Tiga Faktor Ekonomi penyebab IHSG Melemah Hari Ini

WhatsApp Image 2026-03-04 at 17.55.35

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Di sesi pertama, IHSG terkoreksi 343 poin atau minus 4,32% ke level 7.596, sempat menyentuh titik terendah 7.500 sebelum sedikit membaik. Sebanyak 748 saham melemah, hanya 58 yang menguat, dan 52 stagnan. Kapitalisasi pasar ikut terkikis menjadi Rp13.700 triliun.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menyebut pergerakan IHSG hari ini sejalan dengan tekanan yang melanda bursa-bursa regional. Korea Selatan bahkan mengalami trading halt setelah indeks Kospinya turun lebih dari 8%. Nikkei, SET Thailand, Taiwan TAEIX, dan ASX turut tertekan dalam.

“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup Selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi,” ujar Irvan, Rabu (4/3/2026).

Tiga Faktor yang Menekan IHSG Hari Ini

Konflik Timur Tengah dan Penutupan Selat Hormuz

Faktor paling dominan yang memukul pasar hari ini adalah eskalasi konflik Iran, AS, dan Israel yang memasuki hari keempat. IRGC telah menyatakan Selat Hormuz ditutup, jalur yang biasa dilalui sekitar 20% pasokan minyak harian dunia. Ancaman terhadap distribusi energi global mendorong investor beralih ke aset safe haven dan menjual aset berisiko secara masif.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai penurunan tajam IHSG merupakan refleksi dari akumulasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan. “Dari sisi eksternal, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global,” ujarnya. Harga Brent yang sudah menembus USD 80 per barel menjadi alarm bagi Indonesia sebagai negara net oil importer, setiap kenaikan harga minyak berdampak langsung pada inflasi sekaligus berpotensi memperlebar beban subsidi dan tekanan terhadap APBN.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menambahkan, selama harga minyak masih di bawah USD 90, dampaknya ke pasar biasanya masih berupa volatilitas sentimen. “Namun jika Brent menembus USD 100 disertai gangguan distribusi fisik, risiko bisa berubah menjadi shock energi yang berpotensi menekan inflasi, rupiah, dan IHSG secara lebih luas,” tulis Liza dalam risetnya.

Fitch Turunkan Outlook Indonesia Menjadi Negatif

Tekanan dari luar negeri diperparah oleh kabar dari lembaga pemeringkat global Fitch Ratings yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat kredit masih dipertahankan di level investment grade BBB.

Hendra menilai perubahan outlook ini bukan penurunan rating, tapi pasar membacanya sebagai sinyal meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan. “Dalam kondisi global yang sudah diliputi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, perubahan outlook ini menjadi sentimen tambahan yang mempercepat aksi jual, khususnya dari investor asing yang sensitif terhadap risiko makro,” ujarnya.

Isu Ketahanan Energi Domestik dan Data Manufaktur China

Dari dalam negeri, pasar juga dibayangi pernyataan Menteri ESDM yang menyebut cadangan bahan bakar minyak Indonesia hanya cukup untuk 20 hari ke depan. Di tengah konflik Timur Tengah yang belum mereda dan lonjakan harga minyak mentah global, pernyataan ini memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan impor energi dan potensi pelebaran defisit APBN melampaui batas 3% PDB.

Dari eksternal, tekanan tambahan datang dari data ekonomi China. Biro Statistik China melaporkan indeks manufaktur turun dari 49,3 menjadi 49,0 pada Februari 2026 — kontraksi bulan kedua berturut-turut yang memperkuat kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan berimbas pada sentimen investor di seluruh kawasan Asia.

Outlook ke Depan

Hendra memprediksi hingga akhir Maret, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh dua variabel utama: harga minyak dan stabilitas rupiah. Secara teknikal, area 7.500-7.600 menjadi zona penopang psikologis penting. Jika ketegangan mereda dan rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound bertahap ke kisaran 7.900-8.100 pada akhir Maret. “Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko menguji kembali area 7.400,” ujarnya.

Liza dari Kiwoom Sekuritas menyarankan sikap wait and see dalam dua pekan ke depan mengingat volatilitas yang masih tinggi. “Brace your portfolio untuk kemungkinan jebol lebih dalam,” ujar Liza.

Posted in

Berita Terkait