Garuda, Citilink, dan Pelita Air Akan Digabung dalam Satu Holding, Ini yang Berubah

ChatGPT Image Mar 9, 2026, 07_45_05 AM

Danantara Indonesia sedang mempercepat pembentukan holding maskapai BUMN yang akan menyatukan tiga maskapai pelat merah dalam satu struktur korporasi yaitu PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sebagai induk, membawahi PT Citilink Indonesia dan PT Pelita Air Service. Proses ini ditargetkan rampung paling lambat semester I 2026, mundur dari target awal kuartal I 2026 yang sempat diumumkan COO Danantara Dony Oskaria.

Keputusan ini juga menegaskan satu hal yang sebelumnya sempat tidak jelas: ketiga maskapai tidak akan masuk ke dalam InJourney, holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata yang sudah ada. Mereka akan berdiri sendiri dalam struktur holding terpisah di bawah kendali Danantara.

Mengapa Perlu Digabung?

Selama bertahun-tahun, Garuda, Citilink, dan Pelita Air beroperasi secara terpisah, bahkan sering bersaing di rute yang sama. Managing Director Stakeholders Management Danantara, Rohan Hafas, menyebut situasi ini tidak efisien dan perlu diakhiri.

Citilink ada Surabaya, Pelita ada Surabaya, Garuda ada Surabaya, kenapa enggak satu flight?” ujar Rohan dalam wawancara eksklusif di Wisma Danantara, Jakarta, 26 Februari 2026.

Di sinilah logika utama penggabungan ini bahwa tiga maskapai dengan armada terbatas masing-masing, melayani rute yang sama, dengan load factor yang tidak optimal. Rohan mencontohkan, saat ini masing-masing maskapai bisa mengisi kursi sekitar 60% di rute yang sama. Jika dikonsolidasikan dalam satu penerbangan, utilisasi bisa mencapai 100% tanpa harus membeli pesawat baru. “Jumlah pesawatnya jadi lebih banyak kalau bergabung. Rute yang sama bisa di masing-masing hanya 60%, kalau digabung penuh dua-duanya,” ujarnya.

Selain efisiensi rute, penggabungan juga akan menyatukan sistem pemesanan tiket, program loyalitas, hingga alokasi kursi. Penumpang Garuda yang penerbangannya overbook, misalnya, bisa langsung dipindahkan ke penerbangan Citilink atau Pelita Air dalam grup yang sama, jauh lebih efisien dibandingkan harus dialihkan ke maskapai luar seperti Batik Air atau Lion Air. Rohan merangkumnya dalam satu kalimat: “Satu booking, satu Garuda point, mileage, registration, bahkan seat-nya bisa saling tukar.”

Segmentasi Pasar yang Lebih Jelas

Salah satu risiko dari penggabungan tiga maskapai dalam satu atap adalah saling kanibal, situasi di mana satu maskapai justru memukul pasar maskapai lain dalam grup yang sama. Danantara menyadari risiko ini dan menjadikannya salah satu prioritas yang harus diselesaikan.

COO Danantara Dony Oskaria menegaskan bahwa segmentasi pasar ketiga maskapai harus dipertegas sebelum integrasi penuh berjalan. Dalam rencana yang sedang disusun, Garuda Indonesia akan tetap berperan sebagai maskapai layanan penuh (full service carrier), Citilink sebagai maskapai berbiaya hemat (low-cost carrier), sementara posisi Pelita Air dalam struktur baru masih dalam finalisasi, kemungkinan besar akan difokuskan pada jaringan domestik dan regional.

Yang jelas bagian dari streamline dan konsolidasi adalah menghapus internal competition dan saling kanibal itu. Jadi segmen mesti jelas,” ujar Dony.

Managing Director Danantara Febriany Eddy menambahkan, setiap maskapai dalam grup membawa kekuatan masing-masing yang bisa saling mengisi. “Ada best practice di Citilink dan Garuda yang harus menjadi manfaat dari Pelita Air. Jadi di situ kami saling memperkuat diri,” ujar Febri.

Dampak bagi Penumpang dan Karyawan

Dari sisi penumpang, perubahan paling terasa adalah kemudahan pemesanan dan fleksibilitas perjalanan. Satu aplikasi atau platform booking untuk tiga maskapai, satu program poin yang berlaku di seluruh armada grup, dan kemungkinan koneksi antar maskapai yang lebih mulus, termasuk untuk penerbangan lanjutan atau pengalihan jadwal.

Dari sisi karyawan, pemerintah memastikan tidak akan ada PHK dalam proses ini. Seluruh karyawan dari ketiga maskapai tetap diserap dalam struktur baru. Namun bagaimana detail penggabungan struktur organisasi dan hierarki kepegawaian akan diatur, belum dijelaskan secara rinci kepada publik.

Yang Masih Harus Diselesaikan

Meski kerangka besarnya sudah disepakati, banyak detail teknis yang masih dalam pengkajian. Skema akhir apakah merger penuh atau holding strategis masih dihitung secara cermat, karena menyangkut aspek pembukuan dan struktur korporasi yang kompleks.

Vice President Director Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, mengakui bahwa pembicaraan masih berlangsung dengan semua pihak yang terlibat. “Ya, itu adalah satu yang kita masih dalam tahap pembicaraan dengan pemegang sahamnya, yaitu Danantara, dan juga dengan Pertamina,” ujar Thomas.

Proses pengalihan saham Pelita Air dari Pertamina ke struktur holding baru memang memerlukan negosiasi tersendiri melibatkan tiga pihak sekaligus yaitu Danantara, manajemen Garuda, dan Pertamina selaku pemegang saham Pelita Air saat ini.

Jika holding ini terbentuk sesuai rencana, Indonesia akan memiliki satu grup maskapai BUMN yang terintegrasi, dengan armada gabungan yang lebih besar, sistem pemesanan terpadu, dan segmentasi pasar yang lebih teratur. Sebuah konsolidasi yang sudah lama dinantikan, dan kini tinggal menunggu eksekusinya.

Posted in

Berita Terkait