3 Miliar Sehari dari Tol Cimanggis-Cibitung: Akuisisi CCT dan Kalkulasi Bisnis BNBR

ChatGPT Image Mar 5, 2026, 10_15_33 PM

Saat Anindya N. Bakrie berbicara kepada pemegang saham di Bakrie Tower pada 27 Februari 2026, ia menyebut satu angka yang tidak ia sembunyikan kepuasannya. “Tol ini sangat menarik karena menghasilkan 3 miliar setiap hari, 43.000 kendaraan per hari menghasilkan 3 miliar,” ujar Direktur Utama dan CEO PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) itu usai RUPSLB. Angka lalu lintas 43.000 kendaraan per hari, ia tambahkan, bahkan melampaui proyeksi awal perusahaan.

Tiga bulan sebelumnya, pada 28 November 2025, BNBR melalui anak usahanya PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) menandatangani Sale & Purchase Agreement untuk mengakuisisi 100% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) membeli 55% dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan 35% dari PT Waskita Toll Road (WTR). Total nilai transaksi 3,56 triliun, terdiri dari 1 triliun untuk pembelian saham dan 2,565 triliun untuk pengambilalihan piutang pemegang saham yang akan dikonversi menjadi ekuitas.

Aset yang Menunggu Dikonsolidasikan

BNBR bukan pendatang baru di CCT. Sebelum akuisisi ini, perusahaan sudah memiliki 10% saham CCT baik secara langsung maupun melalui PT Bakrie Indo Infrastructure. Ketika SMI dan WTR menyatakan rencana divestasi, BNBR punya hak penawaran pertama (Right of First Offer/ROFO) berdasarkan anggaran dasar CCT. Hak itulah yang kemudian dieksekusi untuk mengonsolidasikan kepemilikan penuh.

“Transaksi ini dilakukan sehubungan dengan adanya peluang strategis bagi perseroan untuk mengakuisisi seluruh kepemilikan saham CCT,” ujar Anindya. Kepemilikan penuh diharapkan mengoptimalkan sinergi usaha, meningkatkan kontrol operasional, dan mendorong kontribusi pendapatan yang berkelanjutan terhadap kinerja konsolidasi grup.

Tol Cimanggis–Cibitung sendiri adalah ruas sepanjang 26,18 km dengan masa konsesi 45 tahun yang berakhir pada Agustus 2061. Ruas ini beroperasi penuh sejak Juli 2024 setelah diresmikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, melengkapi jaringan JORR 2 yang menghubungkan kawasan selatan dan timur Jabodetabek, termasuk Depok, Bekasi, Bogor, dan kawasan industri sekitarnya. Posisinya sebagai alternatif Tol Jakarta–Cikampek yang selama ini terkenal padat menjadikan trafik jalan ini tumbuh konsisten sejak hari pertama beroperasi.

Efek Samping yang Tidak Bisa Diabaikan: Utang Melonjak 547%

Di balik aset yang menghasilkan 3 miliar per hari, ada beban keuangan yang tidak kecil. Berdasarkan laporan keuangan diaudit tahun buku 2025, total liabilitas BNBR melonjak 547,6% ke 18,89 triliun langsung sebagai dampak akuisisi CCT. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) menyentuh 536%.

Struktur pendanaan akuisisi ini melibatkan beberapa lapis. Pinjaman sindikasi senilai USD 312 juta dari ADH Jackpot SPV Limited, entitas investasi berbasis di Uni Emirat Arab, menjadi sumber utama. Di samping itu ada pinjaman dari PT Bank Mayapada International sebesar 550 miliar, serta pinjaman di entitas anak BTI. Belum termasuk fasilitas modal kerja dari BRI sebesar 321 miliar, Bank Nobu 190 miliar, dan Bank MNC 83 miliar.

Situasi ini menempatkan manajemen BNBR dalam tekanan untuk segera menemukan jalan keluar dari beban utang yang menggunung.

Rights Issue: 6,5 Triliun untuk Memangkas Utang

Solusi yang dipilih manajemen adalah rights issue. Dalam RUPSLB 27 Februari 2026, pemegang saham menyetujui rencana penerbitan hingga 90 miliar saham Seri E baru dengan nilai nominal Rp12 per saham berpotensi menggalang dana hingga 6,5 triliun.

Jika rights issue berjalan sesuai rencana, DER BNBR diproyeksikan turun dari 536% menjadi sekitar 211% masih tinggi, tapi jauh lebih terkelola. “Dengan rights issue yang direncanakan, kami bisa melunasi semua utang terkait,” ujar Anindya usai RUPSLB.

Wakil Direktur Utama A. Ardiansyah Bakrie menambahkan keyakinannya terhadap prospek aset yang sudah dipegang. “Jalan tol memberikan suatu recurring income bagi perseroan di masa depan. CCT prospeknya menjanjikan, posisinya sebagai penghubung penting kawasan selatan dan timur Jabodetabek membuatnya memiliki outlook lalu lintas jangka panjang yang solid,” ujar Ardi.

Kalkulasi Risiko ke Depan

Logika investasinya tidak sulit dibaca. Aset jalan tol dengan konsesi 45 tahun dan lalu lintas yang sudah terbukti menghasilkan pendapatan berulang setiap hari adalah fondasi bisnis yang jauh lebih stabil dibanding banyak sektor lain. Dengan 43.000 kendaraan per hari dan pendapatan 3 miliar, atau sekitar 1 triliun setahun, CCT adalah mesin kas yang bekerja tanpa henti.

Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti merangkumnya: “Ditopang revenue stream yang kuat, kami akan mendapat profit stabil.”

Ada dua variabel utama yang akan menentukan kecepatan pemulihan neraca BNBR. Pertama, daya serap pasar terhadap rights issue, yang jadwalnya belum diumumkan dan akan sangat dipengaruhi kondisi pasar modal saat penawaran dilakukan. Kedua, trajektori pertumbuhan lalu lintas CCT, apakah momentum 43.000 kendaraan per hari bisa terus meningkat seiring perkembangan kawasan Cimanggis dan Cibitung yang masih tumbuh. Keduanya adalah variabel yang perlu dipantau dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.

Posted in

Berita Terkait