Membuka Flightradar24 hari ini dan polanya langsung terlihat. Di kawasan yang seharusnya menjadi salah satu persimpangan penerbangan tersibuk di dunia, koridor antara Eropa dan Asia yang melewati Timur Tengah, ada kekosongan yang mencolok.
Ratusan ribu penumpang yang setiap harinya transit di Dubai, Doha, dan Abu Dhabi kini harus mencari jalur lain. Dan maskapai-maskapai Asia sedang bergerak cepat untuk menjadi jawaban itu.
Ketika serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 memicu penutupan masif ruang udara Timur Tengah, Emirates, Qatar Airways, dan Etihad, tiga pilar utama model hub and spoke global terpaksa memangkas operasi secara drastis. Lebih dari 1.800 penerbangan dibatalkan dalam 48 jam pertama.
Dubai International Airport yang biasanya memproses lebih dari 1.000 penerbangan per hari tidak bisa beroperasi normal. Jutaan penumpang terdampak. Dan dari kehancuran logistik itu, muncul peluang yang tidak terduga bagi maskapai Asia.
Angka yang paling menggambarkan situasi ini datang dari rute-rute spesifik. Cathay Pacific rute Hong Kong–London tidak memiliki kursi ekonomi tersedia hingga 11 Maret 2026, dengan tiket pertama yang tersedia dihargai sekitar USD 2.705 sekali jalan dibanding harga normal sekitar USD 648. Qantas rute Sydney–London tidak memiliki kursi ekonomi hingga 17 Maret, dengan harga USD 2.220.
Japan Times melaporkan kenaikan tarif hingga 900% di beberapa rute tertentu pada minggu pertama konflik. Analis Alton Aviation yang dikutip Reuters mengidentifikasi Singapore Airlines dan Cathay Pacific sebagai penerima manfaat jangka pendek terbesar, mengingat keduanya punya jaringan penerbangan nonstop antara Asia dan Eropa yang sudah mapan.
Thai Airways melaporkan penerbangan ke Eropa penuh terpesan, menurut Menteri Transportasi Thailand. Singapore Airlines menambah frekuensi ke London Gatwick. Cathay Pacific menambah kapasitas di rute-rute Eropa dengan armada berbadan lebar.
Singapura muncul sebagai salah satu pemenang terbesar dari krisis ini. Data pemesanan dari Flight Centre Travel Group dan FCM Travel mencatat kenaikan 38% dalam pemesanan rute Australia–Eropa via Changi pada periode 2–15 Maret 2026 dibanding dua minggu sebelumnya. Penumpang yang biasanya transit di Dubai kini beralih ke Changi sebagai titik singgah.
Bangkok juga mengalami lonjakan serupa. Travelandtourworld.com melaporkan Suvarnabhumi Airport menjadi salah satu alternatif transit yang paling banyak dicari, dengan Thai Airways menjadi maskapai yang paling diuntungkan di kawasan Asia Tenggara.
Ribuan penumpang yang terlantar di bandara Asia Tenggara karena maskapai Gulf mereka menghentikan operasi mulai beralih ke maskapai lokal, menciptakan permintaan mendadak yang bahkan sulit dipenuhi dalam waktu singkat.
Lalu yang membuat maskapai China paling diuntungkan dari krisis ini bukan semata-mata kapasitas, tapi akses ruang udara. Air China, China Eastern, China Southern, dan Cathay Pacific semuanya memiliki akses ke ruang udara Rusia, merupakan akses yang tidak dimiliki sebagian besar maskapai Barat pasca invasi Ukraina 2022.
Dengan ruang udara Timur Tengah yang tertutup, rute great circle via Rusia yang sebelumnya hanya relevan bagi maskapai China kini menjadi salah satu sedikit jalur efisien yang tersisa untuk menghubungkan Eropa dan Asia.
Sementara maskapai Jepang harus memutar rute ke timur melewati Pasifik, Alaska, dan Kanada, menambah 2,4 jam perjalanan dan sekitar 20% konsumsi bahan bakar tambahan seperti yang dialami Japan Airlines rute Tokyo–London, sementara maskapai China tetap bisa menggunakan jalur utara yang lebih pendek.
Tapi tidak semua maskapai Asia berada di posisi yang sama. Maskapai yang model bisnisnya bergantung pada codeshare dengan maskapai Gulf menghadapi tekanan berbeda.
Malaysia Airlines misalnya sangat bergantung pada Qatar Airways untuk membawa penumpang dari AS, Eropa, dan Timur Tengah masuk ke Asia Tenggara. Ketika pesawat Qatar tidak bisa terbang ke Doha, arus penumpang ke Malaysia ikut terganggu.
Biaya operasional juga tidak bisa diabaikan. Konsultan industri memperkirakan total biaya operasional per penerbangan jarak jauh naik 3 hingga 8% tergantung routing dan harga bahan bakar. Sebagian maskapai bahkan perlu mengurangi muatan kargo untuk membawa bahan bakar tambahan yang dibutuhkan jalur yang lebih panjang. Keuntungan dari lonjakan permintaan sebagian tergerus oleh kenaikan biaya operasional.
Per 26 Maret, 44 maskapai sudah menghapus seluruh kapasitas ke Timur Tengah hingga akhir April 2026, memangkas 245.000 kursi dari pasar. Situasinya masih jauh dari normal.
Pertanyaan yang kini ramai dibicarakan analis industri: apakah krisis ini akan mengubah peta kekuatan aviasi global secara permanen, atau hanya sementara?
Sebagian besar analis condong ke skenario kedua. Model hub Gulf yang dibangun Emirates, Qatar Airways, dan Etihad memiliki fondasi yang terlalu kuat untuk runtuh karena satu krisis. Infrastruktur fisik, jaringan rute, dan loyalitas penumpang yang sudah dibangun selama puluhan tahun tidak hilang dalam hitungan minggu. Per 18 Maret, Emirates dan Etihad sudah kembali mengoperasikan sekitar 90% dari jaringan yang direncanakan.
Tapi setiap krisis meninggalkan pelajaran. Maskapai yang bergerak cepat mengisi celah ini dan berhasil memberikan pengalaman memuaskan bagi penumpang yang terpaksa beralih akan berpeluang mempertahankan sebagian dari penumpang baru itu bahkan setelah langit Timur Tengah kembali terbuka sepenuhnya.
Posted in News