VinFast sudah lama membangun pondasi di Indonesia sebelum motor listrik pertama resmi diumumkan. Pada 15 Desember 2025, pabrik kendaraan listrik VinFast di Subang, Jawa Barat, diresmikan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, menjadi pabrik keempat VinFast secara global, sekaligus yang pertama di Asia Tenggara di luar Vietnam.
Dibangun dalam 17 bulan di atas lahan 171 hektar dengan investasi tahap awal lebih dari USD 300 juta, pabrik ini langsung beroperasi untuk memproduksi model mobil listrik setir kanan: VF 3, VF 5, VF 6, dan VF 7.
Kurang dari dua bulan setelah peresmian pabrik itu, VinFast mengumumkan langkah berikutnya: masuk ke segmen motor listrik. Pada 9 Februari 2026, VinFast menandatangani perjanjian kerja sama dengan sejumlah dealer motor listrik di Indonesia.
Per awal Maret 2026, jaringan dealer yang sudah bergabung meliputi K3, Citra Abadi Sedaya, PT Bevos Auto Mandiri, Sapta Jaya, MotorArt, Sinergies Dua Kawan, dan NIHU. Penjualan motor listrik VinFast dijadwalkan dimulai dari area Jabodetabek pada kuartal II 2026, sebelum merambah ke Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bali.
VinFast menyiapkan empat model motor listrik untuk pasar Indonesia yaitub Flazz, Evo, Viper, dan Feliz II. Keempatnya menggunakan sistem tukar baterai (bukan cas konvensional) dan sudah disesuaikan untuk kondisi iklim tropis Indonesia.
Flazz adalah model paling terjangkau, dengan harga di kisaran Rp9,5 juta. Model ini ditujukan untuk kebutuhan mobilitas harian jarak pendek di dalam kota.
Evo hadir dalam dua varian yaitu Lite dan Grand dengan motor in hub berdaya maksimum 2.450 watt dan kecepatan puncak 70 km per jam untuk varian Grand. Jarak tempuh diklaim hingga 262 km dalam satu kali penukaran baterai, dengan dua slot baterai lithium ferro phosphate berkapasitas 1,5 kWh di bawah jok. Harga Evo diumumkan di kisaran Rp12,8 juta.
Viper dan Feliz II masing-masing dibanderol sekitar Rp12,5 juta. Viper mengusung motor BLDC in hub dengan daya maksimum 3.000 watt, lebih bertenaga dibanding Evo dan diposisikan untuk segmen yang menginginkan performa lebih. Feliz II melengkapi lineup sebagai pilihan dengan desain yang lebih urban.
Indonesia adalah salah satu pasar motor terbesar di dunia dan salah satu yang paling sulit untuk ditembus. Honda, melalui Astra Honda Motor, menguasai sekitar 70-75% pangsa pasar motor nasional. Yamaha memegang sebagian besar sisanya. Ruang yang tersisa untuk pemain baru sangat terbatas.
Di segmen motor listrik sendiri, persaingan sudah lebih ramai dari yang terlihat. Alva, Electrum, Smoot, dan berbagai merek China sudah masuk lebih dulu tapi tingkat adopsi motor listrik secara keseluruhan di Indonesia masih jauh dari skala massal.
Infrastruktur pengisian daya yang belum merata dan kekhawatiran soal jarak tempuh tetap menjadi hambatan utama bagi konsumen untuk beralih.
VinFast menjawab hambatan infrastruktur ini dengan sistem tukar baterai melalui jaringan V-Green, anak usahanya yang bertugas membangun stasiun penukaran baterai. Dengan sistem ini, pengguna tidak perlu menunggu baterai terisi cukup menukar baterai kosong dengan yang sudah penuh, seperti mengganti tabung gas. Pendekatan ini secara langsung menyasar kekhawatiran utama konsumen motor listrik Indonesia soal waktu pengisian yang lama dan keterbatasan titik pengisian.
Tapi seberapa luas jaringan tukar baterai ini akan dibangun di Indonesia, dan seberapa cepat, masih menjadi pertanyaan yang belum dijawab secara rinci.
Satu hal yang membedakan VinFast dari banyak pemain motor listrik lain di Indonesia adalah keberadaan pabrik lokal yang sudah beroperasi. Pabrik Subang memberikan kemampuan untuk memproduksi kendaraan di dalam negeri, memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dan menjaga stabilitas harga.
VinFast menargetkan TKDN lebih dari 40% pada 2026, naik ke 60% pada 2029, dan 80% mulai 2030.
Kapasitas produksi awal pabrik Subang adalah 50.000 unit per tahun, dengan potensi ekspansi hingga 350.000 unit melalui investasi tambahan senilai USD 1 miliar. Pada kapasitas penuh, pabrik ini diproyeksikan menyerap 5.000 hingga 15.000 tenaga kerja langsung.
Selain itu, VinFast juga menyiapkan kawasan khusus supplier park untuk mendorong pengembangan pemasok lokal, sebuah sinyal bahwa VinFast tidak hanya masuk untuk menjual tapi membangun ekosistem industri yang lebih dalam di Indonesia.
CEO VinFast Asia Pham Sanh Chau menegaskan hal ini dalam peresmian pabrik Desember lalu, “Kami meyakini lokalisasi merupakan fondasi penentu bagi keberhasilan berkelanjutan VinFast di pasar ini, sekaligus berkontribusi langsung pada target pemerintah Indonesia dalam pertumbuhan ekonomi, pengembangan industri, dan penciptaan lapangan kerja.”
Masuknya VinFast ke segmen motor listrik memperluas pertaruhannya di Indonesia secara signifikan, dari sekadar pemain di segmen mobil listrik ke segmen transportasi yang jauh lebih besar dan lebih dalam menjangkau kehidupan sehari-hari konsumen Indonesia. Dengan empat model di harga yang kompetitif dan sistem tukar baterai sebagai pembeda, VinFast sudah meletakkan taruhannya. Apakah pasar akan merespons, baru akan terlihat mulai kuartal II 2026.
Posted in News