Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin (2/3/2026) menyatakan penutupan total Selat Hormuz. Kapal yang mencoba melintas akan dianggap melanggar dan berisiko diserang.
“Selat Hormuz ditutup. Kapal-kapal yang mencoba melewati akan diserang,” Ebrahim Jabari, senior panglima tertinggi Garda Revolusi, dalam pernyataan yang disiarkan oleh media.
Pengumuman ini merupakan eskalasi paling keras dari rangkaian peringatan yang sudah disampaikan Iran sejak Sabtu (28/2/2026), ketika AS dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke Tehran, Isfahan, dan Qom. Jika sebelumnya Iran hanya memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintas, hari ini pernyataan itu berubah menjadi ancaman serangan langsung.
Selat Hormuz menampung sekitar 20% konsumsi minyak harian dunia, sekitar 20 juta barel per hari.
Hampir 20% bahan bakar jet global dan sekitar 16% bensin serta nafta juga melewati jalur yang sama. Seluruh ekspor LNG Qatar, salah satu pemasok gas terbesar di dunia, tidak memiliki rute lain selain melalui selat ini.
Analis minyak mentah senior Kpler, Muyu Xu, menegaskan kondisi di lapangan sudah berubah. “Telah terjadi penurunan tajam dalam lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Jumlah kapal yang menganggur di kedua sisi (Teluk Oman dan Teluk Persia) telah melonjak karena pemilik kapal semakin khawatir tentang risiko keamanan maritim.”
Ia menambahkan, “Penutupan Selat Hormuz akan mengganggu sekitar seperlima perdagangan minyak global dalam semalam dan harga tidak hanya akan melonjak, tetapi akan meroket tajam hanya karena ketakutan.”
Brent crude diproyeksikan dapat menembus USD 80 hingga USD 100 per barel apabila konflik berlanjut lebih dari dua pekan. Dalam skenario blokade total atau serangan terhadap infrastruktur utama, harga minyak berpotensi melonjak hingga USD 120 per barel.
Kapasitas jalur alternatif hanya mampu menampung sekitar 15% hingga 20% dari volume yang biasa melewati Selat Hormuz, jauh tidak cukup untuk menutup defisit pasokan global jika penutupan ini berlangsung. Pipa darat Arab Saudi dan UEA hanya mampu mengalihkan sekitar 3 juta barel per hari, sementara LNG tidak punya rute darat sama sekali.
Kapal-kapal yang menghindari selat harus memutar melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, menambah 10 hingga 15 hari waktu pelayaran dan biaya bahan bakar yang jauh lebih besar per perjalanan.
BPS melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono dalam telekonferensi Senin (2/3/2026) menyatakan bahwa potensi gangguan perdagangan akibat penutupan Selat Hormuz perlu dikaji lebih lanjut, meski realisasi nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara di kawasan sepanjang 2025 setidaknya bisa dijadikan acuan awal. Impor non-migas Indonesia dari Iran pada 2025 tercatat sebesar USD 8,4 juta.
Di luar angka perdagangan langsung, dampak yang lebih signifikan bagi Indonesia datang dari transmisi harga minyak global ke ekonomi domestik. Solar subsidi saat ini masih di Rp6.800 per liter dan belum disesuaikan. Namun semakin lama selat tertutup dan semakin tinggi harga minyak dunia bergerak, tekanan fiskal terhadap kemampuan pemerintah mempertahankan angka subsidi akan semakin berat.
Posted in News