Pertamina dan Toyota Membangun Pabrik Bioetanol di Lampung, Produksi Mulai 2028

ChatGPT Image May 6, 2026, 03_39_07 PM

Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) dan Toyota Tsusho resmi melangkah ke tahap konkret dalam kerja sama pengembangan bioetanol di Indonesia. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengumumkan rencana pembangunan pabrik bioetanol di Lampung dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Program ini sebenarnya sudah kita jalankan dari tahun kemarin. Tetapi kita silent memang development-nya. Sudah ada rencana kooperasinya antara Pertamina New Renewable Energy dengan Japanese Group. Dalam hal ini nanti yang akan ditunjuk adalah Toyota Tsusho yang akan menjadi partner,” kata Todotua.

Konstruksi pabrik ditargetkan mulai pada kuartal III atau paling lambat kuartal IV 2026, dengan kapasitas produksi awal sebesar 60.000 kiloliter per tahun. Jika pembangunan berjalan sesuai jadwal yang diperkirakan memakan waktu sekitar dua tahun, pabrik ini bisa mulai berproduksi pada awal 2028.

Teknologi 2G dan Bahan Baku Lokal

Proyek ini bukan bioetanol konvensional. Teknologi yang digunakan adalah bioetanol generasi kedua (2G) berbasis multi feedstock, pendekatan yang memungkinkan pengolahan limbah pertanian dan biomassa non-pangan menjadi etanol, bukan hanya tanaman pangan langsung.

Bahan baku yang akan dimanfaatkan mencakup biomassa kelapa sawit, jagung, sorgum, tebu, ubi, dan singkong, semuanya tersedia secara domestik. Lampung dipilih sebagai lokasi karena memiliki pasokan feedstock yang kuat, terutama tebu dan komoditas pertanian lainnya. Proyek ini juga mencakup pengembangan lahan bahan baku seperti sorgum.

Selain Toyota Tsusho, kerja sama ini juga akan melibatkan lembaga riset RA-BIT (Research Association of Biomass Innovation for Next Generation automobile Fuels) dari Jepang, lembaga yang didukung langsung oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI). Todotua menyebut kerja sama ini juga membuka peluang pembangunan fasilitas riset di Indonesia.

Nilai investasi proyek masih dalam proses perhitungan oleh konsultan yang sudah ditunjuk. “Untuk running cost investment-nya masih berjalan, tetapi sudah ada rencana pembangunan pabrik etanolnya,” kata Todotua.

Konteks: Mandatori E10 pada 2028

Proyek ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari kebijakan mandatori biofuel pemerintah yang sudah memiliki peta jalan jelas. Pemerintah menetapkan campuran bioetanol E5 (5%) pada bensin mulai 2026–2027, naik ke E10 (10%) pada 2028–2030, dengan target jangka panjang menuju E20.

Kita melakukan ini dalam kerangka memang kita harus mem-prepare apabila nanti masuk dalam mandatori E10 itu negara kita juga siap untuk provide kebutuhan etanolnya,” kata Todotua.

Kapasitas produksi Indonesia saat ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Total kapasitas pabrik etanol yang ada di Indonesia saat ini sekitar 120.000 kiloliter dan yang efektif beroperasi diperkirakan hanya sekitar 80.000 kiloliter. Pabrik baru Pertamina-Toyota dengan kapasitas 60.000 kiloliter akan menambah kapasitas nasional secara signifikan.

CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda menegaskan bahwa kesepakatan ini menandai pergeseran dari tahap penjajakan ke tahap yang lebih terukur. Ia juga menyampaikan bahwa bioetanol dapat langsung digunakan pada kendaraan yang sudah diproduksi saat ini tanpa perlu modifikasi besar. 

Bersama dengan pemerintah, kita bisa memberikan etanol pada jenis kendaraan yang sudah kita miliki,” kata Maeda.

Sinyal Lebih Besar

Bagi Indonesia, proyek ini memiliki implikasi yang melampaui sekadar satu pabrik. Di tengah tekanan energi global akibat konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan minyak bumi, percepatan pengembangan bahan bakar nabati domestik menjadi semakin relevan. 

Bioetanol berbasis tanaman lokal adalah salah satu jalur yang tidak bergantung pada rantai pasok Timur Tengah.

Bagi Toyota, langkah ini merupakan strategi adaptasi di pasar otomotif yang tengah bergeser, memposisikan kendaraan berbahan bakar internal combustion engine (ICE) tetap relevan melalui transisi ke bahan bakar rendah karbon, sebelum elektrifikasi penuh benar-benar matang di pasar seperti Indonesia.

Todotua menyebut kolaborasi ini sebagai contoh nyata sinergi antara BUMN dan investor global.

Kami melihat kolaborasi Pertamina dan Toyota menjadi contoh sinergi yang nyata antara BUMN dan investor global dalam membangun ekosistem energi masa depan di Indonesia,” ujarnya.

Proyek ini masih dalam tahap persiapan. Studi kelayakan ekonomi sedang berjalan, struktur proyek masih disusun, dan nilai investasi belum final. Konstruksi belum dimulai. Pemerintah menargetkan proses menuju kesepakatan dapat ditindaklanjuti hingga tahap konstruksi paling lambat pada 2028, tapi antara pengumuman hari ini dan pabrik yang benar-benar beroperasi, masih ada panjang jalan yang harus ditempuh.

Keberhasilan proyek ini juga akan sangat bergantung pada kestabilan harga bahan baku, kesiapan lahan perkebunan sorgum dan komoditas pendukungnya, serta konsistensi kebijakan mandatori biofuel pemerintah dalam jangka menengah. Tapi sebagai sinyal arah, pengumuman hari ini cukup kuat: Indonesia serius membangun industri bioetanol domestik dan Toyota memilih Indonesia sebagai salah satu basis pengembangannya di Asia.

Sumber: CNBC Indonesia, IDX Channel, Liputan6, Kompas.TV, Koran Jakarta — 20 April 2026.

Posted in

Berita Terkait

Banyak Dibaca

Partner

Magazine

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.