikel Indonesia yang sedang menghadapi tekanan oversupply global, pengurangan output dari HPAL plant terbesar di IWIP juga bisa memberi sedikit ruang bagi penyeimbangan pasar meski efeknya terbatas selama konflik Timur Tengah belum mereda dan harga sulfur tetap tinggi.
Posted in Bisnis
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.