Pada awal 2024, konsumsi token AI di China tercatat sekitar 100 miliar per hari. Angka itu sudah terdengar besar. Tapi per Maret 2026, dua tahun kemudian, angkanya sudah melampaui 140 triliun per hari. Kenaikan lebih dari 1.000 kali lipat dalam dua tahun.
Liu Liehong, kepala Badan Administrasi Data Nasional China, mengungkapkan angka ini di hadapan peserta China Development Forum di Beijing pada 24 Maret 2026.
“Token bukan hanya satuan nilai di era kecerdasan buatan, tapi juga unit penyelesaian yang menghubungkan suplai teknologi dengan permintaan komersial,” ujar Liu.
Token adalah satuan terkecil data yang diproses oleh model AI besar. Setiap kata, kalimat, atau permintaan yang dimasukkan pengguna ke platform AI akan dipecah menjadi token sebelum diproses. Semakin banyak token yang dikonsumsi, semakin masif skala adopsi AI di suatu ekosistem.
Pertumbuhan konsumsi token China tidak terjadi dalam satu lompatan. Per akhir 2025, angkanya sudah mencapai 100 triliun per hari, sebelum melonjak lagi ke 140 triliun pada Maret 2026.
Kenaikan dari 100 triliun ke 140 triliun dalam waktu kurang dari tiga bulan mencerminkan akselerasi yang tidak linear.
Di balik lonjakan ini ada beberapa pemain besar. ByteDance melaporkan Doubao, chatbot AI mereka, sudah memproses lebih dari 50 triliun token per hari. Volcano Engine yang merupakan divisi komputasi awan ByteDance, mencatat kenaikan dari 2 triliun token per hari di akhir 2024 menjadi 63 triliun di Januari 2026. Alibaba Cloud menargetkan konsumsi token pelanggan eksternal tumbuh dari 5 triliun menjadi 15-20 triliun per hari sepanjang 2026.
Liu juga menyebut sebuah angka yang menggambarkan betapa cepatnya monetisasi AI di China bergerak: sejumlah pengembang model AI melaporkan pendapatan dalam 20 hari pertama sejak akhir Januari 2026 sudah melampaui total pendapatan mereka sepanjang 2025.
Catatan ini tidak disertai verifikasi independen, tapi skalanya mencerminkan pergeseran yang signifikan dalam model bisnis berbasis token.
China Telecom, salah satu operator telekomunikasi terbesar China, mengumumkan pada 25 Maret 2026 bahwa mereka memangkas total belanja modal 2026 sebesar 9,2% menjadi 73 miliar yuan, tapi di saat yang sama menaikkan alokasi untuk infrastruktur komputasi AI sebesar 26%, hingga menyumbang 35% dari total anggaran belanja modal.
Ini adalah sinyal yang jelas tentang ke mana prioritas industri bergerak, yaitu investasi jaringan tradisional dikurangi, kapasitas komputasi AI ditingkatkan.
China Unicom juga mengambil langkah serupa dengan memotong capex keseluruhan hampir 8% ke sekitar 50 miliar yuan, sambil mengalokasikan lebih dari 35% anggaran untuk infrastruktur komputasi.
Pendapatan terkait AI China Unicom sudah tumbuh 147% secara tahunan, dengan bisnis daya komputasi menyumbang 15,4% dari total pendapatan layanan.
Apa yang sedang terjadi di industri telekomunikasi China mencerminkan pergeseran paradigma yang lebih dalam. Selama satu dekade terakhir, operator telekomunikasi membangun bisnis mereka di atas model “traffic based”, yaitu semakin banyak data yang mengalir di jaringan, semakin besar pendapatan. Kini mereka sedang bertransisi ke model “token based” di mana unit nilai yang diperdagangkan bukan lagi megabyte data, melainkan token komputasi AI.
Chairman China Telecom Ke Ruiwen menyebut transisi ini secara eksplisit dalam konferensi pers hasil keuangan perusahaan. AI related revenue China Telecom sendiri sudah mencapai 12,3 miliar yuan pada 2025.
Sistem berbasis AI yang sudah diimplementasikan di internal China Telecom diklaim mengurangi kunjungan teknisi lapangan sebesar 35%, sementara kode yang dibuat AI kini menyumbang 40% dari keseluruhan pengembangan perangkat lunak perusahaan.
Angka 140 triliun token per hari yang disampaikan Liu Liehong adalah data pemerintah yang belum mendapat verifikasi independen. Cara penghitungan token di berbagai platform tidak selalu konsisten, model yang berbeda menggunakan tokenisasi yang berbeda, dan “token” di satu sistem tidak selalu setara dengan “token” di sistem lain.
Analis independen menyarankan angka ini dibaca sebagai indikasi arah dan skala pertumbuhan, bukan sebagai angka absolut yang bisa dibandingkan langsung dengan ekosistem AI di negara lain.
Tapi terlepas dari presisi angkanya, tren yang digambarkan jelas bahwa China sedang membangun ekonomi berbasis token AI dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya dan kecepatan pertumbuhannya tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.
Angka konsumsi token China yang mencapai 140 triliun per hari juga membuka pertanyaan yang lebih luas tentang keseimbangan kekuatan di industri AI global. Selama beberapa tahun terakhir, narasi dominan adalah bahwa AI “dikuasai” Amerika Serikat dengan OpenAI, Google, Anthropic, dan Meta menjadi referensi utama.
Tapi skala adopsi yang terjadi di China, yang tercermin dari angka token ini, menunjukkan bahwa ekosistem AI China sedang tumbuh dengan dinamika dan skala yang tidak bisa lagi diabaikan.
Satu perbedaan struktural penting bahwa di China, adopsi AI didorong sangat kuat oleh sektor korporat dan pemerintah, bukan hanya pengguna konsumen. Aplikasi AI untuk manufaktur, logistik, layanan pemerintah, dan infrastruktur kritis mendapatkan dukungan regulasi dan pendanaan yang tidak selalu tersedia di ekosistem yang lebih market driven.
Ini menciptakan jalur adopsi yang berbeda tapi sama cepatnya.
Bagi perusahaan teknologi global yang sedang mengevaluasi strategi pasar mereka, angka 140 triliun token per hari adalah pengingat bahwa China bukan hanya pasar yang besar, ia adalah ekosistem AI yang sudah matang dengan skala konsumsi yang menentukan arah perkembangan industri secara global.
Posted in Lensa Asia