Pada Januari 2026, kabar pertama beredar bahwa Mitsubishi Electric sedang mempertimbangkan untuk melepas seluruh unit otomotifnya. Nilainya ditaksir sekitar USD 1,9 miliar. Beberapa nama kandidat pembeli mulai disebut.
Namun dua bulan kemudian, keputusan yang diambil ternyata berbeda, dan lebih menarik dari sekadar penjualan biasa.
Mitsubishi Electric dilaporkan memilih untuk tidak menjual seluruh unitnya, melainkan mengundang Foxconn masuk sebagai mitra setara. Nikkei Asia melaporkan bahwa Mitsubishi Electric telah memutuskan menerima investasi dari Hon Hai Precision Industry (nama resmi Foxconn) di anak usahanya Mitsubishi Electric Mobility.
Dengan struktur joint venture 50-50, kedua perusahaan mengelola bisnis ini bersama. Kesepakatan dilaporkan ditargetkan final pada Mei 2026.
Mitsubishi Electric Mobility adalah anak usaha yang memproduksi komponen otomotif termasuk alternator, starter, dan komponen sistem penggerak untuk kendaraan listrik seperti inverter dan motor traksi. Untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, unit ini mencatat penjualan ¥919,2 miliar atau sekitar USD 5,77 miliar, angka yang besar tapi dengan tekanan margin yang terasa seiring persaingan segmen komponen otomotif global semakin ketat.
Proyeksi pendapatan unit ini untuk tahun fiskal 2026 diperkirakan turun sekitar 8% menjadi ¥850 miliar. Tekanan datang dari dua arah, transisi industri otomotif global menuju kendaraan listrik yang mengubah peta permintaan komponen secara fundamental, dan persaingan harga yang makin sengit dari produsen komponen Asia lainnya, khususnya dari China.
Foxconn yang selama puluhan tahun dikenal sebagai perakit iPhone dan elektronik konsumen untuk brand-brand global, sudah lama menyatakan ambisinya untuk menjadi pemain utama di industri otomotif, khususnya kendaraan listrik.
Strategi mereka secara eksplisit mengacu pada model yang sudah diterapkan di industri elektronik dengan menjadi manufaktur kontrak kelas dunia yang memungkinkan brand otomotif fokus pada desain dan software, sementara produksi fisik ditangani Foxconn dengan skala dan efisiensi biaya yang sulit ditandingi.
Foxconn sudah membangun platform kendaraan listrik modular bernama MIH, dirancang agar bisa digunakan berbagai brand otomotif seperti Android di dunia smartphone. Mereka juga sudah mengakuisisi pabrik otomotif bekas General Motors di Ohio, AS, dan menjalin kerja sama dengan sejumlah brand otomotif baru di Asia.
Tapi untuk benar-benar masuk ke rantai pasok otomotif tier 1 yang sudah mapan, mereka membutuhkan mitra yang punya teknologi komponen dan hubungan jangka panjang dengan produsen kendaraan besar, dan itulah yang ditawarkan Mitsubishi Electric.
Kemitraan dengan Mitsubishi Electric Mobility bukan yang pertama Foxconn jalin dalam ekosistem merek Mitsubishi. Sebelumnya, Foxconn dan Mitsubishi Fuso Truck and Bus Corporation sudah mengumumkan rencana membentuk produsen bus baru berbasis di Jepang yang akan mengembangkan model bus tanpa emisi, untuk pasar domestik maupun ekspor. Langkah demi langkah, Foxconn sedang membangun kehadiran yang makin dalam di ekosistem otomotif Jepang.
Pilihan Mitsubishi Electric untuk mempertahankan 50% saham, alih-alih melepas seluruh unit, mencerminkan pertimbangan yang lebih kompleks dari sekadar melepas beban finansial.
Dengan mempertahankan kepemilikan setara, Mitsubishi Electric tetap punya kendali atas arah bisnis dan akses ke teknologi yang dikembangkan dalam joint venture. Mereka mendapat keunggulan kompetitif Foxconn terutama dalam efisiensi biaya produksi dan jaringan rantai pasok global tanpa harus melepas sepenuhnya aset yang selama ini menjadi bagian inti bisnis mereka.
Bagi Foxconn, ini adalah pintu masuk yang sangat strategis ke segmen komponen otomotif premium, dengan teknologi, reputasi, dan jaringan pelanggan yang sudah dibangun Mitsubishi Electric selama puluhan tahun. Sesuatu yang tidak bisa dibangun dari nol dalam waktu singkat meski punya modal sebesar apapun.
Kesepakatan ini terjadi di tengah tekanan besar yang dihadapi industri otomotif Jepang secara keseluruhan. Mitsubishi Motors yang merupakan entitas terpisah dari Mitsubishi Electric tapi berada dalam ekosistem merek yang sama, mencatat penurunan laba operasional lebih dari 30% dan kerugian bersih pada sembilan bulan pertama tahun fiskal 2026. Tekanan dari transisi ke kendaraan listrik, persaingan dari produsen China, dan ketidakpastian pasar global menekan seluruh rantai nilai industri otomotif Jepang.
Dalam konteks itu, keputusan Mitsubishi Electric untuk bermitra dengan Foxconn bisa dibaca sebagai sinyal yang lebih luas, yaitu perusahaan-perusahaan Jepang di sektor otomotif tidak lagi bisa mengandalkan keunggulan teknologi semata untuk bertahan. Mereka perlu mitra yang bisa memberikan skala dan efisiensi biaya yang tidak bisa dibangun sendiri dalam waktu singkat.
Pola serupa sudah mulai terlihat di tempat lain. Honda dan Nissan sempat menjajaki merger sebelum pembicaraan itu runtuh awal tahun ini. Sejumlah produsen komponen otomotif Jepang lainnya juga sedang mengevaluasi ulang struktur bisnis mereka di tengah tekanan yang sama. Jika kesepakatan Mitsubishi Electric dan Foxconn benar-benar terealisasi sesuai laporan, ia tidak akan berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari gelombang konsolidasi yang lebih besar di industri otomotif Jepang yang sedang mencari cara untuk tetap relevan di era kendaraan listrik.
Posted in Bisnis