Rupiah resmi menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Senin, 30 Maret 2026, nilai tukar rupiah tercatat melemah 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp17.002 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp16.980. Kurs JISDOR Bank Indonesia di hari yang sama juga ikut tergelincir ke level Rp16.993 per dolar AS.
Rupiah sudah merangkak mendekati Rp17.000 sejak pertengahan Maret, seiring memanasnya konflik AS-Israel versus Iran yang tak kunjung reda. Level Rp17.000 kini menjadi batas psikologis baru yang diperhatikan pelaku pasar — dan kekhawatiran terbesar adalah apakah rupiah akan terus meluncur lebih dalam.
Pangkal tekanan ini ada di Selat Hormuz. Sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar energi global itu mengalami gangguan serius. Harga minyak dunia melonjak melampaui 100 dolar AS per barel, bahkan sempat menyentuh 112 dolar AS dan menjadi yang tertinggi sejak 2022.
Kenaikan harga minyak menekan ekspektasi inflasi global yang pada gilirannya membuat bank-bank sentral besar termasuk The Fed harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diperkirakan pasar.
Pada Maret 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5-3,75%. Prospek pemangkasan suku bunga yang semula diharapkan 2 kali di 2026 kini tinggal harapan yang jauh.
Ketika dolar AS menguat karena investor global berbondong-bondong ke aset safe haven, mata uang negara berkembang seperti rupiah menanggung beban paling berat. Indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia (DXY) menguat sekitar 2,26% sejak serangan ke Iran dimulai.
Eskalasi terbaru datang dari Houthi di Yaman yang membuka front baru dengan meluncurkan serangan rudal ke Israel pada akhir pekan sebelum rupiah menyentuh Rp17.000.
“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah serangan Houthi. Kelompok ini memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah — dan itu membuat pasar semakin nervous,” kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi.
Di luar faktor geopolitik, pelemahan rupiah juga mengekspos kerentanan struktural yang sudah lama ada. Ekonom Anthony Budiawan dari PEPS mencatat kontradiksi yang perlu diwaspadai yaitu cadangan devisa Indonesia naik dari sekitar 100 miliar dolar AS pada awal 2014 menjadi sekitar 150 miliar dolar AS pada akhir Februari 2026, tapi di periode yang sama rupiah justru melemah dari kisaran Rp12.000 menjadi Rp17.000 per dolar AS.
“Fakta ini mencerminkan bahwa ketahanan nilai tukar selama satu dekade terakhir cenderung ditopang oleh arus masuk modal asing, bukan oleh ukuran cadangan devisa itu sendiri,” ujar Budiawan. Ketika sentimen global memburuk dan capital outflow meningkat, fondasi itu langsung goyah.
Dalam dua bulan pertama 2026 saja, cadangan devisa Indonesia turun sekitar 4,6 miliar dolar AS meski pemerintah sudah menarik utang luar negeri sekitar 7,1 miliar dolar AS di periode yang sama. Angka itu menunjukkan betapa besar tekanan yang sedang diserap oleh cadangan devisa untuk menjaga stabilitas kurs.
Bank Indonesia memang memiliki amunisi untuk melakukan intervensi. Sebagai langkah antisipasi, BI juga mengubah batas maksimum pembelian valuta asing menjadi 50.000 dolar AS per pelaku per bulan, berlaku mulai April 2026. Tapi dengan tekanan yang datang dari berbagai arah sekaligus (harga energi, suku bunga global, dan sentimen geopolitik ruang) manuvernya tidak tak terbatas.
Rupiah di level Rp17.000 bukan sekadar angka di layar monitor. Dampaknya menuju ke berbagai sektor bisnis dan kantong konsumen.
Industri yang bergantung pada bahan baku impor seperti plastik, kimia, elektronik, tekstil akan langsung merasakan kenaikan biaya produksi. Industri plastik nasional bahkan disebut terancam lumpuh karena stok bahan baku yang menipis akibat gangguan pasokan dari konflik Timur Tengah, diperparah oleh rupiah yang melemah.
Harga avtur yang sudah naik akibat lonjakan minyak global kini diperparah oleh pelemahan rupiah, membuat tiket pesawat domestik dan internasional berpotensi ikut naik dalam waktu dekat. Harga BBM non subsidi juga disebut oleh sejumlah ekonom sebagai kenaikan yang tidak terhindarkan sebagai “konsekuensi logis” dari kombinasi harga minyak global dan rupiah yang melemah.
Di sisi lain, eksportir komoditas terutama batu bara, kelapa sawit, dan nikel justru diuntungkan karena pendapatan dolar mereka otomatis lebih besar nilainya ketika dikonversi ke rupiah. Ini menciptakan dinamika yang tidak merata: sebagian sektor diuntungkan, sebagian besar konsumen dirugikan.
Rupiah yang lemah juga mempersulit upaya pemerintah mengendalikan inflasi. Barang-barang impor menjadi lebih mahal, dan jika tekanan ini berlanjut, Bank Indonesia mungkin terpaksa menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas, sebuah pilihan yang bisa menekan pertumbuhan kredit dan investasi domestik di saat yang tidak tepat.
Posted in News