Perencanaan Water Taxi Bali Bandara ke Canggu 30 Menit, Konstruksi Mulai Agustus

ChatGPT Image May 6, 2026, 03_30_49 PM

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan resmi menyiapkan proyek water taxi di Bali senilai Rp1,21 triliun sebagai solusi mengurai kemacetan di kawasan pariwisata Kabupaten Badung. Konstruksi dijadwalkan mulai Agustus 2026 hingga Juli 2027, dengan studi kelayakan yang sudah rampung dan tahap Detail Engineering Design (DED) tengah disusun oleh PT ASDP Indonesia Ferry bersama PT Angkasa Pura Indonesia.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan rencana ini dalam Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI pada 8 April 2026. “Water taxi merupakan salah satu solusi alternatif dalam mengintegrasikan transportasi darat, laut, dan udara untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di Provinsi Bali, khususnya di Kabupaten Badung,” kata Dudy.

Update terbaru datang dari Direktur Utama ASDP Heru Widodo yang pada 19 April 2026 mengonfirmasi bahwa feasibility study sudah selesai dan proyek siap dilanjutkan ke tahap DED dan pengurusan perizinan.

Rute dan Potensi Waktu Tempuh

Rute prioritas tahap pertama adalah Sekeh–Canggu (Berawa) menghubungkan kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan Canggu, salah satu pusat wisata Bali yang paling padat.

Berdasarkan hasil kajian lapangan, perjalanan darat dari bandara ke Canggu bisa memakan waktu 1–2 jam di kondisi normal, bahkan lebih saat musim ramai. Melalui jalur laut, waktu tempuh diperkirakan hanya sekitar 30 menit.

Selain rute Bandara–Canggu, pemerintah juga mempertimbangkan pengembangan jaringan yang lebih luas ke destinasi wisata pesisir lain seperti Nusa Dua dan Seminyak. Namun untuk tahap awal, fokus diarahkan ke koridor yang paling kritis dari sisi beban lalu lintas.

Untuk menjamin keselamatan, desain proyek akan dilengkapi breakwater (penahan gelombang) di titik-titik tertentu mengingat perairan di jalur ini tergolong ekstrem dan membutuhkan perlindungan infrastruktur tambahan. Investasi Rp1,21 triliun mencakup pembangunan dermaga, fasilitas keselamatan, dan breakwater tersebut.

ASDP dan Angkasa Pura Siap

PT ASDP Indonesia Ferry, operator penyeberangan BUMN, ditunjuk sebagai pelaksana utama proyek ini. Heru Widodo menegaskan komitmen ASDP dalam mendukung kebijakan pemerintah. “Kami berperan aktif mendukung persiapan layanan yang menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu. Inisiatif ini merupakan langkah strategis dalam merespons kebutuhan mobilitas yang semakin dinamis, sekaligus memperkuat konektivitas antarmoda di kawasan pariwisata unggulan,” kata Heru dalam keterangan resmi, 19 April 2026.

Tahap DED dan perizinan ditargetkan rampung pada 2026 sebelum dilaporkan ke pemerintah untuk arahan lanjutan. Setelah konstruksi selesai Juli 2027, uji coba operasional dijadwalkan dilakukan sebelum layanan dibuka penuh.

Swasta Sudah Duluan

Menariknya, konsep water taxi di Bali sebenarnya bukan sepenuhnya baru. Operator swasta GoBoat sudah lebih dulu menjalankan rute reguler antara Canggu dan Uluwatu, membuktikan ada permintaan nyata dari wisatawan untuk transportasi laut alternatif. 

Kehadiran pemain swasta ini justru menjadi validasi awal bahwa model bisnis water taxi di Bali layak secara komersial, sebelum pemerintah masuk dengan skema infrastruktur yang lebih besar dan terintegrasi.

Perbedaannya proyek pemerintah ini dirancang sebagai sistem transportasi publik terintegrasi, bukan sekadar layanan boat charter dengan koneksi langsung ke bandara, kapasitas lebih besar, dan standar keselamatan yang diatur regulasi.

Bagian dari Strategi Besar Atasi Kemacetan Bali

Proyek water taxi adalah satu dari beberapa inisiatif yang dijalankan bersamaan. Kemenhub juga mendorong pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang di Buleleng untuk mengurangi beban penyeberangan Ketapang–Gilimanuk, serta penambahan dermaga dan pelabuhan alternatif di utara dan timur Bali untuk distribusi arus kendaraan yang lebih merata.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa berbagai proyek infrastruktur strategis sedang dipersiapkan serentak pada 2026 mulai dari pengembangan jalan, fasilitas parkir, hingga koneksi baru antar kawasan wisata. “Semua ini untuk mengurai kemacetan dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Koster.

Kemacetan Bali sudah lama menjadi keluhan utama wisatawan dan pelaku industri pariwisata. Dengan jumlah wisatawan mancanegara yang terus tumbuh dan kapasitas jalan yang tidak bisa diperluas secara signifikan, solusi berbasis laut seperti water taxi membuka dimensi baru dalam perencanaan transportasi pulau.

Tantangan yang Belum Terjawab

Proyek ini menjanjikan, tapi sejumlah pertanyaan masih terbuka. Pertama, soal tarif belum ada angka resmi yang diumumkan. Apakah water taxi ini akan terjangkau untuk wisatawan backpacker, atau hanya relevan untuk segmen premium? Penetapan tarif akan sangat menentukan tingkat utilisasi dan keberlanjutan layanan.

Kedua, soal integrasi dengan transportasi lain di bandara dan di Canggu. Wisatawan yang tiba di dermaga Canggu masih perlu transportasi darat terakhir untuk sampai ke akomodasi mereka dan Canggu dikenal dengan gang-gang sempit yang tidak ramah kendaraan besar. Konektivitas last mile ini perlu dijawab sebelum layanan benar-benar berfungsi sebagai solusi end-to-end.

Ketiga, timeline yang ketat. Konstruksi Agustus 2026–Juli 2027 adalah target ambisius untuk infrastruktur maritim yang melibatkan pembangunan breakwater dan dermaga di perairan terbuka. Keterlambatan proyek infrastruktur pemerintah bukan hal yang langka.

Yang jelas, jika water taxi Bali berhasil beroperasi sesuai jadwal dan terjangkau, ini bukan hanya solusi kemacetan tapi juga positioning ulang Bali sebagai destinasi wisata yang modern dan berkelanjutan di mata wisatawan internasional.

Sumber: Kompas.com, ANTARA, Beritasatu, Koran Jakarta, Social Expat, The Bali Sun — 8–20 April 2026.

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.