Ramadan 2026: Konsumen Lebih Selektif, Sektor Ini yang Paling Diuntungkan

ChatGPT Image Mar 3, 2026, 06_28_36 AM

Setiap tahun, Ramadan menggerakkan roda konsumsi Indonesia dalam skala yang tidak tertandingi oleh momen belanja lain. Tapi tahun ini juga ada sesuatu yang berbeda dalam cara konsumen mengambil keputusan, dan perbedaan itu cukup signifikan untuk diperhatikan para pelaku bisnis di semua lini.

Daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih membuat pola belanja Ramadan 2026 lebih terukur. Konsumen tidak berhenti berbelanja, hanya menjadi jauh lebih selektif dalam memilih ke mana setiap rupiahnya pergi. 

Riset InMobi mencatat 74 persen konsumen meningkatkan alokasi belanja di bulan puasa, angka yang tetap solid, meski pakar marketing Yuswohady mengingatkan bahwa lonjakan ini lebih bersifat musiman ketimbang mencerminkan perbaikan daya beli struktural. Belanja besar yang sudah terjadi sejak akhir tahun lalu seperti Natal, Tahun Baru, Imlek, telah menguras sebagian ruang anggaran rumah tangga sebelum Ramadan dimulai.

F&B, Tetap Jadi yang dibutuhkan

Tidak ada Ramadan tanpa lonjakan konsumsi makanan dan minuman. Data Nielsen Indonesia mencatat belanja produk F&B meningkat hingga 30 persen sepanjang bulan puasa, angka yang konsisten dari tahun ke tahun, meski karakternya terus berevolusi.

Yang tumbuh bukan hanya volume, melainkan variasi. Produk kuliner premium dan inovatif semakin mendapat tempat, seperti nastar salted egg, kastengel truffle, dan berbagai varian fusion yang memadukan cita rasa nostalgia dengan selera kontemporer. Konsumen kelas menengah ke atas semakin terbuka membayar lebih untuk produk yang memiliki nilai diferensiasi baik dari sisi rasa, kemasan, maupun cerita di balik produknya.

Hampers juga kembali menjadi kategori dengan pertumbuhan solid. Permintaan datang dari segmen korporat yang memberikan bingkisan kepada mitra dan karyawan, maupun dari konsumen individu untuk keluarga dan kerabat.

Pelaku UMKM kuliner yang mampu menawarkan paket hampers dengan visual yang kuat dan pengiriman yang andal memiliki peluang yang sangat terbuka di segmen ini.

Fashion, Lebaran Mendorong Belanja Jauh Sebelum Hari H

Tradisi baju baru Lebaran tidak pernah benar-benar memudar, dan tahun ini siklus pembeliannya semakin bergeser ke awal. Data internal Lazada mencatat lonjakan pencarian busana pria dan anak sejak pekan pertama Ramadan, menandakan konsumen yang semakin tidak ingin kehabisan pilihan menjelang akhir bulan.

Busana muslim, batik, dan pakaian formal untuk Salat Id menjadi kategori dengan pergerakan paling cepat. Di sisi lain, Beauty & Personal Care turut mengalami kenaikan permintaan signifikan didorong oleh kebutuhan tampil optimal saat silaturahmi dan perayaan hari raya.

Digital: Ngabuburit Bermigrasi ke Layar Ponsel

Pergeseran yang paling terasa Ramadan ini terjadi di dimensi waktu dan kanal. Aktivitas belanja online memuncak pada dua jendela waktu yang sangat spesifik: menjelang berbuka dan setelah Tarawih. Di luar jam-jam tersebut, konsumen relatif tidak aktif. Pelaku bisnis yang memahami pola ini dan mengarahkan iklan serta promosi secara tepat waktu memiliki keunggulan dibanding yang masih menggunakan pendekatan seragam sepanjang hari.

Live shopping menjadi format yang terbukti efektif. Kemampuannya untuk mendemonstrasikan produk secara langsung, menjawab pertanyaan konsumen secara real-time, dan menciptakan urgensi pembelian sangat sesuai dengan karakter konsumen Ramadan yang ingin merasa yakin sebelum memutuskan.

Satu dari tiga konsumen kini mengincar super app yang mengintegrasikan belanja dengan layanan lain dalam satu platform. Ini adalah indikator bahwa konsistensi pengalaman berbelanja dari riset hingga pembayaran dan pengiriman semakin menjadi pertimbangan utama dalam memilih di mana mereka bertransaksi.

Logistik: Tekanan Terbesar di Pekan Ketiga

Visa memproyeksikan aktivitas belanja mencapai puncaknya di sekitar pekan ketiga Ramadan, bukan di awal bulan seperti yang kerap diasumsikan pelaku bisnis. Faktor penentunya adalah pencairan THR, yang secara historis terjadi di pekan kedua hingga ketiga. Begitu tunjangan cair, pembelian tiket mudik, pakaian, elektronik, dan hampers terjadi dalam fase yang sangat terkonsentrasi dan pendek.

Bagi sektor logistik, ini adalah periode paling krusial sekaligus paling rentan. Volume pengiriman melonjak tajam dalam waktu singkat, sementara ekspektasi konsumen soal kecepatan dan keandalan pengiriman justru berada di titik tertinggi. Keterlambatan menjelang Lebaran berdampak langsung pada reputasi penjual, dan dalam era ulasan publik seperti sekarang, dampak itu bisa bertahan jauh melewati musim Ramadan itu sendiri.

Yang Dipertaruhkan Tahun Ini

Ramadan 2026 hadir dalam konteks ekonomi yang tidak sepenuhnya kondusif. Tekanan global dari konflik yang baru meletus, potensi kenaikan harga BBM subsidi, dan nilai tukar Rupiah yang dalam tekanan, semuanya membentuk latar belakang yang memengaruhi kepercayaan diri konsumen dalam berbelanja.

Dalam situasi seperti ini, konsumen tidak berhenti berbelanja. Mereka hanya semakin teliti memilih. Brand dan produk yang mampu menjawab pertanyaan “mengapa harus ini?” dengan jelas, baik lewat kualitas, harga yang kompetitif, maupun pengalaman berbelanja yang mulus,  akan keluar dari Ramadan ini dengan angka yang memuaskan.

 

Posted in

Berita Terkait