Ketika Harga Minyak Bergejolak, Industri Logistik Menanggung Beban Pertama

ChatGPT Image Mar 3, 2026, 07_08_49 AM

Gejolak harga minyak global tidak pernah berhenti di pasar berjangka. Ia bergerak melewati kilang, masuk ke tangki bahan bakar, lalu akhirnya hinggap di ongkos truk yang mengangkut barang dari gudang ke pasar. 

Industri logistik adalah titik di mana harga minyak dunia bertemu dengan ekonomi riil masyarakat, dan itulah mengapa ketika Selat Hormuz terganggu dan Brent crude mulai bergerak naik, sektor logistik adalah bagian yang paling cepat menghitung ulang kalkulasinya.

Konflik AS-Israel-Iran telah mendorong harga minyak WTI ke 67 dolar AS dan Brent ke 72,8 dolar AS pada Sabtu (28/2). Sehari kemudian, angka itu meningkat seiring kapal-kapal tanker yang mulai menghindari Selat Hormuz. Pasar sudah bergerak. Yang kini sedang dikalkulasi industri logistik adalah seberapa jauh pergerakan itu akan menjalar ke dalam biaya operasional mereka.

Solar: Komponen yang Tidak Bisa Dinegosiasikan

Di balik setiap pengiriman barang di Indonesia, ada satu komponen biaya yang tidak bisa disubstitusi dalam jangka pendek: solar. Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyebut solar sebagai komponen utama biaya operasional transportasi jalan, yang hingga kini menjadi tulang punggung sistem logistik nasional.

Angkanya konkret. Komponen BBM menyumbang 35 hingga 40% dari total biaya operasional truk. Dengan proporsi sebesar itu, transmisi dari harga minyak global ke ongkos angkut domestik berjalan sangat langsung. Dalam skenario moderat di mana harga minyak global naik USD 25 per barel, harga keekonomian solar berpotensi naik Rp750 hingga Rp2.000 per liter tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga, kata Setijadi dalam keterangannya pada Minggu (1/3/2026).

Skenario yang lebih berat sudah turut dikalkulasi. Kenaikan harga minyak global hingga USD 50 per barel akan menekan biaya distribusi secara lebih signifikan. Dengan asumsi komponen BBM di kisaran 35 hingga 40% dari biaya operasi truk, kenaikan solar 10% mendorong ongkos angkut naik 3,5 hingga 4%. Solar naik 20%, ongkos truk naik 7 hingga 8%. Dan dalam skenario berat di mana solar naik 30%, lonjakan ongkos angkut bisa mencapai 10,5 hingga 12%. Ini adalah kalkulasi yang sudah dilakukan industri berdasarkan struktur biaya yang sudah ada.

Dari Harga Minyak Global ke Harga Barang di Pasar

Transmisi dari harga minyak ke harga barang konsumsi bekerja melalui beberapa lapisan. Rata-rata biaya logistik nasional saat ini berada di kisaran 14% dari harga produk, dengan sekitar separuhnya berasal dari transportasi jalan. Ketika ongkos truk naik 7 hingga 8%, harga barang rata-rata berpotensi terdorong sekitar 0,5%. Dalam kondisi lebih ekstrem di mana ongkos truk naik di atas 10%, kenaikan harga barang bisa mendekati 0,8%.

Komoditas berbobot besar dan bermargin tipis seperti pangan, bahan bangunan, produk konsumsi harian akan menanggung proporsi biaya angkut yang jauh lebih besar dibanding produk bernilai tinggi. Kenaikan 0,8% pada harga beras, tepung, atau minyak goreng terasa berbeda bagi konsumen kelas bawah dibanding bagi pembeli produk elektronik.

Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, menyebut gangguan rantai pasok logistik global dipastikan terjadi jika perdamaian tidak segera terwujud di Timur Tengah. “Eskalasi konflik ini langsung memicu kekhawatiran akan gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara. Terlebih, retaliasi Iran saat ini melakukan blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi utama minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai negara,” ujar Yukki dalam keterangan tertulis (1/3/2026).

Struktur Logistik Indonesia yang Menekan Sensitivitas

Indonesia menanggung beban ini dengan struktur logistik yang membuatnya lebih rentan dibanding negara-negara lain. Lebih dari 70% pergerakan barang nasional ditanggung transportasi jalan yang hampir seluruhnya bergantung solar. Angkutan laut dan kereta api yang jauh lebih efisien dalam konsumsi energi per ton-kilometer belum mampu mengambil alih peran dominan transportasi darat karena keterbatasan infrastruktur dan jangkauan.

Biaya logistik Indonesia tercatat 14,29% dari PDB berdasarkan data Bappenas dan BPS per September 2023, angka yang masih jauh di atas rata-rata negara-negara Asia Tenggara yang lebih maju sistem distribusinya. Di atas fondasi yang sudah mahal ini, setiap gejolak harga energi global langsung terasa lebih berat.

Industri berbasis impor bahan baku menghadapi risiko ganda dalam situasi seperti ini, yaitu kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak, sekaligus peningkatan biaya distribusi domestik. Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin yang dimiliki.

Satu hal yang penting  adalah bahwa penyesuaian harga BBM di Indonesia tidak bisa terjadi dalam semalam. Ini menciptakan periode di mana harga minyak global sudah bergerak naik, tapi harga BBM domestik terutama Solar subsidi yang digunakan mayoritas armada truk, belum menyesuaikan. Dalam periode itu, beban selisih harga ditanggung APBN melalui subsidi. Semakin lama dan semakin besar selisihnya, semakin berat tekanan fiskal yang harus ditanggung pemerintah sebelum pada akhirnya kebijakan penyesuaian harga diambil.

SCI menilai situasi saat ini seharusnya mempercepat agenda yang sudah lama dibicarakan tapi lambat dieksekusi yaitu penguatan konektivitas multimoda. Optimalisasi angkutan laut dan kereta api sebagai alternatif transportasi jalan adalah langkah yang bisa menurunkan sensitivitas industri logistik terhadap fluktuasi harga solar secara struktural, bukan sekadar merespons gejolak yang sudah terjadi.

Dari sisi industri, efisiensi rute distribusi, konsolidasi muatan, dan penerapan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik menjadi langkah mitigasi yang semakin mendesak. Tanpa reformasi struktural, kata Setijadi, setiap gejolak eksternal akan langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat.

Hari ini, harga solar subsidi memang belum bergerak. Tapi industri logistik tidak sedang menghitung harga hari ini melainkan sedang mempersiapkan diri untuk harga yang mungkin berlaku beberapa pekan ke depan.

Posted in

Berita Terkait