Dari Teluk Persia ke Pom Bensin: Bagaimana Perang Iran-AS Memukul Ekonomi Indonesia

ChatGPT Image Mar 1, 2026, 10_08_59 PM

Pertamina mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi tepat pada 1 Maret 2026, satu hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke Iran. Pertamax Green naik menjadi Rp12.900 per liter. Pertamax Turbo Rp13.100. Dexlite Rp14.200. Pertamina Dex Rp14.500.

Secara resmi, keputusan itu mengacu pada formula harga berdasarkan Kepmen ESDM Nomor 245 tahun 2022, sebuah mekanisme yang memang mengaitkan harga BBM nonsubsidi dengan pergerakan harga minyak global. Tapi siapa pun yang mengikuti perkembangan selama 24 jam terakhir tahu bahwa angka-angka di papan harga SPBU hari ini bukan sekadar urusan administratif. Di baliknya ada konflik yang jaraknya lebih dari 7.000 kilometer dari Jakarta, namun dampaknya sudah terasa di dompet konsumen bahkan sebelum pagi tiba.

Indonesia bukan pemain dalam perang ini. Tapi Indonesia adalah salah satu pihak yang paling terdampak.

Mengapa Konflik di Teluk Persia Langsung Terasa di Jakarta?

Indonesia mengimpor sekitar 1,2 juta barel BBM per hari. Dari jumlah itu, sekitar 50 persen kebutuhan minyak nasional dipenuhi dari impor, angka yang membuat APBN sangat sensitif terhadap setiap pergerakan harga minyak dunia.

Ketika Selat Hormuz, jalur tempat 20% pasokan minyak cair global melintas setiap harinya dinyatakan ditutup oleh Iran pada 28 Februari kemarin, bukan hanya pedagang di London Mercantile Exchange yang panik. Di Kementerian Keuangan dan Kementerian ESDM Jakarta, skenario-skenario darurat mulai dikalkulasi ulang.

Konflik ini berpotensi memicu tiga tekanan sekaligus bagi Indonesia: krisis energi, tekanan fiskal, dan gejolak moneter. Jika konflik meluas dan Selat Hormuz terganggu, harga minyak bisa menembus 130 hingga 150 dolar AS per barel. Dan itu, kata para ekonom, adalah angka yang jauh melampaui asumsi harga minyak dalam APBN 2026.

BBM: Nonsubsidi Sudah Naik, Subsidi Menunggu Giliran?

Kenaikan Pertamax dan kawan-kawannya hari ini adalah dampak yang paling langsung terlihat. Mekanismenya sederhana: harga BBM nonsubsidi di Indonesia memang dikaitkan dengan formula harga pasar, sehingga ketika harga minyak dunia naik, penyesuaian harga adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari.

Ekonom UGM Fahmy Radhi menjelaskan bahwa jenis BBM yang sudah pasti terdampak kenaikan harga minyak global adalah Pertamax dan bahan bakar lain di atasnya. Harga BBM jenis tersebut diserahkan kepada fluktuasi harga minyak global.

Tapi yang lebih besar persoalannya adalah Pertalite dan Solar. Keduanya disubsidi negara, harganya ditetapkan pemerintah bukan oleh pasar. Selama ini, selisih antara harga keekonomian dan harga jual ke masyarakat ditanggung APBN. Ketika harga minyak dunia masih di kisaran $67 per barel, hitungan itu masih terjangkau. Tapi ketika harga mulai mendekati $100, atau bahkan melampaui angka itu?

“Kalau sudah di atas 100 dolar AS per barel saya kira APBN sudah tidak mampu lagi, maka pada saat itu pemerintah harus menaikkan,” kata Fahmy. “Meskipun tidak proporsional dengan kenaikan harga minyak dunia, tetapi perlu ada kenaikan agar beban tidak terlalu berat.”

Artinya, Pertalite dan Solar yang selama ini terlindungi oleh subsidi bukan berarti kebal sepenuhnya. Jika tekanan harga global berlanjut, kebijakan pemerintah soal BBM subsidi bisa berubah, dan itu akan langsung terasa oleh kelas menengah bawah yang paling bergantung pada dua jenis bahan bakar tersebut.

APBN: Tekanan yang Datang dari Dua Arah

Masalah fiskal Indonesia dalam skenario ini datang dari dua arah sekaligus  dan keduanya bergerak berlawanan dengan kepentingan anggaran negara.

Di satu sisi, kenaikan harga minyak membuat subsidi BBM dan LPG serta subsidi listrik membengkak. Ketergantungan impor minyak Indonesia yang telah mencapai sekitar 50 % membuat APBN sangat rentan. Kenaikan harga minyak otomatis memperbesar beban subsidi BBM, LPG, dan listrik hingga triliunan rupiah.

Di sisi lain, kondisi fiskal Indonesia saat ini tidak dalam posisi ideal untuk menyerap guncangan eksternal. Laporan lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan S&P sudah menyoroti kualitas pengelolaan fiskal Indonesia. Opsi penambahan utang pun semakin terbatas.

Anggota Komisi XI DPR Bertu Merlas tidak menyembunyikan kekhawatirannya. “Kenaikan harga minyak dunia sudah pasti akan menambah beban berat APBN kita, terutama untuk pos subsidi BBM. Kami berharap pemerintah segera melakukan langkah antisipasi agar dampak perang Timur Tengah tidak kian melambatkan pertumbuhan ekonomi yang memang sudah melambat akhir-akhir ini.”

Pertumbuhan ekonomi yang “sudah melambat” adalah kalimat yang penting. Indonesia memasuki 2026 dengan sejumlah tekanan domestik yang belum selesai, konsumsi rumah tangga yang lesu, ekspor yang tertekan tarif Trump, dan kepercayaan investor yang masih dalam proses pemulihan. Guncangan eksternal dari Timur Tengah datang di waktu yang tidak menguntungkan.

Sembako dan Logistik: Efek Domino yang Paling Merata

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kenaikan harga BBM nonsubsidi mungkin terasa jauh, mereka tidak mengisi Pertamax setiap hari. Tapi ada jalur dampak yang jauh lebih merata: logistik dan harga bahan pokok.

Kenaikan harga energi selalu diikuti oleh kenaikan biaya logistik. Truk pengangkut bahan pangan menggunakan Solar. Apabila biaya operasional truk naik, harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan telur di pasar tradisional biasanya ikut merangkak naik.

Ini adalah mekanisme yang sudah berkali-kali terbukti di Indonesia: kenaikan Solar, meski ditahan subsidi, tidak selalu mencegah kenaikan ongkos angkut. Sopir truk dan pengusaha logistik sering kali sudah menaikkan tarif lebih dulu berdasarkan ekspektasi, bahkan sebelum kebijakan resmi diumumkan. Hasilnya: harga beras di pasar Klender atau Pasar Minggu bergerak, meski SPBU masih menampilkan papan harga yang sama.

Lebih jauh, konflik ini juga berpotensi mengganggu jalur pelayaran di Terusan Suez dan Laut Merah, jalur yang selama ini menjadi rute utama barang-barang impor dari Eropa dan sebagian Asia ke Indonesia. Gangguan di jalur tersebut menyebabkan biaya asuransi kapal naik dan rute pelayaran menjadi lebih jauh karena harus memutar lewat Afrika, sehingga harga barang elektronik atau pakaian impor menjadi lebih mahal.

Rupiah: Tekanan dari Dua Sisi

Konflik geopolitik dengan skala sebesar ini hampir selalu memicu flight-to-safety di pasar keuangan global: investor menarik modal dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman,  dolar AS, yen Jepang, obligasi Treasury, dan emas.

Indonesia, sebagai negara berkembang dengan pasar keuangan yang cukup terbuka, adalah salah satu tujuan penarikan modal dalam skenario risk-off seperti ini. Saat Rupiah melemah, harga bahan baku industri yang diimpor seperti gandum untuk mi instan dan roti, atau kedelai untuk tahu dan tempe, akan melonjak, yang ujungnya dibebankan kepada konsumen.

Gandum dan kedelai adalah dua komoditas yang paling langsung terasa di meja makan kelas bawah dan menengah Indonesia. Mi instan, tahu, tempe, semua bergantung pada dua bahan baku yang sebagian besar diimpor. Pelemahan Rupiah membuat impor dua komoditas itu lebih mahal dalam denominasi rupiah, dan produsen pada akhirnya akan meneruskan kenaikan biaya itu ke konsumen.

Rute Penerbangan Terganggu: Biaya yang Tidak Terlihat

Salah satu dampak yang kurang diperhatikan adalah gangguan rute penerbangan. Perang Timur Tengah mengganggu rute penerbangan dari dan ke Soekarno-Hatta. Beberapa maskapai sudah mulai memutar ulang rute-rute yang biasanya melewati wilayah udara Teluk Persia, Iran, dan sekitarnya, menambah waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar, yang ujungnya berkontribusi pada tekanan kenaikan harga tiket pesawat.

Bagi sektor pariwisata dan bisnis yang baru saja mulai pulih, tambahan biaya perjalanan ini bukan kabar yang menyenangkan.

Emas: Satu-satunya Berita Baik

Di tengah rangkaian tekanan, ada satu sisi yang menguntungkan bagi sebagian masyarakat: harga emas. Emas adalah instrumen perlindungan nilai saat terjadi perang. Masyarakat yang sudah memiliki simpanan emas dan ingin menjualnya akan mendapat keuntungan dari harga yang sangat tinggi saat ketegangan ini berlangsung.

Emas Antam sudah bergerak naik bahkan sebelum serangan dimulai, mengikuti pergerakan harga emas global yang sudah menguat sepanjang Februari. Bagi mereka yang sudah memiliki tabungan emas, baik dalam bentuk fisik maupun rekening emas digital, momen ini adalah kesempatan merealisasikan keuntungan. Tapi tentu saja, ini hanya relevan bagi mereka yang punya simpanan untuk dijual.

Respons Pemerintah: Mediasi dan Mitigasi

Di tengah guncangan ini, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya terbang ke Tehran untuk menawarkan mediasi antara Iran dan Israel. Langkah itu jika terlaksana mencerminkan posisi Indonesia sebagai negara yang selama ini menjaga jarak dari konflik geopolitik besar sambil aktif mendorong diplomasi.

Tapi di dalam negeri, yang lebih mendesak adalah respons kebijakan ekonomi. Kenaikan BBM nonsubsidi hari ini baru langkah pertama. Yang masih ditunggu pasar dan masyarakat adalah kepastian soal subsidi BBM, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah, serta langkah fiskal pemerintah untuk memastikan ruang APBN tidak terkikis terlalu cepat oleh membengkaknya beban energi.

Seberapa Lama Ini Akan Berlangsung?

Sejarah memberikan sedikit gambaran. Saat invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, harga minyak sempat menembus $130 per barel sebelum kembali turun ke kisaran $95 pada pertengahan tahun yang sama. Sebelum Perang Teluk 2003, harga melonjak 46%, lalu turun menjelang dimulainya operasi militer.

Sejarah menunjukkan gangguan besar terhadap pasokan minyak global biasanya tidak berlangsung lama. Tapi “tidak berlangsung lama” menurut ukuran pasar komoditas bisa berarti berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, dan selama periode itu, tekanan terhadap ekonomi Indonesia tetap nyata dan terasa.

Yang membedakan situasi hari ini dari krisis-krisis sebelumnya adalah skala dan kompleksitasnya. Selat Hormuz belum pernah benar-benar ditutup sebelumnya. Iran belum pernah membalas serangan dengan rudal yang mendarat di empat negara Teluk sekaligus. Dan Indonesia, dengan semua tekanan domestiknya, belum pernah menghadapi guncangan eksternal sebesar ini tepat di tengah kondisi fiskal yang sedang ketat.

Brent crude sudah di $79 hari ini, naik 18% dalam sepekan. Angka di papan harga Pertamina baru akan berubah kembali jika kondisi global berubah. Yang pasti untuk saat ini: tekanan itu nyata, dan belum ada kepastian kapan ia akan mereda.

 

Posted in

Berita Terkait