Bukalapak Meninggalkan E-Commerce Konvensional dan Menemukan Masa Depan Melalui Gaming

ChatGPT Image 19 Mar 2026, 07.39.26

Pada Februari 2025, Bukalapak secara resmi menghentikan penjualan produk fisik di platformnya. Sebuah keputusan yang terdengar seperti menyerah, sebuah platform e-commerce yang berhenti menjual barang.

Tapi setahun kemudian, angka keuangan yang keluar justru bercerita sebaliknya.

Bukalapak menutup 2025 dengan pendapatan konsolidasi Rp6,5 triliun, naik 46% dari Rp4,5 triliun pada 2024. Laba bersih Rp3,14 triliun, berbalik dari rugi Rp1,54 triliun setahun sebelumnya. Dan di balik angka itu, ada satu segmen yang mendominasi secara luar biasa: gaming.

Segmen yang mengoperasikan Itemku dan Lapakgaming menyumbang Rp5,34 triliun, sekitar 82% dari total pendapatan sepanjang tahun.

Dari Marketplace ke Gaming: Sebuah Pivot yang Dimulai Sejak 2021

Keputusan Bukalapak masuk ke industri gaming bukan tiba-tiba. Pada 2021, Bukalapak mengakuisisi Itemku, sebuah startup marketplace untuk barang virtual gaming yang juga didukung oleh 500 Global. 

Itemku memungkinkan gamer membeli dan menjual item in-game, karakter, akun, hingga mata uang virtual antar sesama pengguna, model C2C yang sudah mapan di komunitas gaming global tapi belum punya pemain besar di Indonesia.

Bersamaan dengan itu, Bukalapak mengembangkan Lapakgaming sebagai platform top up game dan pembelian voucher gaming untuk model B2C dan B2B. Pengguna bisa mengisi ulang kredit game populer dari Mobile Legends hingga Free Fire langsung di platform. Jaringan mitra UMKM Bukalapak yang sudah tersebar luas di seluruh Indonesia, Mitra Bukalapak, turut menjadi saluran distribusi produk virtual gaming ini.

Komitmen pada gaming diperkuat dengan langkah organisasional bahwa Bukalapak membuka rekrutmen CEO of Gaming dan menerima lebih dari 200 pelamar dalam dua minggu. Sinyal yang jelas bahwa ini bukan sekadar fitur tambahan, melainkan taruhan besar pada sebuah segmen.

Angka yang Berbicara

Pertumbuhan segmen gaming Bukalapak konsisten sepanjang 2025. Pada kuartal pertama, gaming sudah menyumbang lebih dari 3/4 total pendapatan. Angka itu bertahan dan bahkan menguat sepanjang tahun. Pada kuartal keempat, segmen gaming menghasilkan 1,5 triliun, tumbuh 8% secara kuartalan, dan menyumbang 83,6% dari total pendapatan kuartalan.

Pertumbuhan ini didorong 2 hal yang saling menguatkan yaitu strategi pemasaran yang lebih terarah dan tingginya aktivitas transaksi menjelang akhir tahun, periode di mana pemain game cenderung lebih aktif berbelanja item dan mengisi saldo.

Segmen Mitra Bukalapak juga ikut mencatat pertumbuhan, dengan pendapatan naik 12% secara kuartalan menjadi Rp191 miliar pada kuartal keempat. Permintaan produk virtual termasuk ingame currency dan voucher game dari jaringan UMKM mitra menjadi salah satu penopangnya. Ini menunjukkan bahwa gaming bukan hanya bisnis Bukalapak langsung ke konsumen, tapi juga mengalir melalui ekosistem mitra yang sudah lama dibangun.

Mengapa Gaming Bekerja untuk Bukalapak

Ada beberapa alasan struktural mengapa pivot ke gaming memberi hasil yang jauh lebih baik dari mempertahankan bisnis ecommerce fisik.

Pertama, margin. Produk virtual tidak punya biaya logistik, tidak ada retur, tidak ada kerusakan barang. Margin produk digital jauh lebih tinggi dan lebih dapat diprediksi dibanding produk fisik yang harus bersaing dengan Shopee dan TikTok Shop, dua pemain dengan skala yang jauh lebih besar dan anggaran subsidi yang jauh lebih dalam.

Kedua, pasar yang berkembang. Industri gaming mobile Indonesia diproyeksikan mencapai USD 2 miliar dengan sekitar 78,6 juta pengguna dan belum ada pemain yang mendominasi segmen marketplace item virtual dan top-up secara bersamaan. Itemku dan Lapakgaming mengisi celah itu.

Ketiga, komunitas. CEO Bukalapak Victor Lesmana menyebut bahwa gaming marketplace Bukalapak menjalankan model bisnis yang unik yaitu B2C melalui Lapakgaming, dan C2C melalui Itemku, dua model yang melayani segmen gamer berbeda dalam satu ekosistem. 

Komunitas gaming memiliki tingkat loyalitas dan frekuensi transaksi yang tinggi, karakteristik yang sangat diinginkan oleh platform digital mana pun.

———————————————————————-

Namun di balik angka yang mengesankan, dua hal yang perlu dibaca dengan cermat.

Laba bersih Rp3,14 triliun Bukalapak tidak sepenuhnya berasal dari operasional bisnis. Sebagian besar didukung oleh keuntungan mark to market dari investasi di Allo Bank sebesar Rp2,37 triliun, keuntungan investasi yang tidak bersifat berulang dan tidak mencerminkan kemampuan bisnis inti menghasilkan laba. Adjusted EBITDA Bukalapak masih tercatat negatif Rp62 miliar.

Artinya, bisnis gaming Bukalapak memang tumbuh dan menjadi penopang utama pendapatan tapi profitabilitas operasional yang sesungguhnya belum tercapai. Perjalanan menuju titik impas operasional masih berlangsung.

Bukalapak hari ini sangat berbeda dari Bukalapak yang dulu dikenal sebagai marketplace untuk warung dan UMKM. Ia telah memilih fokus yang jauh lebih sempit tapi dengan kedalaman yang jauh lebih terukur. Hasilnya, setidaknya dari sisi pendapatan, sudah mulai terlihat. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ekosistem gaming ini bisa menghasilkan profitabilitas operasional yang nyata, bukan hanya pendapatan besar.

Posted in

Berita Terkait