Grab Akuisisi Foodpanda Taiwan USD 600 Juta, Ekspansi Pertama di Luar Asia Tenggara

IMG_9064

Grab Holdings akan mengakuisisi bisnis Foodpanda di Taiwan dari perusahaan induknya, Delivery Hero asal Jerman, senilai USD 600 juta atau sekitar Rp10 triliun secara tunai.

Ini adalah ekspansi pertama Grab ke luar Asia Tenggara. Taiwan menjadi pasar kesembilan perusahaan, dan yang pertama di luar kawasan yang selama ini menjadi basis utamanya.

Transaksi masih menunggu persetujuan regulator dan ditargetkan selesai pada paruh kedua 2026. Grab menargetkan transisi seluruh pengguna, mitra merchant, dan mitra pengemudi ke platform mereka pada awal 2027. Setelah akuisisi rampung, Grab akan beroperasi di 21 kota di seluruh Taiwan.

Mengapa Taiwan, dan Mengapa Sekarang

CEO Grab Anthony Tan menyebut Taiwan sebagai “langkah alami berikutnya” bagi perusahaan.

“Our longstanding expertise in managing complex delivery logistics for dense and high-traffic cities is well-suited for Taiwan,” ujarnya dalam pernyataan.

Taiwan punya karakteristik yang relevan dengan keahlian Grab, yaitu kota padat, populasi sekitar 23 juta jiwa, dan permintaan tinggi terhadap layanan berbasis mobile.

Bisnis Foodpanda di Taiwan pada 2025 tercatat menghasilkan Gross Merchandise Value sekitar USD 1,8 miliar atau sekitar EUR 1,5 miliar, angka yang cukup besar untuk membenarkan harga akuisisi senilai USD 600 juta.

Dari sisi finansial, Grab memproyeksikan akuisisi ini akan menambah setidaknya USD 60 juta dalam adjusted core earnings pada 2028.

Grab juga mempertahankan proyeksi adjusted EBITDA 2026 di kisaran USD 700-720 juta, dan memperkirakan pendapatan grup 2026 antara USD 4,04-4,10 miliar.

Peluang yang Uber Tidak Dapatkan

Ada konteks penting yang memperkuat makna akuisisi ini. Setahun sebelumnya, Uber mencoba membeli bisnis Foodpanda Taiwan dari Delivery Hero dengan nilai USD 950 juta, namun deal itu diblokir oleh Taiwan Fair Trade Commission pada Desember 2024 karena entitas gabungan Uber Eats dan Foodpanda akan menguasai lebih dari 90% pasar pengiriman makanan di Taiwan, memunculkan kekhawatiran serius soal persaingan.

Grab masuk dengan posisi yang berbeda, sebagai pemain baru yang tidak memiliki kehadiran di Taiwan sebelumnya. Sehingga akuisisi ini tidak menciptakan konsentrasi pasar yang sama.

Foodpanda saat ini menguasai sekitar 52 % pangsa pasar pengiriman makanan di Taiwan, sementara Uber Eats memegang 48%. Grab akan mewarisi posisi nomor satu tapi dari titik yang lebih bisa diterima regulator.

Saham Grab di NASDAQ naik 2,3% pada hari pengumuman. Analis Maybank Securities Hussaini Saifee menyebut akuisisi ini sebagai “a compelling new growth leg” bagi Grab.

Delivery Hero: Menjual untuk Melunasi Utang

Di sisi penjual, Delivery Hero menerima tawaran Grab sebagai bagian dari strategic review yang sedang berjalan. CEO Delivery Hero Niklas Östberg menyebutnya sebagai “langkah pertama yang menentukan” dalam proses review tersebut, dengan hasil penjualan akan digunakan untuk melunasi utang perusahaan.

Bagi Delivery Hero, ini bukan keputusan strategis untuk keluar dari Taiwan semata, melainkan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperbaiki struktur keuangan perusahaan yang selama ini menanggung beban utang cukup besar.

Aspex, dana investasi asal Hong Kong yang merupakan pemegang saham terbesar kedua Delivery Hero, bahkan sempat mengancam akan mengganti CEO Niklas Östberg jika tidak segera melakukan divestasi aset luar negeri. Penjualan Taiwan kepada Grab adalah jawaban pertama atas tekanan itu.

Taiwan, meski sudah profitable, tampaknya dinilai lebih bernilai sebagai aset yang dilikuidasi daripada dipertahankan dalam portofolio jangka panjang.

Bagi Grab, langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi Grab. Selama bertahun-tahun, Grab dikenal sebagai superapp yang sangat terfokus pada Asia Tenggara, mengintegrasikan ride hailing, pengiriman makanan, grocery, dan layanan keuangan digital dalam satu ekosistem di 8 negara kawasan.

Taiwan adalah sinyal bahwa Grab kini siap melampaui batas geografis yang selama ini mendefinisikan identitasnya.

Grab juga menyebut sejumlah teknologi AI yang akan diintegrasikan ke dalam operasional Foodpanda Taiwan setelah transisi selesai. GrabMaps, sistem navigasi internal yang memungkinkan perencanaan rute real time dan prediksi waktu persiapan makanan akan digunakan untuk meningkatkan efisiensi pengiriman. Grab juga berencana menghadirkan AI merchant assistant yang memberi restoran mitra akses ke analitik penjualan real-time dan dukungan pemasaran digital, serta sistem rekomendasi personal yang memanfaatkan lebih dari 50 juta pengguna aktif bulanan Grab secara global.

Grab sebenarnya sudah punya kehadiran di Taiwan, sebuah kantor di Taipei 101 yang selama ini beroperasi sebagai pusat penelitian dan pengembangan, terutama untuk rekrutmen talenta engineering dan teknologi. Akuisisi ini mengubah kehadiran itu dari back office menjadi operasional bisnis penuh.

Namun meski begitu, apakah Grab akan masuk ke ride hailing di Taiwan masih belum terjawab. Pasar itu sudah diisi oleh Taiwan Taxi, LINE GO, dan Uber dalam ekosistem tiga pemain yang cukup stabil.

Grab belum memberikan pernyataan resmi soal rencana ekspansi ke segmen itu, dan dengan regulasi yang ketat, kemungkinan besar prioritas pertama adalah membangun fondasi di food delivery sebelum bergerak ke layanan lain.

Posted in

Berita Terkait