Laporan ini ditulis berdasarkan perkembangan yang masih berlangsung per 28 Februari 2026. Situasi di lapangan dapat berubah signifikan dalam beberapa jam ke depan.
Ledakan pertama terdengar di Tehran pada pagi hari Sabtu. Belum 24 jam berlalu, pasar komoditas global sudah bergetar. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke Iran dalam operasi yang diberi nama Operation Epic Fury, menarget fasilitas militer, nuklir, hingga lingkar kepemimpinan tertinggi di Tehran, Isfahan, dan Qom. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke Israel dan pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, serta Uni Emirat Arab. Yang terjadi kemudian bukan hanya krisis geopolitik. Ini adalah guncangan bagi setiap rantai pasokan yang melewati satu titik paling krusial di peta energi dunia: Selat Hormuz.
Belum ada yang bergerak di bursa saat weekend, tapi sinyal pasar sudah berbicara keras.
Kapal-kapal tanker mulai berhenti melintas. Laporan dari Bloomberg menyebut armada tanker minyak dan gas menahan diri di luar selat, setelah tersiar siaran radio dari Angkatan Laut Iran yang mengumumkan penutupan sebagian jalur pelayaran.
Itu bukan gertakan kecil. Selat Hormuz adalah tempat sekitar 20 juta barel minyak mentah melintas setiap harinya, hampir 20% dari seluruh konsumsi minyak cair global. Sekitar 3.000 kapal melewati selat ini setiap bulannya. Jika jalur itu benar-benar tersumbat, dunia tidak punya rute pengganti yang memadai. Pipeline alternatif milik Arab Saudi ke Laut Merah hanya mampu mengalihkan sebagian kecil dari volume yang biasa melewati selat.
Brent crude ditutup di $72,87 per barel pada Jumat malam, naik 2,9% dalam sehari, dan sudah reli hampir 20% sejak awal 2026 hanya karena ketakutan akan serangan.
Alicia García-Herrero, chief economist Asia-Pacific di Natixis, memperkirakan pasar saham global bisa turun 1-2% atau lebih di awal pekan, sementara harga minyak berpotensi melonjak 5-10%. Oxford Economics melihat Brent bisa mencapai $84 selama gangguan di selat berlangsung. Skenario terburuk, di mana Iran benar-benar menutup selat selama beberapa hari, dapat memangkas pasokan global hingga 11 juta barel per hari, setelah memperhitungkan pipa alternatif dan penurunan permintaan. BloombergNEF bahkan sudah menghitung bahwa jika ekspor minyak Iran sepenuhnya hilang dari pasar hingga akhir 2026, Brent bisa mencapai rata-rata $91 per barel di kuartal keempat.
Iran sendiri bukan eksportir kecil. Terlepas dari sanksi yang berlapis, Iran masih berhasil mengekspor sekitar 1,9 juta barel per hari hingga Desember lalu. Hampir seluruhnya, lebih dari 80% diserap kilang-kilang China. Kehilangan volume itu memaksa untuk berburu suplai pengganti dari pasar terbuka, dan itu akan mendorong harga lebih jauh ke atas.
Yang sering terlupakan ketika orang berbicara tentang Selat Hormuz adalah komoditas non energi yang juga melewatinya. Selat ini merupakan chokepoint bagi 25-35% perdagangan amonia dan urea global, dua bahan baku utama pupuk nitrogen. Artinya, gangguan di Hormuz tidak akan berhenti di pom bensin. Harga pupuk yang melonjak akan merambat ke biaya produksi pertanian, dan dari sana ke harga pangan.
Kenaikan harga minyak secara historis juga berkorelasi positif dengan harga gandum dan soybean oil, dua komoditas agrikultur yang paling sensitif terhadap gejolak energi. Musim tanam tahun ini bisa jauh lebih mahal dari yang diperkirakan petani di Asia Selatan dan Afrika.
Emas sudah bergerak bahkan sebelum rudal pertama diluncurkan, menguat konsisten sepanjang Februari seiring meningkatnya sinyal militer.
Dalam situasi seperti ini, emas adalah tempat pertama yang dituju investor ketika ketidakpastian meledak. Analis di Peak Trading Research dan beberapa fund manager memperkirakan adanya flight to safety, yaitu dolar AS dan yen Jepang menguat, yield Treasury turun, dan emas melonjak.
Untuk logam industri seperti tembaga, aluminium, baja, ceritanya lebih kompleks. Kenaikan harga energi menaikkan biaya smelting dan produksi. Tapi jika konflik memukul pertumbuhan ekonomi global, permintaan logam bisa justru tertekan. Dua gaya tarik yang berlawanan ini membuat analis belum berani bertaruh besar ke satu arah.
Delapan produsen OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan darurat hari Minggu ini untuk menilai dampak konflik. Sebelum eskalasi, mereka berencana menambah produksi 137.000 bpd, tapi kini kemungkinan mempertimbangkan penambahan lebih besar jika pasokan benar-benar terganggu.
Arab Saudi, UEA, dan Kuwait memang punya kapasitas cadangan yang besar, secara teori cukup untuk mengkompensasi hilangnya ekspor Iran. Tapi ada satu variabel yang mengubah semua kalkulasi itu: Iran sudah membalas dengan menembak rudal ke Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA. Jika Iran menyerang infrastruktur minyak negara-negara Teluk seperti yang pernah terjadi di Abqaiq 2019 kapasitas cadangan itu justru yang akan lenyap.
Semua mata tertuju pada satu pertanyaan: apakah selat benar-benar ditutup, atau hanya gertakan?
Jika pelayaran kembali normal dalam hitungan hari, pasar kemungkinan akan mengulang pola Juni 2025, lonjak tajam di awal, lalu melandai begitu jelas bahwa pasokan fisik tidak terganggu parah. Saat Israel menyerang fasilitas nuklir Iran di Juni 2025, pasar saham jatuh tajam di awal tapi pulih cepat setelah selat terbukti aman dilalui.
Tapi jika kali ini berbeda, jika Iran melihat ini sebagai pertarungan untuk kelangsungan rezimnya dan benar-benar menutup selat, maka $100 per barel bukan angka yang mengejutkan lagi. Dan lonjakan harga minyak sebesar itu, kata para ekonom, cukup untuk memukul pertumbuhan ekonomi global yang sudah ringkih di tengah te
Posted in News