Mal Kembali Ramai: Kunjungan Lebaran 2026 Naik Dua Digit, F&B dan Hiburan Menjadi Penggerak

download (5)

Di tengah segala narasi tentang ritel yang mati digerus e-commerce, mal-mal Indonesia justru penuh sesak pada Lebaran 2026. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat kunjungan ke pusat perbelanjaan selama periode Ramadan dan Idulfitri tumbuh 11-12% dibanding tahun sebelumnya, dengan puncak terjadi H+1 Lebaran, tepat setelah masyarakat menyelesaikan agenda silaturahmi hari pertama.

Pertumbuhan 2 digit ini juga dipengaruhi beberapa faktor yang menopang sekaligus, dan membacanya dengan cermat bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang ke mana arah konsumsi masyarakat Indonesia.

Pola yang Berulang, Tapi Semakin Kuat

Lebaran selalu menjadi puncak musim belanja ritel Indonesia. Yang menarik di 2026 adalah besarannya yang melampaui ekspektasi banyak pihak. Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja menyebut hampir semua kategori produk mengalami peningkatan penjualan selama Ramadan, tapi pola belanjanya bergeser pada momen Lebaran itu sendiri.

Menjelang Lebaran, orang berbelanja kebutuhan seperti baju baru, kado, perlengkapan rumah. Tapi ketika libur Lebaran tiba, fokus beralih.

Masyarakat tidak lagi sekadar berbelanja barang, mereka datang ke mal untuk makan, hiburan, menghabiskan waktu bersama keluarga di ruang yang nyaman dan terkoneksi. Food and beverages dan entertainment menjadi dua kategori yang paling banyak diburu.

Ini bukan sekadar pergeseran preferensi belanja. Melainkan cerminan dari bagaimana mal bertransformasi dari sekadar tempat belanja menjadi destinasi pengalaman, dan momen Lebaran adalah bukti bahwa transformasi itu berhasil.

THR, UMP, dan Stimulus yang Bekerja Bersamaan

Lonjakan kunjungan tidak bisa dilepaskan dari konteks ekonomi yang mendukung. Awal 2026 diwarnai oleh beberapa faktor yang secara bersamaan mendorong daya beli masyarakat seperti kenaikan upah minimum yang mulai terasa, pencairan bonus dan THR menjelang Lebaran, serta sejumlah stimulus pemerintah termasuk bantuan sosial dan potongan tarif transportasi.

Program BINA Lebaran 2026 (Belanja di Indonesia Aja) yang berlangsung sepanjang 6-30 Maret 2026 juga ikut berperan. Program ini melibatkan lebih dari 400 pusat perbelanjaan dan sekitar 80.000 toko di seluruh Indonesia, dengan promo hingga 70% di berbagai kategori. Pemerintah menargetkan total transaksi selama program ini mencapai Rp53,38 triliun, angka yang ambisius tapi mencerminkan keyakinan terhadap kekuatan konsumsi domestik.

Indeks Keyakinan Konsumen yang berada di level 127 pada periode ini memperkuat gambaran tersebut, bahwa masyarakat Indonesia memasuki Lebaran 2026 dalam kondisi yang relatif optimistis.

Mal Bukan Tempat Belanja, Tapi Tempat Berkumpul

Ada pergeseran yang lebih dalam yang perlu diperhatikan. Kunjungan ke mal saat Lebaran bukan lagi semata-mata tentang transaksi. Bagi banyak keluarga, mal sudah menjadi salah satu arena silaturahmi itu sendiri, sebagai tempat bertemu, makan bersama, dan menghabiskan waktu di antara agenda kunjungan ke rumah saudara.

Yanti, seorang ibu yang ditemui di Pondok Indah Mall Jakarta saat H+1 Lebaran, menyebut kunjungan ke mal sudah masuk dalam agenda keluarganya, bukan pengganti silaturahmi tapi pelengkapnya. “Tadi juga sempat ke rumah saudara, tapi memang kami sisihkan waktu untuk jalan-jalan ke mal,” ujarnya.

Di sisi lain, ada segmen yang memilih tidak mudik dan menjadikan mal sebagai alternatif kegiatan Lebaran. Hasnah, 18 tahun, yang biasa mudik ke Bandung, tahun ini memilih menghabiskan Lebaran di Jakarta dan mengunjungi mal bersama keluarganya. Ia mengaku tak menyangka mal masih seramai itu bahkan di tengah momen mudik.

Dua pola ini  menjadikan mal sebagai pelengkap silaturahmi dan mal sebagai alternatif bagi yang tidak mudik menggambarkan betapa dalam mal sudah terintegrasi dalam rutinitas Lebaran masyarakat Indonesia.

Bagi Industri Ritel

Kinerja ritel triwulan pertama 2026 diperkirakan positif, sebagian besar ditopang oleh momen Ramadan dan Lebaran yang kontribusinya disebut APPBI cukup signifikan terhadap pencapaian kinerja sepanjang tahun.

Tapi yang lebih menarik adalah apa yang terjadi setelah Lebaran. Apakah momentum ini bisa dipertahankan? Atau ini hanya puncak musiman yang akan kembali melandai di kuartal berikutnya? Jawabannya akan banyak bergantung pada bagaimana pengelola mal dan peritel mengonversi lonjakan kunjungan Lebaran menjadi loyalitas yang lebih panjang, bukan sekadar transaksi satu momen.

Yang jelas, narasi bahwa mal sudah selesai zaman tampaknya perlu ditinjau ulang. Setidaknya di Indonesia, di momen Lebaran, orang masih datang dan dalam jumlah yang terus bertumbuh.

Posted in

Berita Terkait