PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengumumkan rencana akuisisi 60% saham PT Sarana Global Indonesia (SGI) senilai Rp280,4 miliar melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 13 April 2026. INET akan mengambil alih 180.000 lembar saham baru SGI dengan harga pelaksanaan Rp1.557.799 per saham, menjadikan INET sebagai pemegang saham pengendali SGI setelah transaksi selesai.
Nilai transaksi ini setara 65,33% dari total ekuitas INET berdasarkan laporan keuangan audited per 31 Desember 2025, sehingga dikategorikan sebagai transaksi material yang memerlukan persetujuan pemegang saham melalui RUPS yang dijadwalkan 19 Mei 2026.
PT Sarana Global Indonesia adalah perusahaan kontraktor telekomunikasi yang fokus pada pembangunan jaringan kabel laut melalui entitas anaknya. Penilai independen menaksir nilai pasar 100% saham SGI di Rp175,2 miliar, harga akuisisi INET berada sedikit di atas valuasi itu, tapi dinyatakan wajar berdasarkan analisis independen.
Bagi INET, SGI bukan sekadar aset konstruksi. Direktur INET Willy Usulangi menjelaskan akuisisi ini memperkuat kapabilitas end to end perseroan dari membangun hingga mengoperasikan jaringan kabel laut secara mandiri.
Selama ini, operator telekomunikasi yang ingin memasang kabel bawah laut harus bergantung pada kontraktor pihak ketiga. Dengan memiliki SGI, INET bisa mengerjakan proyek sendiri sekaligus menawarkan jasa instalasi ke operator lain, membuka sumber pendapatan baru dari jasa konstruksi.
Sinergi ini relevan langsung dengan proyek kabel laut INET yang sudah berjalan, pembangunan kabel laut Jakarta–Batam–Singapura dengan kapasitas 20 terabit per detik (Tbps), salah satu infrastruktur backbone digital paling strategis yang sedang dibangun swasta nasional.
Akuisisi SGI bukan langkah pertama INET dalam beberapa bulan terakhir. Februari 2026, INET mengakuisisi PT Trans Hybrid Communication (THC), perusahaan teknologi yang memperkuat ekosistem konektivitas internasional dan layanan cloud.
Manajemen menyebut sinergi jaringan fiber optik, konektivitas internasional, dan layanan cloud sebagai tiga pilar utama pertumbuhan ke depan.
Sebelumnya, Januari 2026, INET juga menerbitkan surat utang Rp1 triliun, terdiri dari obligasi dan sukuk ijarah masing-masing Rp500 miliar untuk mendanai ekspansi. Sebagian besar dana diarahkan ke pengembangan jaringan FTTH (Fiber to the Home) berkecepatan tinggi berbasis teknologi Wi-Fi 7 di Bali dan Lombok melalui anak usaha PT Garuda Prima Internetindo, dengan target layanan 2 juta pelanggan. Sisa dana digunakan untuk melunasi biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut.
Pola ini menggambarkan strategi INET yang jelas bahwa membangun infrastruktur digital hulu ke hilir, dari kabel laut antar pulau dan internasional, jaringan distribusi fiber di darat, hingga layanan langsung ke pelanggan akhir.
Nilai akuisisi SGI yang mencapai 65% dari ekuitas perseroan merupakan komitmen besar yang mengubah struktur keuangan INET secara material. Jika proyek-proyek strategis tidak berjalan sesuai jadwal atau permintaan pasar tidak tumbuh secepat proyeksi, beban ini bisa menekan kondisi keuangan.
Di sisi saham, pergerakan INET di awal 2026 juga lebih moderat dibanding 2025. Pada 13 April 2026, saham INET ditutup di Rp306 per lembar, mencerminkan pasar yang masih mencermati realisasi dari serangkaian aksi korporasi sebelum memberikan apresiasi lebih lanjut.
Analis Kiwoom Sekuritas memasukkan INET sebagai salah satu saham pilihan utama untuk 2026, dengan potensi kenaikan hingga 64% namun dengan catatan bahwa pertumbuhan utama dari segmen FTTH B2C baru diproyeksikan mulai terealisasi pada 2027.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Konektivitas antar pulau dan ke jaringan internet global hampir sepenuhnya bergantung pada kabel laut, bukan satelit, yang kapasitasnya masih terbatas dan latensinya lebih tinggi.
Namun selama ini, sebagian besar infrastruktur kabel laut yang melintasi perairan Indonesia dikuasai konsorsium internasional atau operator asing.
Langkah INET membangun kabel Jakarta–Batam–Singapura dengan kapasitas 20 Tbps dan mengakuisisi kontraktor kabel laut lokal menandai upaya nyata swasta nasional untuk mengambil peran lebih besar di segmen ini. Batam–Singapura adalah salah satu koridor data tersibuk di Asia Tenggara. Hampir semua trafik internet Indonesia yang menuju ke server global melewati jalur ini. Memiliki infrastruktur sendiri di koridor tersebut bukan hanya soal bisnis, tapi juga soal kedaulatan digital.
Bila seluruh rangkaian akuisisi dan proyek INET berjalan sesuai rencana, perusahaan ini berpotensi menjadi salah satu pemain infrastruktur digital terpadu pertama di Indonesia yang mengontrol rantai dari kabel laut, distribusi fiber darat, hingga layanan pelanggan akhir, model yang di luar negeri sudah dijalankan oleh pemain seperti Singtel atau Telstra.
Sumber: Kompas.com, Bisnis.com, Bareksa, Selular.id, Neraca.co.id, Indopremier — April 2026.
Posted in Bisnis
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.