Selama bertahun-tahun, ByteDance identik dengan TikTok. Platform video pendek yang mengubah cara dunia mengonsumsi konten itu menjadikan perusahaan asal Beijing ini salah satu raksasa teknologi paling bernilai di dunia.
Tapi tekanan regulasi yang tidak kunjung reda di Amerika Serikat dan Eropa, ditambah pertumbuhan TikTok yang mulai melambat karena basis penggunanya sudah sangat besar, memaksa ByteDance berpikir ulang. Dan BytdeDance coba menjawab dengan All in AI
Pergerakan ini dilakukan dengan kecepatan dan skala yang membuat para pesaingnya termasuk raksasa Silicon Valley, memperhatikan dengan serius.
Di pusat ambisi AI ByteDance adalah Doubao, chatbot yang diluncurkan pada 2023 dan kini menjadi aplikasi AI paling populer di China.
Sejak debutnya, Doubao sudah mengumpulkan lebih dari 100 juta pengguna aktif harian, menjadikannya salah satu pemroses kueri AI terbesar di dunia, bersanding dengan OpenAI dan Google.
Skala pemrosesan Doubao sangat mengesankan dengan model-modelnya yang memproses lebih dari 50 triliun token setiap hari. Sebagai perbandingan, Google menyebut sistemnya menangani 43 triliun token per hari. Doubao kini menempati peringkat keempat dalam daftar AI terkemuka versi Andreessen Horowitz, di belakang OpenAI dan Google.
Tapi Doubao bukan satu-satunya penopang ByteDance di AI. Perusahaan ini juga mengembangkan Seedance 2.0, generator video AI yang klip-klipnya mulai mendapat perhatian global dan bersaing langsung dengan Sora dari OpenAI maupun Kling dari Kuaishou.
Di sisi enterprise, ByteDance menawarkan akses ke model-model AI nya melalui platform Volcano Engine yang menyasar klien korporat.
Angka-angka yang dikeluarkan ByteDance untuk membangun infrastruktur AI miliknya mencerminkan betapa serius pivot ini. Perusahaan berencana mengalokasikan sekitar 160 miliar yuan atau sekitar 23 miliar dolar AS untuk belanja modal di 2026, naik dari 150 miliar yuan di 2025. Sebagian besar dana itu mengalir ke pembelian chip semikonduktor untuk melatih model AI dan menjalankan aplikasi.
ByteDance tercatat sebagai klien China terbesar Nvidia pada 2024. Dalam iklim pembatasan ekspor chip yang masih berlanjut, posisi itu menunjukkan betapa agresifnya ByteDance dalam mengamankan infrastruktur komputasi yang dibutuhkan untuk bersaing di level global.
Di sisi sumber daya manusia, ByteDance juga tidak pelit. Headhunter industri Shen Wei mengungkapkan bahwa perusahaan ini kadang menawarkan gaji dua hingga tiga kali rata-rata pasar untuk menarik insinyur dan peneliti AI terbaik sambil mempertahankan salah satu tim AI terbesar di sektor teknologi China.
“ByteDance mengambil pendekatan all in dengan AI dan menjadi pemain paling agresif di pasar,” kata Shen Qiajin, pendiri platform konten interaktif ideaFlow yang banyak menggunakan model-model AI ByteDance.
Tekanan regulasi terhadap TikTok yang selama ini dianggap sebagai ancaman bagi ByteDance, sebenarnya justru mempercepat transformasi perusahaan ini.
Di Amerika Serikat, ByteDance akhirnya menyelesaikan drama panjang divestasi TikTok dengan membentuk joint venture yang mayoritas dimiliki entitas Amerika, sementara ByteDance mempertahankan kepemilikan kurang dari 20%. Di Eropa, Komisi Eropa menyebut fitur-fitur “adiktif” TikTok melanggar aturan konten digital dan mengancam denda hingga 6% dari pendapatan global tahunan ByteDance.
Tekanan itu mendorong perusahaan untuk mempercepat diversifikasi dari ketergantungan pada TikTok. Charlie Dai, vice president dan principal analyst di Forrester, menyebutnya sebagai “evolusi deliberatif dari media sosial menuju model AI native.”
Bagi analis industri Chen Yan dari QuestMobile, pivotnya masuk akal dari sisi bisnis. “Mereka perlu mencari generasi produktivitas berikutnya, mengingat pertumbuhan TikTok yang semakin sulit seiring basis penggunanya yang sudah sangat besar.“
Meski ambisinya besar, ByteDance menghadapi hambatan yang tidak kecil. Di pasar global, produk-produk AI nya kemungkinan akan menghadapi hambatan serupa dengan TikTok terkait kekhawatiran tata kelola data dan gesekan geopolitik.
Sementara TikTok masuk ke pasar yang belum jenuh, raksasa AI Barat sudah jauh lebih memahami regulasi lokal dan ekspektasi pengguna di masing-masing negara.
Di dalam negeri China sendiri, persaingan tidak kalah sengit. Tencent dan Alibaba menjalankan kampanye promosi agresif selama Tahun Baru Imlek, mendorong chatbot mereka ke puncak App Store. DeepSeek muncul sebagai pendatang yang mengejutkan industri global dengan efisiensi modelnya. ByteDance harus bersaing di dua front sekaligus.
Tantangan lain yang lebih mendasar adalah monetisasi. Menjalankan chatbot AI berskala besar adalah operasi yang sangat mahal, dan belum ada pemain global yang membuktikan model bisnis yang benar-benar sustainable di segmen ini.
“Tantangan nyata bagi Doubao baru akan datang setelah melampaui 100 juta pengguna aktif harian,” kata seorang staf Doubao kepada media teknologi China The Late Post.
ByteDance sedang membangun imperium AI di atas fondasi TikTok. Namun memindahkan keberhasilan di satu domain ke domain lain yang jauh berbeda, tidak pernah semudah kelihatannya.
Posted in Lensa Asia