Sariwangi Resmi Berpindah Tangan: Grup Djarum Lunasi Akuisisi Rp1,5 Triliun dari Unilever

WhatsApp Image 2026-03-05 at 07.32.57

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada Senin (2/3/2026) mengumumkan divestasi bisnis Sariwangi telah tuntas. Seluruh dokumen sudah ditandatangani dan pembayaran penuh sudah diterima. Merek teh yang sudah menjadi bagian dari portofolio Unilever sejak 1989 kini resmi berpindah ke tangan PT Savoria Kreasi Rasa, entitas usaha milik Grup Djarum.

“Penjualan bisnis teh SariWangi tersebut akan memungkinkan perseroan untuk merealisasikan nilai investasinya dalam bisnis teh di Indonesia dan mengembalikan nilai tersebut kepada para pemegang saham,” jelas Sekretaris Perusahaan UNVR Mario Abdi Amrillah dalam keterangan resmi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia.

Nilai transaksi yang disepakati adalah Rp1,5 triliun di luar pajak, sedikit di atas nilai pasar hasil penilaian independen oleh Kantor Jasa Penilai Publik Suwendho Rinaldy dan Rekan yang mencatat angka Rp1,488 triliun. Proses akuisisi ini dimulai dengan penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis (Business Transfer Agreement/BTA) pada 6 Januari 2026, dan tuntas tepat pada tanggal yang dijadwalkan.

Perjalanan Panjang Sariwangi Sebelum Sampai ke Djarum

Sariwangi bukan merek yang lahir dari Unilever. Merek ini lahir dari PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) yang berdiri pada 1962. Pada dekade 1970-an, Sariwangi memperkenalkan teh celup sebagai alternatif yang lebih praktis dari daun teh lepas, inovasi yang kemudian mengubah kebiasaan minum teh jutaan rumah tangga Indonesia dan menjadikan Sariwangi sebagai nama yang melekat kuat di dapur-dapur seluruh negeri.

Skala bisnis Sariwangi terus tumbuh hingga penjualannya pernah mencapai 46.000 ton teh per tahun dengan kapasitas produksi sekitar 8 juta kantong teh per tahun. Popularitas dan skala itu yang akhirnya menarik perhatian Unilever. Pada 1989, Unilever resmi mengakuisisi hak merek Sariwangi dan menjadikannya bagian dari portofolio produk FMCG-nya, diproduksi di fasilitas Unilever di Cikarang, Jawa Barat, serta melalui pabrik pihak ketiga.

Selama lebih dari tiga dekade di bawah Unilever, Sariwangi tumbuh menjadi merek teh celup paling dikenal di Indonesia. Tapi kontribusinya terhadap total bisnis Unilever Indonesia tidak pernah menjadi yang utama. Per September 2025, bisnis teh Sariwangi hanya menyumbang 2,7% dari total pendapatan usaha dan 3,1% dari laba bersih Unilever Indonesia.

Mengapa Unilever Melepas Sariwangi

Keputusan Unilever melepas Sariwangi bukan diambil secara tiba-tiba. Ada tiga pertimbangan yang melatarbelakanginya.

Pertama, tekanan dari induk global. Unilever Plc di London sudah lama menjalankan agenda pemangkasan portofolio, melepas bisnis-bisnis yang tidak masuk dalam kategori prioritas strategis globalnya untuk fokus pada kategori yang tumbuh lebih cepat. Di tingkat global, bisnis teh sudah dipisahkan menjadi entitas tersendiri bernama Ekaterra sebelum kemudian dijual ke CVC Capital Partners pada 2022. Divestasi Sariwangi oleh Unilever Indonesia adalah bagian dari mandat yang sama.

Kedua, optimalisasi neraca keuangan. Meski nilai transaksi Rp1,5 triliun setara dengan 45% dari total ekuitas Unilever Indonesia per September 2025 — angka yang terlihat signifikan, dampak operasional dari pelepasan bisnis ini dinilai tidak material. Aset Sariwangi hanya menyumbang 2,3% dari total aset perseroan. Dengan melepasnya, Unilever mendapat likuiditas besar dari aset yang porsi bisnisnya relatif kecil.

Ketiga, valuasi yang menguntungkan. Sariwangi dijual dengan rasio harga terhadap laba (P/E) sekitar 10,8 kali, lebih rendah dari valuasi UNVR secara keseluruhan yang diperkirakan sekitar 22 kali untuk 2026. Dari perspektif Unilever, ini adalah waktu yang tepat untuk merealisasikan nilai investasi yang sudah dibangun selama lebih dari 30 tahun.

Dana hasil penjualan akan dikembalikan kepada pemegang saham dalam jangka pendek, sesuai komitmen yang disampaikan manajemen UNVR.

Savoria: Siapa yang Membeli Sariwangi

PT Savoria Kreasi Rasa bukan pemain baru di industri FMCG Indonesia. Di bawah Grup Djarum, Savoria sudah membangun portofolio merek konsumsi yang beragam mulai dari permen FOX’s dan POLO, minuman Nestea, snack Crunch, Kopi Tubruk Gadjah, susu MilkLife, minuman isotonik HydroPlus, hingga 5Days Croissant. Savoria juga sebelumnya mengakuisisi PT Griya Mie Sejati, perusahaan induk dari Bakmi GM, jaringan restoran mie tertua di Indonesia dalam transaksi yang ditaksir bernilai Rp2 hingga Rp2,4 triliun.

Akuisisi Sariwangi bukan pilihan pertama Savoria di segmen teh. Sebelumnya, perusahaan ini dikabarkan menjajaki akuisisi Teh Bandulan, merek teh tradisional asal Pekalongan yang berdiri sejak 1933. Proses negosiasi sempat berjalan, Savoria melakukan kunjungan ke pabrik di Pekalongan dan menyampaikan sejumlah persyaratan terkait perbaikan perizinan. Namun proses itu tidak berlanjut. Savoria akhirnya memilih Sariwangi, merek dengan ekuitas jauh lebih besar dan jangkauan distribusi nasional yang sudah terbentuk selama puluhan tahun.

Rencana Djarum untuk Sariwangi

CEO Savoria Group Ihsan Mulia Putri menyampaikan visi perusahaan terhadap merek yang baru diakuisisi. “Kami akan pastikan SariWangi terus bertumbuh dengan tetap menghormati warisan nilainya yang kaya. SariWangi adalah merek yang telah melekat di hati masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Savoria melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang kuat di segmen teh celup, dengan Sariwangi sebagai platform yang sudah punya posisi strategis di keseharian rumah tangga Indonesia. Tiga jalur pengembangan yang akan dijalankan: pengembangan variasi produk secara agresif, penguatan interaksi dengan konsumen, dan pemanfaatan jaringan distribusi nasional yang sudah dimiliki Savoria untuk mendorong pertumbuhan merek.

Di bawah Savoria, Sariwangi akan bergabung dengan deretan merek utama yang sudah ada dalam portofolio grup. Ini adalah taruhan besar Djarum pada kekuatan merek lokal yang sudah teruji, dan pada keyakinan bahwa di tangan yang lebih fokus pada kategori ini, Sariwangi masih punya ruang tumbuh yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Unilever tanpa Sariwangi

Bagi Unilever Indonesia, pelepasan Sariwangi adalah bagian dari strategi lebih besar untuk mempertajam fokus pada bisnis inti yang tersisa. Sepanjang 2025, UNVR membukukan laba bersih Rp7,64 triliun, meningkat 127% secara tahunan dan didukung kinerja penjualan bersih yang mencapai Rp31,94 triliun. Pemulihan kinerja ini menjadi fondasi yang lebih solid untuk melangkah ke tahap berikutnya tanpa beban portofolio yang tidak lagi menjadi prioritas.

Manajemen UNVR menegaskan divestasi ini tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, maupun kelangsungan usaha perseroan. Fokus ke depan adalah memperkuat kategori-kategori yang masih dipegang dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham dalam jangka panjang.

Posted in

Berita Terkait