Produsen Sari Roti Siap Masuk Bisnis Pakan Ternak, Manfaatkan Limbah Produksi

ChatGPT Image Mar 4, 2026, 07_38_13 AM

PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), produsen Sari Roti, berencana merambah bisnis baru yang sama sekali berbeda dari lini usaha utamanya: industri ransum pakan hewan. Rencana ini disampaikan manajemen ROTI kepada Bursa Efek Indonesia pada Jumat (27/2/2026).

Bisnis baru ini akan masuk dalam klasifikasi Industri Ransum Pakan Hewan dengan kode KBLI 10801. Bahan bakunya bukan dibeli dari luar, melainkan diambil dari sisa hasil produksi roti yang selama ini menjadi limbah pabrik. Langkah ini belum bisa dieksekusi begitu saja, manajemen ROTI masih harus meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 7 April 2026.

Studi Kelayakan Sudah Rampung

Sebelum mengumumkan rencana ini ke publik, ROTI sudah menyelesaikan studi kelayakan yang dilakukan oleh KJPP Rengganis, Hamid & Rekan. Hasilnya: bisnis ini dinilai layak secara finansial maupun pasar.

Secara finansial, proyek ini mencatatkan internal rate of return (IRR) sebesar 26,44%, jauh di atas parameter normal 9,76% yang digunakan sebagai acuan kelayakan investasi. Estimasi masa pengembalian modal dihitung sekitar 5 tahun 7 bulan. Angka IRR yang tinggi ini mencerminkan efisiensi model bisnis yang direncanakan karena bahan baku utamanya tidak perlu dibeli dari pasar, melainkan sudah tersedia dari sisa produksi pabrik roti yang selama ini hanya menjadi beban pengelolaan limbah.

Dari sisi pasar, laporan KJPP menyebut industri pakan ternak terus berkembang, terutama didorong oleh ekspansi sektor ayam petelur yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh konsisten seiring meningkatnya konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. 

Di atas tren tersebut, ada faktor tambahan yang membuat momentum masuk ke bisnis ini dinilai tepat: program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berjalan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. Program yang menargetkan pemberian makanan bergizi kepada jutaan pelajar ini secara langsung mendorong permintaan terhadap telur dan daging ayam, dan dengan demikian memperkuat kebutuhan pakan ternak secara struktural, bukan hanya siklus biasa.

Logika di Balik Diversifikasi Ini

Langkah Sari Roti masuk ke bisnis pakan ternak terlihat seperti lompatan besar dari bisnis inti. Tapi ada logika operasional yang cukup masuk akal di baliknya dan logika itu dimulai dari apa yang terjadi setiap hari di dalam pabrik.

Pabrik roti menghasilkan sisa produksi dalam jumlah yang tidak kecil. Potongan roti dari proses trimming, produk yang tidak memenuhi standar kualitas visual, remahan dari lini produksi, hingga produk yang mendekati masa kedaluwarsa sebelum sampai ke konsumen, semuanya selama ini hanya menjadi limbah yang harus dikelola dengan biaya tertentu. Dengan membangun lini produksi pakan ternak, ROTI mengubah seluruh sisa produksi itu menjadi bahan baku yang memiliki nilai jual.

Ini adalah model circular economy yang sederhana tapi efisien: sesuatu yang tadinya menimbulkan biaya diubah menjadi sumber pendapatan. Tidak ada investasi bahan baku baru yang signifikan, tidak ada kebutuhan membangun rantai pasok dari nol. Bahan baku sudah ada yang dibutuhkan hanya fasilitas pengolahan dan distribusi ke segmen pasar yang berbeda.

“Untuk produk tepung pakan ternak, perseroan akan melakukan produksi sendiri dengan cara memanfaatkan investasi pabrik ransum pakan hewan serta didukung oleh tenaga kerja yang kompeten,” demikian keterangan manajemen ROTI dalam keterbukaan informasinya kepada BEI. “Penambahan kegiatan usaha industri ransum pakan hewan berpotensi memberikan nilai tambah terhadap kegiatan usaha eksisting perseroan.

Dengan jaringan 15 pabrik yang tersebar dari Jawa hingga Makassar, Balikpapan, Banjarmasin, Pekanbaru, dan Batam, sumber bahan baku pakan ternak tersebar di berbagai titik di seluruh Indonesia yang secara teoritis juga memberi keuntungan distribusi ke pasar peternak lokal di masing-masing wilayah.

Konteks Kinerja, Tekanan di Bisnis Inti

Rencana ekspansi ini hadir di tengah tekanan kinerja yang dialami ROTI sepanjang 2025, dan memahami konteks itu penting untuk membaca mengapa diversifikasi ini menjadi pilihan yang diambil sekarang.

Perusahaan membukukan laba bersih Rp258,5 miliar pada tahun buku 2025, turun 28,7% secara tahunan dari posisi sebelumnya. Pendapatan konsolidasi juga terkoreksi 4,4% menjadi Rp3,8 triliun, tertekan terutama oleh penurunan penjualan roti tawar dan roti manis yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis utama perusahaan.

Penjualan kue dan produk lainnya memang tumbuh double digit sepanjang 2025, tapi kontribusinya terhadap total pendapatan belum cukup besar untuk mengimbangi tekanan di segmen roti yang volumenya jauh lebih dominan. Di sisi kapasitas, ROTI sudah menegaskan bahwa dalam 2 hingga 3 tahun ke depan tidak ada rencana pembangunan pabrik baru. Strategi perusahaan berfokus pada optimalisasi 15 pabrik yang sudah beroperasi, bukan ekspansi kapasitas produksi roti.

Dalam konteks itu, diversifikasi ke pakan ternak adalah pilihan yang secara strategis masuk akal. ROTI tidak perlu membangun fasilitas produksi baru dari nol, tidak perlu menginvestasikan modal besar untuk bahan baku, dan tidak perlu menunggu pasar roti pulih untuk mencari sumber pertumbuhan tambahan. Bisnis baru ini bisa dijalankan di atas infrastruktur yang sudah ada, dengan memanfaatkan sisa produksi yang selama ini tidak menghasilkan nilai apa pun.

Keputusan Ada di Tangan Pemegang Saham

Seluruh rencana ini masih menunggu satu proses terakhir yang menentukan: persetujuan RUPSLB pada 7 April 2026. Tanpa restu pemegang saham, rencana ini tidak bisa dieksekusi. Manajemen ROTI perlu meyakinkan pemegang saham bahwa diversifikasi ke bisnis yang sama sekali berbeda dari lini utama adalah langkah yang tepat, terutama di tengah tekanan kinerja yang masih dirasakan.

Jika persetujuan diberikan, ROTI akan resmi menjadi perusahaan yang tidak hanya memproduksi roti untuk konsumen, tetapi juga pakan untuk ternak dengan bahan baku yang berasal dari sisa produksi pabrik-pabriknya sendiri. Sebuah langkah yang, jika berhasil, bisa menjadi model pengelolaan limbah industri makanan yang relevan untuk diikuti oleh pelaku industri serupa.

Posted in

Berita Terkait