Satu pernyataan dari Donald Trump pada Rabu malam (20/5/2026) waktu AS seketika langsung menggerakkan pasar global. “Kami berada di tahap akhir dengan Iran. Kita akan lihat apa yang terjadi. Entah ada kesepakatan atau kami akan melakukan beberapa hal yang agak keras, tapi semoga itu tidak terjadi,” kata Trump.
Harga minyak Brent ditutup anjlok 5,63% ke US$105,02 per barel, penurunan harian terbesar dalam beberapa pekan terakhir. WTI turun 5,66% ke US$98,26 per barel. Ini level terendah minyak sejak konflik Iran pecah pada akhir Februari lalu.
Efeknya langsung terasa hari ini. Bursa Asia pagi ini dibuka di zona hijau. Rupiah menguat tipis. Sentimen investor yang selama berbulan-bulan tertekan oleh harga energi tinggi dan ketidakpastian Hormuz kini sedikit bernafas, setidaknya untuk sementara.
Pergerakan pasar Kamis pagi (21/5/2026) mencerminkan optimisme yang berhati-hati. Rupiah menguat dari level terlemahnya kemarin. IHSG yang sudah turun lebih dari 10% sejak awal Mei berpotensi rebound hari ini setelah berita ini masuk ke pasar Asia.
Wall Street semalam juga merespons positif meski lebih terbatas dari yang mungkin diharapkan, karena investor sudah belajar untuk tidak terlalu cepat bereaksi terhadap pernyataan Trump soal Iran. S&P 500 naik tipis, Nasdaq menguat moderat.
Satu angka yang menarik euro rebound ke 1,1622 terhadap dolar AS, mencerminkan melemahnya permintaan dolar saat kekhawatiran geopolitik sedikit mereda. Dolar yang melemah berarti tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia lainnya juga berkurang.
Tapi ada sisi yang perlu dicatat dengan jelas bahwa Iran belum menyetujui apapun.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan Iran siap menyusun protokol keamanan jalur pelayaran bersama negara-negara pesisir tapi tidak memberikan respons yang jelas soal persyaratan AS. Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan memposting di X “Memaksa Iran untuk menyerah melalui paksaan hanyalah sebuah ilusi.”
Trump sendiri tidak melepas ancamannya. Ia memperingatkan serangan lebih lanjut masih bisa terjadi “dalam beberapa hari mendatang” jika Iran tidak menyetujui persyaratannya. Ini bukan kesepakatan melainkan sinyal bahwa negosiasi sedang berjalan, tapi hasilnya belum pasti.
“Semua pernyataan seperti ini harus disikapi dengan hati-hati akhir-akhir ini, tetapi pasar juga cepat merespons dan memasukkan harapan adanya penyelesaian konflik ke dalam harga,” kata John Kilduff, mitra Again Capital, kepada Reuters.
Analis Citi memperkirakan harga minyak Brent masih bisa naik hingga US$120 per barel dalam jangka pendek jika negosiasi gagal dan konflik kembali meningkat. Konsultan Wood Mackenzie bahkan memperkirakan harga bisa mendekati US$200 dalam skenario terburuk jika Hormuz benar-benar diblokir total.
Artinya penurunan minyak hari ini adalah respons terhadap harapan, bukan terhadap fakta. Jika negosiasi gagal atau bahkan sekadar terhenti harga minyak bisa kembali naik dengan cepat, membawa kembali tekanan terhadap rupiah, APBN, dan inflasi Indonesia.
Untuk Indonesia, setiap penurunan harga minyak yang berkelanjutan akan memberi ruang bagi pemerintah untuk menahan harga BBM dan avtur, meringankan tekanan APBN, dan memberi BI ruang untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter yang selama ini tertahan oleh inflasi energi.
Pernyataan Trump tadi malam bukan yang pertama. Ia sudah beberapa kali mengklaim negosiasi berjalan baik, lalu kondisi kembali memburuk. Pada 11 Mei, Trump menyebut gencatan senjata “sedang dalam kondisi kritis.” Seminggu sebelumnya ia mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran. Pasar sudah belajar bahwa setiap pernyataan Trump soal Iran perlu diverifikasi dengan tindakan konkret sebelum bisa dipegang.
Yang berbeda kali ini pernyataan “tahap akhir” keluar bersamaan dengan sinyal dari Iran bahwa mereka siap membahas protokol keamanan jalur pelayaran meski bukan penyerahan penuh atas tuntutan AS. Ini perkembangan yang lebih konkret dari sebelumnya, tapi masih jauh dari penyelesaian.
Penting bagi investor dan pelaku bisnis di Indonesia untuk jangan terlalu cepat merevisi asumsi energi dan kurs hanya berdasarkan pernyataan satu hari. Tapi juga jangan mengabaikan sinyal awal dari negosiasi yang, jika berhasil, bisa mengubah lanskap energi dan keuangan global secara dramatis dalam waktu singkat.
Sumber: Reuters, IDXChannel, FXStreet, StockWatch
Posted in News
Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.