Setelah enam bulan sahamnya tertekan, Netflix mendapat angin segar dari Wall Street. Goldman Sachs pada 6 April 2026 mengupgrade saham Netflix dari Neutral menjadi Buy. Menaikkan target harga 12 bulan dari USD 100 menjadi USD 120 yang mengimplisikan potensi kenaikan sekitar 26% dari level penutupan terakhir.
Saham Netflix langsung merespons, naik lebih dari 3% dalam perdagangan intraday.
Upgrade ini datang di momen yang menarik bahwa Netflix baru saja keluar dari periode yang penuh gangguan berupa upaya akuisisi besar yang gagal, saham yang jatuh, dan pertanyaan tentang arah jangka panjang perusahaan.
Goldman melihat semua itu justru sebagai titik masuk yang menarik.
Sebelum memahami mengapa Goldman optimistis, penting untuk mengerti mengapa saham Netflix turun 18% dalam enam bulan terakhir.
Penyebab utamanya adalah upaya Netflix mengakuisisi aset streaming dan studio Warner Bros. Discovery, sebuah langkah yang sempat membayangi narasi bisnis Netflix selama berbulan-bulan. Ketidakpastian itu menekan valuasi.
Tapi deal itu batal. Dan Netflix justru mendapat kompensasi berupa termination fee sebesar USD 2,8 miliar dari Paramount Skydance. Dengan itu, Goldman melihat Netflix kembali ke “cerita eksekusi mandiri,” fokus pada bisnis inti tanpa distraksi M&A besar. Ini yang membuat analis Goldman bullish.
Goldman membangun argumentasinya di atas tiga fondasi.
Pertama, kenaikan harga berbuah manis. Maret 2026, Netflix menaikkan harga berlangganan di Amerika Serikat dengan tier Standard tanpa iklan naik USD 2 menjadi USD 19,99 per bulan, tier Premium naik USD 2 menjadi USD 26,99, dan tier dengan iklan naik USD 1 menjadi USD 8,99. Ini adalah kenaikan kedua dalam 15 bulan, sinyal bahwa Netflix yakin pelanggannya tidak akan kabur. Goldman memproyeksikan kenaikan harga ini bisa menambah kumulatif USD 3 miliar pendapatan di 2026 dan 2027 gabungan.
Kedua, iklan adalah mesin pertumbuhan berikutnya. Goldman memproyeksi pendapatan iklan Netflix tumbuh dari USD 1,5 miliar di 2025 menjadi USD 4,5 miliar di 2027 dan hampir USD 9,5 miliar pada 2030. Angka terakhir itu setara dengan jaringan televisi tradisional besar. Untuk konteks, Netflix sendiri menargetkan pendapatan iklan dua kali lipat di 2026, menuju sekitar USD 3 miliar.
Ketiga, free cash flow dan buyback. Netflix memproyeksikan free cash flow sekitar USD 11 miliar di 2026, angka yang Goldman nilai mungkin konservatif terutama setelah deal Warner Bros batal. Sejak 2023, Netflix sudah membeli kembali sahamnya senilai USD 21 miliar, rata-rata 90% dari free cash flow tahunan. Goldman memperkirakan buyback bisa berlanjut dengan skala yang signifikan.
Di balik dinamika pasar saham, bisnis Netflix tetap solid. Di kuartal IV 2025, perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan 16% dan laba operasional tumbuh 30%. Netflix memproyeksikan pendapatan USD 51 miliar di 2026, naik 14% secara tahunan.
Dari sisi keterlibatan pengguna, rata-rata pelanggan AS menghabiskan lebih dari satu jam per hari di platform Netflix, hampir dua kali lipat dibandingkan kompetitor terdekatnya, Hulu, yang hanya 36 menit. Kekuatan engagement ini adalah fondasi dari pricing power yang terus tumbuh.
Netflix juga memperluas investasi ke konten live, creator economy, dan gaming sebagai area yang Goldman soroti bagian dari roadmap jangka panjang alokasi modal.
Upgrade Goldman Sachs bukan hanya tentang satu saham. Ini sinyal bahwa model bisnis streaming premium yang sempat dipertanyakan ketika pertumbuhan pelanggan melambat beberapa tahun lalu, kini menemukan jalur pertumbuhan baru yang lebih beragam dengan adanya kombinasi kenaikan harga, pendapatan iklan, dan efisiensi biaya.
Bagi pelaku bisnis media dan digital di Asia Tenggara, perlu mengetahui bahwa platform yang berani menaikkan harga dan berhasil mempertahankan engagement justru bisa memperkuat posisinya di pasar, bukan kehilangan pelanggan.
Netflix melaporkan hasil Q1 2026 pada 16 April mendatang. Itu akan menjadi ujian pertama dari tesis Goldman.
Posted in News