Selama setahun terakhir, boneka Labubu dengan telinga runcing dan gigi menyembul itu menggantung di tas tangan Rihanna, Lisa BlackPink, dan jutaan orang lainnya di seluruh dunia. Kini, karakter yang sama akan muncul di layar bioskop.
Pada 18 Maret 2026 di Paris dalam rangkaian tur pameran global The Monsters merayakan ulang tahun ke 10, Pop Mart dan Sony Pictures Entertainment mengumumkan pengembangan film Labubu.
Disutradarai oleh Paul King, nama di balik dua film Paddington dan Wonka, film ini akan dikerjakan sebagai hybrid live action dan CGI. Skenario ditulis bersama oleh King dan Steven Levenson, penulis Dear Evan Hansen yang sudah memenangkan Tony Award.
Kasing Lung, seniman asal Hong Kong yang menciptakan karakter Labubu, akan menjabat sebagai executive producer.
Labubu lahir bukan dari tangan korporasi, melainkan dari buku ilustrasi. Kasing Lung yang lahir di Hong Kong dan besar di Belanda menciptakan karakter Labubu dan semesta The Monsters melalui serangkaian buku gambar yang diterbitkan sejak 2015. Karakter-karakter ini kemudian diadaptasi menjadi mainan oleh How2Work sebelum akhirnya Pop Mart mengakuisisi lisensinya pada 2019.
Di tangan Pop Mart, Labubu menjadi salah satu produk blind box paling diminati di dunia. Blind box (format di mana pembeli tidak tahu model mana yang akan mereka dapat hingga kotak dibuka) menciptakan elemen kejutan yang membuat koleksi terasa adiktif dan mendorong pembelian berulang. Ditambah dengan keterbatasan produksi edisi khusus yang membuat beberapa figur bisa terjual ribuan dolar di pasar sekunder, Labubu tumbuh menjadi fenomena yang sulit dijelaskan tapi mudah dirasakan.
Pada paruh pertama 2025, seri The Monsters menyumbang 34,7% dari total pendapatan Pop Mart? jauh melampaui seri lain seperti Molly di 9,8% dan Skull Panda di 8,8%. Pop Mart menjual lebih dari 100 juta boneka Labubu di seluruh dunia sepanjang tahun lalu.
Keputusan Pop Mart dan Sony untuk menggandeng Paul King bukan sekadar nama besar. King punya rekam jejak yang sangat spesifik yaitu mengambil karakter dengan daya tarik visual dan emosional yang kuat tapi minim narasi, lalu membangunnya menjadi film yang membuat penonton benar-benar peduli.
Paddington, seekor beruang kecil sopan dari Peru yang menavigasi kehidupan di London sudah ada sebagai tokoh buku anak selama puluhan tahun sebelum King mengangkatnya ke layar lebar pada 2014. Hasilnya menjadi salah satu film keluarga yang paling hangat diterima dalam satu dekade terakhir, diikuti sekuel yang bahkan lebih kuat. Wonka, film musikal asal-usul Willy Wonka yang King sutradarai pada 2023, meraup lebih dari USD 635 juta secara global.
Labubu menghadirkan tantangan yang mirip dengan Paddington, yaitu karakter dengan daya pikat yang selama ini bersifat visual dan taktil berupa kesenangan blind box, rasa memegang fisik koleksinya, hingga status sosial memakainya di tas, dan kini harus diterjemahkan ke dalam sebuah narasi yang bisa berdiri sendiri di layar. King adalah salah satu dari sedikit sutradara yang punya portofolio untuk membuktikan bahwa ia bisa melakukan itu.
Bloomberg membaca keputusan ini dengan sedikit lebih skeptis: Pop Mart bertaruh bahwa sebuah film bisa menghidupkan kembali minat terhadap Labubu di saat pertumbuhan penjualan mulai melambat dan antusiasme investor mulai meredup.
Hype Labubu mencapai puncaknya pada musim panas 2025, ketika penjualan di pasar sekunder melonjak tajam. Tapi seiring Pop Mart mempercepat produksi untuk memenuhi permintaan, harga reseller turun dan momentum mulai terasa berkurang. Pada Februari 2026, analis HSBC memperingatkan bahwa frenzy Labubu bisa mereda dan memproyeksikan pemotongan estimasi pendapatan Pop Mart sebesar 11-13% untuk 2026-2027.
Dalam konteks itu, film ini bukan sekadar ekspansi bisnis, ia adalah investasi dalam umur panjang sebuah IP.
Pop Mart sudah membangun taman hiburan di Beijing dan menjalin berbagai kolaborasi global. Film adalah langkah selanjutnya dalam membangun infrastruktur budaya yang bisa membuat Labubu tetap relevan melampaui siklus hype mainan yang cepat datang dan pergi.
Ada dimensi yang lebih luas dari kisah ini. Pop Mart adalah perusahaan China yang dalam beberapa tahun terakhir berhasil membangun brand global dengan valuasi mendekati USD 40 miliar, melampaui Mattel, raksasa mainan Amerika di balik Barbie, dalam hal kapitalisasi pasar.
Labubu sudah disebut oleh pejabat China sebagai bukti soft power budaya negara itu yang semakin meluas, dengan karakter “ugly cute” yang berhasil menjadi simbol keren bahkan di Eropa dan Amerika Utara, di mana sentimen publik terhadap China tidak selalu positif.
Film bersama Sony Pictures, studio Hollywood kelas satu, adalah perpanjangan dari narasi itu untuk bukan lagi sekadar mengekspor produk fisik, tapi masuk ke infrastruktur penceritaan budaya yang selama ini didominasi brand brand Barat.
Film ini masih dalam tahap awal pengembangan dan belum ada tanggal rilis yang diumumkan. Tapi dengan nama yang sudah terlibat dan skala ambisinya, pengumuman kemarin sudah cukup untuk memastikan bahwa Labubu baru saja melangkah jauh melampaui blind box.
Posted in Bisnis